
Sudah beberapa jam mengelilingi jalan raya, belum juga ada petunjuk tentang keberadaan Fara. Faris yang sejak tadi berusaha untuk tetap tenang, mulai gelisah karena sebentar lagi siang akan datang. Faris benar-benar bingung dengan sosok yang berani menculik putrinya itu. Sebab tidak ada satu orangpun yang mengetahui siapa dia termasuk Anton.
"Anton,, kamu bilang putramu di culik oleh orang yang menculik putriku. Dan kamu sama sekali tidak tahu siapa orangnya. Tapi bagaimana mungkin kamu bisa berkomunikasi dengannya seperti ini?" Tanya Faris yang sudah mulai terlihat gelisah.
"Om,, sebenarnya putraku bukan di culik. Tapi dia di jual oleh kakak dari wanita yang telah melahirkan putraku." Jawab Anton yang membuat Faris, Riyan, juga Reza langsung menatapnya dengan kening berkerut.
"Tolong berbicaralah sesuai dengan kenyataan yang terjadi! Kalau memang anak kamu itu di jual sama pamannya sendiri, berarti kamu tahu di mana orang yang sudah menjual anakmu? Hanya dia satu-satunya orang yang tahu di mana letak rumah laki-laki itu." Tanya Riyan dengan tatapan mencari tahu.
"Laki-laki itu sudah meninggal dua bulan yang lalu. Dia terkena kanker paru-paru. Tapi sebelum meninggal, dia memberitahukan aku tentang putraku yang sudah dia jual. Tapi dia belum sempat memberitahukan siapa orangnya. Dia hanya memberikan nomor telepon orang itu tanpa nama." Jelas Anton.
"Bagaimana Ris?" Tanya Reza yang sudah mulai bingung dengan cerita Anton.
"Dengarkan saja! Benar dan tidaknya nanti akan kita ketahui." Jawaban Faris yang membuat Anton kembali menunduk.
Apa yang di bicarakan oleh Anton tentang putranya, memang tidak bisa di percaya begitu saja oleh orang lain. Karena hanya dalam beberapa jam saja, cerita tentang putranya yang tadinya di culik malah berubah. Sikapnya yang tidak pasti membuat Riyan yang mulai luluh melihat keadaannya, seketika kembali geram. Namun Riyan sama sekali tidak ingin berbicara banyak, dengan semua beban yang sedang dia pikirkan sejak tadi.
"Ris,, kemana lagi kita harus mencari Fara? Sebenarnya siapa orang yang sudah tega menculik wanita hamil seperti Fara. Apa alasan dia melakukan semua ini?" Tanya Reza.
"Kemanapun aku akan tetap berusaha menemukan orang itu. Dia harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya." Jawab Faris dengan ekspresi wajah yang sangat menakutkan.
Riyan yang sudah tersandar lesu di sandaran kursi mobil, tiba-tiba teringat dengan apartemennya, di saat melihat waktu menunjukkan pukul 3:45 dini hari waktu Amerika. Dengan perlahan dia pun segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, dan membuka rekaman cctv yang dia pasang di setiap sudut luar dan dalam apartemen.
__ADS_1
Ekspresi juga posisi Riyan tetap sama. Dia hanya tersandar di sandaran kursi, dengan raut wajah lemas mungkin karena pengaruh lapar, juga kecapean karena belum sempat beristirahat. Namun tidak lama melihat rekaman cctv di apartemen dari layar ponselnya, tiba-tiba dia pun terkejut dengan raut wajah yang terlihat sangat aneh.
"Ada apa Yan? Apa ada informasi tentang Fara atau orang yang menculiknya?" Tanya Anton yang ikut kaget dengan gerakan Riyan. Namun Riyan sama sekali tidak menjawab.
"Yan,, apa yang terjadi?" Tanya Reza setelah mendengar suara Anton.
"Om,, coba lihat ini!" Seru Riyan sambil memberikan ponselnya kepada Faris.
"Kita harus balik sekarang!" Seru Faris tanpa menunggu lama.
"Balik ke hotel tadi? Memangnya apa yang terjadi di sana?" Tanya Reza yang belum tahu apapun.
"Coba lihat ini!" Seru Faris sambil menunjukkan apa yang ada di layar ponsel Riyan kepada Reza.
Mereka semua terlihat tidak sabar ingin segera tiba di apartemen. Hanya Anton saja yang masih kebingungan karena tidak tahu dengan apa yang di tunjukkan Riyan tadi. Riyan yang sangat penasaran dengan laki-laki di dalam rekaman cctv, kembali mengeluarkan ponselnya dan melihat kembali rekaman itu. Tapi kali ini apa yang dia lihat malah membuatnya semakin terpukul. Karena yang dia lihat adalah rekaman cctv di bagian gudang. Dan di depan gudang itu, sekilas terlihat sepasang sepatu yang di kenakan Fara sebelum dia menghilang.
Riyan benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat. Namun dia yakin sepasang sepatu itu milik Fara. Riyan sendiri sangat bingung dengan adanya sepatu Fara di depan gudang tepat di samping garasi mobil.
"Om,, coba lihat ini!" Seru Riyan dengan nafas yang mulai tidak teratur, saking terkejutnya melihat sepasang sepatu Fara.
"Apa ini milik Fara?" Tanya Faris dengan mata tetap fokus pada layar ponsel Riyan.
__ADS_1
"Iya Om. Dan sepasang sepatu itu yang dia kenakan sebelum dia di culik." Jawab Riyan yang membuat Faris langsung menatap tajam ke arah depan sambil berujar.
"Kita mencari Fara sudah terlalu jauh. Tapi aku akui keberanian orang itu." Ujar Faris dengan senyum sinis yang terpancar dari wajahnya.
"Maksud kamu apa Ris?" Tanya Reza yang juga sedang menatap layar ponsel Riyan.
"Yang menculik Fara berada di sekeliling Riyan. Hanya Riyan saja yang tidak menyadarinya. Orang ini cukup cerdas juga bernyali besar." Jawab Faris yang membuat Riyan jadi bingung.
"Apa yang Om bicarakan?" Tanya Riyan dengan tatapan mencari tahu.
"Siapa orang yang kamu curigai di rumahmu?" Tanya Faris.
"Tidak ada yang aku curigai Om. Semua orang yang bekerja di sana adalah orang baik." Jawab Riyan polos.
"Kebaikan seseorang tidak bisa di ukur dari sikap juga tutur bahasanya. Justru orang yang bersikap baik juga bertutur kata sopan, merekalah orang-orang munafik yang menyimpan banyak kejahatan." Jelas Faris yang sudah memiliki banyak pengalaman hidup.
"Coba kamu ingat-ingat lagi! Siapa yang bersikap aneh beberapa hari ini?" Sambung Reza mencoba membantu Riyan untuk berpikir.
"Apakah ada orang baru yang berada di sana?" Tanya Faris yang membuat Riyan langsung menatapnya, dengan mata terbuka lebar tanpa bisa berkata-kata.
"Ada apa Riyan..? Apa yang kamu ingat..?" Tanya Reza yang merasa sangat penasaran, dengan orang berpakaian hitam dalam rekaman cctv.
__ADS_1
"Supir pribadi Fara,, dialah orangnya. Tapi siapa dia sebenarnya? Mengapa dia melakukan semua itu? padahal dia tahu kalau Fara sedang mengandung." Jawab Riyan yang membuat Faris dan Reza langsung menatap satu sama lain, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.