
Kabut air mata yang seketika memenuhi kelopak mata Fara, menetes tanpa bisa untuk di tahan. Apa yang menjadi ketakutannya telah terjadi tepat di depan matanya. Kesakitan hati Fara membuatnya sampai tidak bisa berkata-kata melangkah tanpa arah. Hanya air mata yang bisa dia teteskan, sebagai tanda betapa hancur perasaannya saat itu.
Kebahagiaan yang baru di rasakan Fara hilang sekejap, karena sangat terpukul dengan apa yang di lakukan Riyan bersama Rena di dalam ruang kerjanya tadi. Luka yang dulu pernah dia rasakan, kembali mengguncangkan hati dan pikirannya. Sayatan hati yang sudah tertutup dengan kebahagiaan sesaat, kini kembali berdarah yang menimbulkan kepedihan yang begitu menyiksa.
"Mas,, mengapa kau melakukan ini? Apakah ini sebuah kejutan yang telah kau persiapkan? Apa semua yang telah terjadi selama beberapa hari ini hanyalah sandiwara mu?" Fara bertanya-tanya setelah dia sudah berada di samping jalan.
Fara menangis tanpa memperdulikan semua orang yang berada di sekelilingnya. Tapi tiba-tiba, ada uluran tangan seseorang yang memberikan tisu untuknya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya seorang laki-laki bermata biru muda, dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Aku baik-baik saja." Jawab Fara tanpa menatap laki-laki yang berada tepat di sampingnya.
"Tapi aku lihat kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Hidup ini berat Nona. Dan kita sebagai manusia harus kuat menghadapinya." Ujar laki-laki itu sambil terus mengulurkan tangannya, yang terdapat beberapa lembar tisu.
"Terima kasih Tuan. Tapi aku tidak membutuhkan tisu." Ujar Fara menolak pemberian tisu dari laki-laki itu.
"Kalau kamu tidak membutuhkan tisu, mungkin kamu membutuhkan dadaku untuk bersandar?" Tanya laki-laki itu dengan begitu santainya.
"Apa-apaan sih..?" Tanya Fara kesal sambil menatap laki-laki yang sedang tersenyum, di sampingnya dengan tampang datarnya.
__ADS_1
"Saya hanya menawarkan apa yang saya punya tanpa ada tujuan buruk. Saya bukan orang jahat Nona. Saya hanya tidak tega melihat wanita cantik seperti anda, menangis di pinggir jalan." Jawab laki-laki itu sambil menatap Fara dengan senyum yang sangat ramah.
"Terima kasih." Jawab Fara dengan menggunakan bahasa Indonesia, sambil menerima pemberian tisu dari laki-laki bermata biru muda itu.
"Sama-sama." Jawab laki-laki itu dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang membuat Fara langsung menatapnya bingung sambil bertanya.
"Apa anda bisa berbahasa Indonesia..?" Tanya Fara kaget bercampur bingung.
"Ibu saya asli Indonesia. Dia dulu menjadi TKW di negara ini. Dan akhirnya dia bertemu dengan jodohnya warga negara Amerika. Yang tidak lain adalah Ayahku." Jelas laki-laki itu.
"O ya..? Aku juga warga negara Indonesia." Jawab Fara sambil menghapus air matanya, dengan tisu yang di berikan laki-laki itu.
"Nama saya Fara." Jawab Fara yang masih bersikap dingin.
"Saya Mario. Nama kamu begitu indah seindah wajahmu." Ujar Mario memuji kecantikan Fara.
"Aku tidak butuh pujian." Ujar Fara tanpa mau menatap Mario.
"Kamu memang pantas mendapatkan pujian. Anda begitu sempurna menjadi seorang wanita." Ujar Mario sambil terus menatap Fara.
__ADS_1
"Terima kasih atas pujiannya." Ujar Fara sambil menatap Mario sesaat.
Mendengar kata pujian dari seorang laki-laki asing yang baru dia kenali, membuat Fara kembali bersedih. Karena kata-kata itu tidak pernah terlontar dari mulut suaminya. Sambil menatap lurus ke depan, Fara pun mulai bergumam di dalam hatinya.
"Mengapa semua kata-kata pujian itu harus aku dengar dari mulut laki-laki lain, di saat kau memberiku luka Mas..? Sekalipun tidak pernah kau ucapkan semua itu. Apa pujian untukku adalah sesuatu yang begitu sulit? Atau karena kamu tidak pernah berniat untuk memuji kecantikan aku sebagai istrimu?"
Fara bertanya-tanya di dalam hatinya dengan tatapan yang terlihat begitu kosong. Ekspresi Fara di saat itu, semakin membuat Mario yang sedang memperhatikannya sangat tidak tega. Dan kembali membuka suara.
"Nona,, kalau kamu mau kita bisa ke rumahku. Rumahku berada tidak jauh dari sini. Dan aku akan memperkenalkan dirimu dengan Ibuku." Ujar Mario sambil menatap Fara yang sudah kembali bercucuran air matanya.
"Aku tidak ingin merepotkan dirimu. Apalagi kita belum saling kenal." Jawab Fara sambil menatap Mario.
"Mungkin kita bel saling mengenal. Tapi lebih aman apabila kamu pergi bersamaku. Di sini tidak aman untuk kamu berada sendirian. Apalagi sebentar lagi akan turun hujan." Ujar Mario yang membuat Fara langsung terdiam.
Fara yang merasa sedikit ragu dengan ajakan Mario, berusaha mencari kejujuran dalam bola mata biru yang sedang mengarah padanya. Dan di sana dia melihat ketulusan seorang laki-laki terdapat pada kedua bola matanya. Karena dia juga tidak ingin kembali ke Kampus apalagi ke rumah, Fara pun akhirnya menerima ajakan Mario tanpa berpikir dua kali.
"Aku akan ikut denganmu. Karena aku juga ingin bertemu dengan Ibumu yang berasal dari negara yang sama denganku." Ujar Fara.
"Ya sudah,, kalau gitu kita bisa langsung pergi ke rumahku. Rumah aku sudah dekat ko." Sambung laki-laki itu tanpa menunggu lama.
__ADS_1
Sambil melangkah menyusuri emperan jalan bersama Mario, Fara kembali teringat dengan apa yang baru saja di hadapinya. Rasa sakit di dalam hatinya terhadap Riyan, membuat dia tidak ingin melihat wajah suaminya itu. Karena dia belum siap untuk mendengar semua penjelasan Riyan dengan apa yang terjadi tadi antara dia dan Rena.