Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 209. Bukan Orang Biasa.


__ADS_3

Kedatangan Riyan bersama Arsen di rumah mega itu, di sambut oleh seorang laki-laki yang hanya duduk di kursi roda. Namun laki-laki tersebut tetap membelakangi pintu. Walau Riyan sudah berada di belakangnya dengan membawa Arsen dalam gendongannya. Melihat sikap acuh laki-laki di depan mereka perasaan Riyan mulai tidak tenang. Dia takut akan masuk lagi ke sebuah perangkap baru.


"Tuan,, mereka sudah ada." Ujar laki-laki yang datang bersama Riyan juga Arsen.


Tatapan Riyan mulai menatap ke sana kemari melihat situasi di dalam rumah mega itu. Pelukannya terhadap tubuh mungil Arsen semakin kencang. Sampai-sampai Arsen yang tadinya sedang terlelap tiba-tiba terbangun.


"Om,, kita di mana?" Suara Arsen yang terdengar parau mungkin karena pengaruh rasa kantuknya.


Mendengar suara si kecil Arsen, laki-laki yang hanya terdiam di atas kursi roda menghadap dinding. Segera berbalik dan mendorong kursi rodanya menuju Riyan dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya.


"Anton..." Dengan suara bergetar laki-laki itu menyebut nama Anton.


Keraguan dan kecemasan yang sudah meresahkan hati Riyan. Dengan seketika hilang setelah mendengar nama yang di sebut laki-laki itu. Ketulusan seorang saudara terlihat jelas di raut wajahnya yang menggambarkan kesedihan. Air mata laki-laki itu meluncur semakin deras. Saat dia menyentuh kaki Arsen yang hanya terdiam dengan tampang kebingungan di dalam gendongan Riyan.


"Tuan,, apakah ini putra Anton Aefar ?" Tanya laki-laki itu sambil menjulurkan kedua tangannya kepada Arsen.


"Iya Tuan. Ini putra Anton Aefar." Jawab Riyan tanpa menunggu lama.


Sebutan lengkap nama Anton semakin meyakinkan Riyan, kalau laki-laki di hadapannya itu ada hubungannya dengan Anton. Karena nama yang ada di belakang Anton tidak di ketahui banyak orang. Riyan saja baru tahu nama itu tepat di hari kepergian Anton. Dari data yang ada di kartu identitasnya.


"Sini sayang. Ini paman. Paman sudah menunggu kedatangan mu sejak kemarin." Ucap laki-laki cacat itu sambil mendekap tubuh mungil Arsen. Setelah turun dari gendongan Riyan.

__ADS_1


"Ayo kita ke ruang keluarga. Lebih nyaman kita mengobrol di sana." Ajak Pamannya Arsen sambil mengangkat Arsen, untuk duduk di atas pangkuannya.


Riyan yang hanya mengikuti dari arah belakang semakin tercengang. Melihat perlakuan orang-orang di dalam rumah besar nan mewah itu terhadap laki-laki cacat tersebut. Selain memiliki rumah, penjagaan dan pelayanan semua orang terhadapnya sungguh luar biasa.


'Keluarga Anton bukan orang sembarangan. Tapi mengapa Anton tidak pernah cerita tentang keluarganya?' Batin Riyan.


Banyak pertanyaan mulai berputar-putar dalam pikiran Riyan. Tentang sosok Anton juga keluarganya yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Sikap Anton yang sederhana dan hidup serba kekurangan. Membuat siapa saja tidak akan percaya kalau dia dari keluarga kaya.


"Siapa nama anda Tuan?" Tanya laki-laki cacat itu setelah berada di ruangan khusus bersama Riyan juga Arsen.


"Saya Riyan Tuan. Saya sahabat baik Anton. Anton sudah mengorbankan dirinya demi ingin menemukan Arsen. Tapi belum sempat mereka bertemu. Dia sudah pergi meninggalkan dunia ini." Jawab Riyan.


"Saya Daniel Aefar. Putra Alberto Aefar. Anton adalah adik saya satu-satunya. Tapi Anton di bawa pergi Ibu saya kembali ke Indonesia. Di saat Ibu dan Ayah berpisah. Dan saya yang hidup bersama Ayah." Jelas Daniel. Laki-laki cacat yang kira-kira berusia 45 tahun.


