
Semilir angin yang bertiup di pagi buta, membuat Riyan semakin mempererat dekapannya di tubuh langsing yang terbaring di sampingnya. Namun apa yang di lakukan Riyan, malah membuat Fara seketika merasa gerah dan membuka matanya perlahan-lahan. Tanpa bersuara, Fara melepaskan tangan Riyan dari perutnya dan segera beranjak turun menuju kamar mandi, setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 5:25 pagi.
"Mau kemana kamu?" Tanya Riyan dengan suara yang terdengar begitu berat, sambil menatap Fara dengan membuka matanya, yang terlihat sangat di paksakan karena masih mengantuk.
"Aku mau buang air kecil." Jawab Fara sambil mengikat rambutnya, dan langsung melangkah memasuki kamar mandi.
Sampainya di dalam kamar mandi, Fara langsung memutuskan untuk mandi setelah selesai buang air kecil. Sedangkan Riyan yang masih betah berada di atas tempat tidur, kembali memejamkan matanya dan terlelap. Tenaga yang di keluarkan Riyan kemarin sore membuatnya merasa begitu kelelahan. Sampai-sampai dia tidak ingin untuk bangun dari tempat tidur.
Guyuran air yang membasahi tubuh Fara, membuat Fara semakin bersemangat untuk menjalankan aktivitasnya, sebagai mahasiswi di Kampus barunya hari itu. Dia membersihkan sekujur tubuhnya sambil memikirkan pakaian yang akan dia kenakan nanti ke Kampus.
"Baju apa yang harus aku kenakan untuk ke kampus nanti?" Fara bertanya-tanya sendirian sambil membersihkan tubuhnya yang di penuhi busa sabun.
Setelah setengah jam berada di dalam kamar mandi, Fara langsung keluar dengan mengenakan handuk putih yang membalut di tubuhnya yang langsing. Sampainya di luar, Fara pun seketika menggeleng-gelengkan kepalanya, setelah melihat Riyan yang masih terus terlelap di atas tempat tidur. Tanpa bersuara Fara dengan segera langsung berpakaian, kemudian keluar dari kamar menuju lantai bawah.
"Eeeh,,, Non Fara. Sudah bangun ya?" Tanya Bi Santi yang sedang sibuk mencuci piring.
"Iya Bi. Hari ini kan hari pertama aku kuliah. Jadi aku tidak mau terlambat." Jawab Fara sambil melangkah menuju Bi Sari, yang sedang menghidangkan beberapa menu sarapan.
"Non mau apa?" Tanya Bi Sari setelah Fara berdiri di sampingnya.
"Aku mau bantu Bibi. Sini Bi, biar aku bantu." Ujar Fara sambil meraih hidangan yang ada di tangan Bi Sari.
"Ngga usah Non. Biar Bibi saja yang kerjakan." Jawab Bi Sari sambil menahan hidangan yang hendak di ambil Fara.
"Ngga apa-apa Bi.. Aku tu sudah biasa di dapur semenjak belum menikah. Walaupun tidak terlalu sering." Ujar Fara yang membuat Bi Sari juga Bi Santi jadi kaget juga bingung.
__ADS_1
"Ko bisa Non? Di rumah Non kan pasti ada banyak pembantu." Ujar Bi Sari sambil mengatur sarapan bersama Fara.
"Memang ada banyak pembantu Bi. Tapi di dalam keluarga kita, setiap wanita di ajarkan untuk bisa melaksanakan tugas kita di dapur." Jawab Fara tanpa menyadari kalau Riyan sudah berdiri di belakangnya.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan di dapur?" Tanya Riyan yang membuat Fara jadi kaget.
"Aku bisa menghidangkan sarapan seperti ini." Jawab Fara tanpa berbalik menatap Riyan.
"Hanya menghidangkan sarapan? Terus kalau yang masak siapa? Kamu juga?" Tanya Riyan sambil menarik kursi dan duduk menghadap meja makan.
"Mama dan para Bibi yang masak." Jawab Fara sambil menatap Riyan dengan kening yang sudah mulai berkerut, karena sedikit kesal dengan pertanyaan suaminya, yang terdengar seperti ingin menjatuhkannya.
"Kalau hanya untuk menghidangkan makanan, anak kecil juga bisa." Ujar Riyan sambil menatap Fara yang sudah duduk tepat di hadapannya.
"Apaan sih kamu Mas..? Yang penting kan ada yang bisa aku lakuin." Jawab Fara dengan tampang cemberutnya.
"Melakukan tugas apa..? Kenapa kamu diam..?" Tanya Fara sambil menatap Riyan yang sudah terlihat sedikit salah tingkah.
