
Mama Alira dan Papa Fahri bela-belain melangkah ke rumah Faris dalam keadaan hujan deras, dan angin kencang karena menghawatirkan kedua cucu mereka. Dan di saat pintu terbuka, anak juga menantu mereka yang sudah berhadapan dengan mereka begitu sangat terkejut. Dan Melda yang mudah khawatir dengan segala hal langsung bertanya dengan nada sedikit panik.
"Ada apa ini Ma..?" Tanya Melda sambil meraih tangan Mama Alira untuk masuk.
"Mama dan Papa hanya menghawatirkan Alfa dan Riyan. Jadi kami memilih untuk ke sini.
"Astaga Ma,, Pa,, mereka itu bukan anak perempuan yang harus di khawatirkan seperti ini." Ujar Melda sambil melangkah menuju ruang keluarga bersama yang lainnya.
"Iya tapi di luar kan hujannya sangat lebat. Mama takut saja terjadi apa-apa sama mereka." Ujar Mama Alira.
"Ma,,, Pa,,, yang kalian harus pikirkan itu kesehatan kalian. Masa di jam segini kalian bisa keluar, apalagi di luar sana hujan deras seperti itu." Sambung Faris dengan tampang kesalnya.
Faris dan Melda bersikap seperti itu karena mereka sangat menghawatirkan kesehatan kedua orang tua mereka. Apalagi mereka sangat trauma dengan kejadian beberapa tahun lalu, yang telah menghilangkan nyawa Opa Indra, Oma Rita juga kedua orang tua Melda. Papa Fahri dan Mama Alira juga mengerti sikap kedua anak mereka itu. Jadi mereka hanya menerima apapun yang mereka katakan.
Sedangkan Reza dan Aleta hanya terdiam. Mereka juga sangat menghawatirkan kesehatan kedua mertua mereka itu. Tapi mereka memilih untuk tidak bersuara. Dan di saat Melda dan Faris sedang marah dengan apa yang di lakukan oleh Papa Fahri, dan Mama Alira yang mereka anggap ceroboh, tiba-tiba Almira dan suaminya muncul dengan wajah yang sangat panik.
"Astaga Ma,, Pa,, aku hampir serangan jantung karena menghawatirkan kalian." Ujar Almira di saat melihat kedua orang tuanya.
"Almira,, kamu juga kalau tidur jangan kaya orang pingsan. Masa Mama dan Papa keluar rumah di tengah malam seperti ini kamu ngga tahu?" Ujar Melda memarahi Almira.
"Aku minta maaf Mba. Aku kan tidur di lantai atas, jadi ngga tahu." Ujar Melda merasa bersalah.
"Kenapa sih Ma kalian keluar di jam segini? Belum lagi di luar sana hujan. Aku kan jadi kena marah Mba Melda" Ujar Almira sambil menatap Mama Alira.
__ADS_1
"Mama sama Papa tu khawatir sama Alfa dan Riyan, di saat Mas Faris kasih tahu kalau mereka sedang dalam perjalanan ke sini." Jawab Mama Alira. Sedangkan Papa Fahri hanya terdiam sambil meminum kopi yang baru saja di bawa, oleh salah seorang Bibi yang bekerja di rumah Faris.
"Kenapa Mas hubungi Mama sama Papa di jam segini? Apalagi kasih tahu sesuatu yang membuat mereka khawatir." Serang Melda dan Almira secara bersamaan kepada Faris.
"Abisnya Mama nanya. Jadi aku harus berbohong? Kalian kan tahu kalau aku ngga bisa berbohong." Jawab Faris santai.
"Mama ni memang mau tahu semua." Ujar Almira serentak. Dan di saat Melda juga mau bersuara, datang penjaga di depan dan memberitahukan kalau Alfa dan Riyan sudah tiba.
"Maaf Tuan,, Nyonya,, Mas Alfa sama Mas Riyan sudah sampai." Perkataan Pak Alif penjaga di depan rumah yang membuat Mama Alira dan Papa Fahri langsung berdiri, dan meninggalkan anak-anak mereka tanpa berkata apa-apa.
Melihat tingkah orang tua mereka, Faris, Melda, Almira dan yang lainnya jadi bingung. Karena Mama Alira dan Papa Fahri selalu menghawatirkan keselamatan anak dan cucu mereka dari pada diri sendiri. Tapi mereka juga sangat bersyukur memiliki orang tua seperti itu, yang punya segudang kasih sayang terhadap keluarga. Dan tanpa berkata-kata mereka pun langsung melangkah keluar, menyusul Mama Alira dan Papa Fahri untuk melihat Alfa dan Riyan yang baru saja tiba dari luar kota.