"Jujur saya sangat bingung melihat semua ini. Karena yang saya ketahui, Anton itu orang bisa yang hidup serba kekurangan. Tidak seperti Tuan. Dan dia juga tidak pernah bercerita tentang keluarganya. Setahu saya Ibunya sudah meninggal." Ucap Riyan yang membuat Daniel kembali bercucuran air mata.


"Saya tahu tentang kepergian Ibu. Karena mendengar kabar Ibu, Ayah saya akhirnya drop dan tidak lama menyusul Ibu. Sekarang tinggal saya sendiri. Saya tidak punya siapa-siapa selain keponakan saya ini."


"Memangnya keluarga Tuan di mana?" Tanya Riyan dengan tatapan serius.


"Keluarga saya di bantai semuanya oleh keluarga saudara Ayah yang ingin menguasai semua harta kekayaan Ayah. Dan orang itu adalah orang yang hampir saja menjebak anda. Hanya saya yang selamat dari pembantaian malam itu. Namun keadaan saya sudah seperti yang anda lihat.

__ADS_1


"Untung saja orang suruhan saya yang bekerja di rumah mereka cepat memberikan informasi. Kalau tidak mereka akan menjadikan Arsen sebagai ancaman buat saya. Karena selama ini mereka tidak mampu untuk melawan saya dengan cara apapun." Jelas Daniel.


"Saya juga bersyukur dengan bantuan wanita itu Pak. Dia sudah menyelamatkan saya dan Arsen tanpa ada yang tahu."


"Tidak akan ada yang bisa menebak rencana saya. Mereka tidak bisa melawan seorang Daniel Aefar walaupun dalam keadaan seperti ini. Kedepannya,, saya akan menjadikan Arsen laki-laki tangguh dan tidak terkalahkan seperti namanya. Arsen Aefar." Ujar Daniel dengan tampang yang terlihat mengerikan.


"Saya akan merawatnya dengan baik. Karena dialah yang akan menggantikan saya. Untuk menjaga usaha mutiara milik keluarga saya." Ujar Daniel sambil memeluk erat tubuh Arsen.


"Syukurlah Tuan kalau seperti itu. Mendengar ucapan Tuan, saya sangat lega karena bisa kembali ke Indonesia dengan tenang."


"Kapan rencana anda kembali ke Indonesia? Saya harus mengurus semuanya. Karena anda sekarang dalam situasi sulit. Keberadaan anda pasti akan di lacak." Tanya Daniel.


"Kalau bisa secepatnya Tuan." Jawab Riyan segera.


"Kalau anda bersedia. Anda bisa berangkat pagi ini juga. Biar mereka tidak bisa menemukan jejak anda."


"Kalau bisa saat ini juga Tuan. Karena saya juga tidak bisa berada lama-lama di sini. Istri saya sedang mengandung. Dan dia sedang menunggu kepulangan saya."


"Bukannya saya ingin menghambat perjalanan anda Pak Riyan. Tapi coba anda lihat keadaannya." Ujar Daniel yang sudah menyadari ekspresi Arsen.


Riyan yang berencana ingin berangkat saat itu juga menggunakan penerbangan pertama, terpaksa memundurkan waktu keberangkatan setelah melihat keadaan Arsen. Dia tidak tega langsung pergi tanpa berbicara dengan Arsen terlebih dulu. Apalagi terlihat dari pancaran kedua mata Arsen. Menunjukan betapa dia begitu sedih mendengar pembicaraan antara Riyan dan Daniel pamannya.

__ADS_1


"Besok pagi saja saya berangkatnya. Saya ingin beristirahat sebentar dengan Arsen." Ujar Riyan yang membuat Arsen langsung berbalik menatap Pamannya.


"Menurut saya itu lebih baik. Biar Arsen bisa main-main sebentar sama Om Riyan. Iya kan nak?" Ucap Daniel sambil tersenyum menatap Arsen yang masih berada di pangkuannya.


__ADS_2