"Maksud aku, yang penting kamu bisa mempercantik dirimu seperti sekarang ini. Biar ngga bisa masak juga ngga apa-apa." Jawab Riyan berbohong.
Riyan yang begitu fokus berbicara dengan Fara, hampir saja mengatakan sesuatu yang tidak sepantasnya dia katakan di depan orang lain. Untuk saja dia cepat menyadari semuanya. Kalau tidak mungkin dia tidak akan sarapan lagi karena malu dengan apa yang mau dia katakan tadi. Sambil menatap Fara yang sedang mengambil sarapannya ke dalam piring, Riyan pun langsung bergumam di dalam hatinya.
"Astaga,,, hampir saja aku keceplosan. Ada apa sebenarnya denganku? Yang selalu berpikir tentang hal itu. Aku memang sudah sangat aneh, di saat menikah dengan wanita ganjen ini. Pemikiran ku selalu liar di buatnya."
Riyan dan Fara sarapan tanpa ada yang bersuara. Mereka sangat menikmati makanan yang di buat kedua Bibi, yang saat itu sedang berdiri di samping mereka. Tapi Riyan yang begitu menghormati orang tua, selalu merasa tidak suka di perlakukan seperti itu, oleh kedua pembantunya yang sudah dia anggap seperti keluarga sendiri.
__ADS_1
"Bi,, ngapain kalian berdiri di situ? Aku ngga suka kalian selalu seperti itu." Riyan berkata-kata sambil menatap kedua pembantunya dengan tatapan yang sangat datar.
Mendengar apa yang di katakan Riyan, juga ekspresi wajahnya yang begitu datar, membuat Fara jadi kebingungan. Sedangkan kedua para Bibi yang ada di samping mereka, hanya terdiam sambil melirik satu sama lain.
"Mas,, kamu kenapa sih?" Tanya Fara bingung.
"Aku ngga suka dengan apa yang selalu di lakukan Bi Sari dan Bi Santi, di saat aku sedang makan di meja makan." Jawab Riyan yang sudah berhenti makan.
"Memangnya apa salah mereka?" Tanya Fara yang semakin kebingungan dengan jawaban suaminya.
"Aku tidak suka kalau Bi Sari dan Bi Santi hanya menatap kita seperti itu." Jawab Riyan dingin.
"Terus mau kamu mereka ngapain?" Tanya Fara yang juga ikut berhenti makan.
"Mereka tu harus sarapan juga. Bukan hanya menatap seperti itu. Memangnya aku ini Raja? Yang setiap makan harus di jaga seperti ini." Ujar Riyan sambil menatap Bi Sari dan Bi Santi secara bergantian.
"Iya Den,, kita akan sarapan nanti kalau Aden dan Non Fara sudah selesai sarapan." Sambung Bi Sari yang memanggil Riyan dengan sebutan Aden.
Kedua Bibi yang sudah bekerja lama dengan Riyan, begitu menghormati Riyan yang sudah memberikan kehidupan kepada mereka. Rasa hormat mereka itu bisa di lihat dari cara mereka memanggil Riyan. Terkadang mereka memanggilnya dengan sebutan Mas. Dan terkadang juga mereka panggil dengan sebutan Aden. Mereka tidak pernah memanggil Riyan tanpa ada kedua sebutan itu yang mengiringinya. Begitupun dengan para pekerja yang lainnya. Tapi bagi Riyan, Rasa hormat mereka itu terlalu berlebihan. Sampai-sampai mereka rela menjaga Riyan saat berada di meja makan.
"Kalau Bi Sari dan Bi Santi selalu menjagaku di saat sedang makan, aku tidak akan lagi mau makan di rumah." Ujar Riyan sambil menatap kedua pembantunya yang hanya terdiam karena merasa serba salah.
"Bi,, memang benar apa yang di katakan Mas Riyan. Kita ngga perlu di jaga seperti ini. Ayo kita sarapan bersama!" Sambung Fara.
"Baik Non." Jawab Bi Sari dan Bi Santi secara bersamaan, sambil melangkah mendekat ke arah meja makan.
__ADS_1
"Dan aku harap, setiap makan kita selalu bersama seperti ini." Tambah Riyan dan kembali melanjutkan sarapannya.
Melihat sikap kedua majikan mereka yang begitu berbeda dengan majikan-majikan pada umumnya, membuat Bi Sari dan Bi Santi jadi terharu dan merasa sangat bahagia, karena tidak pernah di pandang sebelah mata sebagai pembantu. Dan dengan berat hati karena merasa tidak pantas makan satu meja dengan majikan mereka, Bi Sari dan Bi Santi akhirnya mengikuti apa yang jadi keinginan Riyan tanpa berkata-kata.