Sampainya di luar, mereka semakin bingung bercampur haru melihat Mama Alira yang sudah memeluk Alfa, juga Riyan secara bergantian sambil menangis.
"Oma kenapa nangis? Kita kan baik-baik saja." Ujar Riyan sambil menghapus air mata Mama Alira.
"Iya Oma,, kita ini kan jagoan Oma dan Opa, jadi ngga usah khawatir sama kita." Sambung Alfa. Melihat pemandangan di depannya, Fara yang baru saja keluar dari dalam rumah, jadi bingung dan bertanya kepada Tantenya.
"Oma kenapa sih Tan?" Tanya Fara kepada Almira.
"Oma kamu terlalu cemas memikirkan Mas kamu juga suami kamu yang berangkat dari luar kota di jam segini." Jawab Almira sambil tersenyum karena merasa lucu dengan tingkah Mamanya.
"Astaga Oma,, tidak ada yang bisa mencelakai mereka, malah mereka yang akan mencelakai orang. Apalagi Mas Alfa, dia kan anak Papa." Sambung Fara yang membuat semua yang ada di situ langsung tersenyum sambil menatap Faris. Sedangkan orang yang di tatap hanya terdiam dengan tampang datarnya.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan Fara, Riyan langsung masuk sambil di gandeng Omanya. Dia sedikit mengambil jarak dengan Fara, biar situasinya selama di luar kota tidak di singgung oleh Alfa. Dan Alfa yang sangat mengerti posisi Riyan sebagai sesama laki-laki, hanya bersikap cuek sambil memeluk Mamanya melangkah memasuki rumah.
Sampainya di dalam rumah, mereka semua langsung duduk di ruang keluarga. Mereka duduk menghabiskan beberapa jam menjelang siang untuk membahas segala aktivitas mereka di luar kota. Dan Alfa yang memang suka menjahili Fara adiknya, langsung berinisiatif untuk menguji kemarahan Fara dengan mengarang cerita, kalau ada salah satu klien bisnisnya di luar kota berusaha untuk mendekati Riya.
"Tante,, di luar kota Riyan tu mengalahkan aku di depan salah seorang klien perempuan aku, yang sangat cantik juga seksi." Ujar Alfa yang membuat semuanya seketika terdiam, dan menatatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan terutama Fara dan Riyan.
"Maksud kamu Riyan tebar pesona di luar kota sama klien kamu?" Tanya Melda dengan tatapan yang sangat tajam.
"Dia sih ngga tebar pesona, tapi ada seorang klien aku sangat cantik dan seksi yang tebar pesona sama dia." Jawaban Alfa yang membuat Fara mulai berekspresi aneh. Sedangkan Riyan dia sangat bingung mendengar apa yang di katakan oleh Riyan.
"Ngga apa-apa, kan wanitanya yang tebar pesona bukan Riyan." Sambung Faris yang membuat Fara langsung membuka suara.
"Lo ko ngga apa-apa sih Pa? Biar laki-laki sebeku dan secuek apapun, pasti akan mencair juga kalau terus di goda." Sambung Fara dengan tampang cemberutnya.
"Iya sama kaya kamu. Yang selalu menggoda Riyan sampai-sampai Riyan,," kata-kata Alfa langsung terputus karena langsung di potong oleh Riyan.
"Mas,, kamu ngga tidur lagi? Besok pagi kan mau berangkat." Tanya Riyan sengaja memotong kata-kata Alfa.
"Aku ngga ngantuk lagi. Kamu saja yang tidur!" Ujar Riyan sambil tersenyum karena menyadari situasi yang ada.
Sedangkan Fara yang merasa tidak tenang dengan apa yang di katakan oleh Alfa, ingin sekali bertanya lebih jelas. Tapi dia sudah tidak mendapatkan kesempatan untuk bersuara. Karena Alfa sudah sibuk membahas pekerjaan dengan yang lainnya. Akhirnya Fara hanya bisa melirik Riyan penuh curiga tanpa bersuara.
Alfa sangat yakin kalau apa yang dia katakan tadi berhasil mempengaruhi adiknya, juga membingungkan Riyan. Karena semua itu hanyalah karangan yang dia buat untuk memanas-manasi Fara.
__ADS_1