
Alfa duduk sendirian di pekarangan RS tidak ingin berdiri walau waktu sudah menunjukkan pukul 8:30 malam. Dia hanya terdiam sambil memikirkan kata-kata Tantenya tadi. Tapi tidak lama dia langsung berdiri dan buru-buru melangkah masuk setelah mendapat pesan singkat dari Mamanya. Kalau Riyan sudah sadarkan diri setelah mendapatkan donor.
"Ma.. Bagaimana keadaan Riyan?" Tanya Alfa setelah berada di dekat Mamanya yang sedang mengobrol dengan salah satu Dr yang menangani Riyan.
"Dia sudah siuman sayang. Keadaannya sudah lebih baik setelah menerima donor darah dari Om Reza." Jawab Aleta.
"Syukurlah. Terus Papa sama yang lain ada di mana Ma?" Tanya Alfa karena tidak melihat keberadaan yang yang lain.
"Mereka semua ada di dalam. Mama juga baru mau masuk. Ayo kita masuk!" Ujar Aleta sambil menarik tangan Alfa.
Sampainya di dalam, Alfa dan Aleta langsung mematung di saat melihat Fara yang sedang menangis sambil memeluk Riyan yang hanya terbaring lemas tak berdaya di atas tempat tidur. Semua yang melihat keadaan Fara dan Riyan merasa sangat terharu. Karena mereka semua tahu bagaimana kisah Fara dan Riyan, yang menikah sesama saudara. Dalam keluarga Permana, memang perjodohan sudah menjadi tradisi. Tapi pernikahan sesama saudara, baru terjadi pada Riyan dan Fara saja.
"Sayang,, Riyan tu masih lemas. Kamu jangan menindihnya seperti itu!" Ujar Aleta sambil mengangkat kepala Fara dari atas dada Riyan.
__ADS_1
"Ngga apa-apa Ma. Biarin saja dia seperti itu!" Ujar Riyan dengan suara yang terdengar begitu lemas.
"Mas,, aku yakin pasti ada yang mencoba mencelakaimu. Karena kata Dr, dari hasil pemeriksaan terdapat sesuatu yang aneh di dalam darahmu. Semacam obat bius." Ujar Fara dengan bercucuran air mata.
Mendengar apa yang di katakan oleh Fara, Faris seketika jadi berekspresi aneh. Namun dia berusaha untuk tetap tenang, karena tidak ingin membuat Riyan terbebani dengan pertanyaan Fara. Namun Fara yang begitu yakin dengan apa yang ada di dalam pikirannya, semakin ngotot ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya di saat kecelakaan itu.
"Mas,, apa malam itu kamu mabuk?" Tanya Fara sambil menatap wajah pucat suaminya.
Sebenarnya Riyan ingin sekali mengatakan yang sebenarnya kepada Fara buar Fara tidak menuduhnya macam-macam. Tapi dia juga tidak ingin melibatkan Papa mertuanya, yang dia sendiri sudah tahu watak juga sikapnya. Riyan tidak ingin ada yang menjadi korban dengan kemarahan Papa mertuanya. Walaupun sudah sepantasnya mereka menerima hukuman atas apa yang sudah mereka perbuat. Riyan tidak ingin mengorbankan keselamatan sahabatnya sendiri apabila Papa mertuanya menyelidik kasus kecelakaan itu.
"Riyan,, benar kamu ngga minum malam itu?" Tanya Melda yang sudah mulai penasaran dengan pembicaraan antara Fara dan Riyan.
"Aku ngga minum Bu. Aku sudah lama tidak mengkonsumsi alkohol." Jawab Riyan.
__ADS_1
"Tapi mengapa Dr bisa mengatakan hal itu?" Tanya Alfa dengan tampang sedikit bingung.
"Aku juga ngga tahu Mas. Mungkin ada yang salah dengan pemeriksaan." Jawab Riyan tetap berusaha menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya terjadi.
"Loh,, Papa kemana Ma?" Tanya Fara yang membuat beberapa orang yang ada di sekeliling Riyan jadi kaget dan kebingungan, karena tidak menyadari kepergian Faris dari dalam ruangan itu.
"Tadi kan ada di belakang Mama." Jawab Aleta sambil menatap ke arah belakang.
"Mungkin Papa lagi ke toilet." Sambung Alfa.
"Iya sayang,, mungkin Papa kamu lagi ke toilet, kalau ngga lagi keluar cari udara segar." Sambung Aleta membenarkan perkataan Alfa.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Alfa dan Aleta, Riyan yang tadinya sudah sedikit menegang, langsung menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Riyan tadinya sempat berpikir kalau Omnya yang terkenal bringas itu, sudah turun tangan untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang dia alami. Tapi dengan segera dia langsung membuang pemikiran itu jauh-jauh dari dalam pikirannya, setelah mendengar jawaban Mama mertua juga kakak iparnya.
__ADS_1