Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 124. Cinta Dan Keegoisan.


__ADS_3

Harapan akan cinta yang begitu besar, membuat Fara seketika terbakar api cemburu di saat menyaksikan laki-laki yang sangat dia cinta, sedang mendekap wanita lain di dalam pelukannya. Dia melangkahkan kakinya tanpa henti dengan kaki telanjang, dan tanpa sadar kalau di bagian telapak kakinya sudah mengeluarkan cairan merah. Luka yang ada di kaki Fara tidak sebanding dengan luka yang ada di hatinya. Saat itu dia merasa seperti dunianya akan kiamat. Semangat hidupnya seketika musnah dalam kekecewaannya.


Cinta seorang wanita akan sangat mudah melukai perasaan. Karena wanita selalu menggunakan hati tanpa logika. Dan itulah yang sedang di rasakan oleh Fara. Dadanya seperti tertimpa beban berat sampai-sampai dia kesulitan untuk bernafas. Sedangkan Riyan yang masih ada di perusahaannya, semakin tidak tenang. Apalagi di saat dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 5:15 sore.


"Di mana dia berada sekarang ya Tuhan...? Aku harus mencarinya ke mana..?" Ujar Riyan yang sedang duduk menghadap meja kerjanya.


Riyan semakin khawatir memikirkan Fara setelah mendengar cerita Semi. Tapi Semi yang sudah menciptakan sebuah berita yang tidak pernah ada, malah sedang bersantai di dalam ruang kerjanya sambil menikmati segelas kopi. Semi memang sengaja ingin membuat Riyan khawatir, karena dia sendiri tidak suka dengan sikap Riyan yang tidak pernah memikirkan perasaan istrinya.


"Biarin saja dia panik seperti itu. Aku sih mau saja bantu mencari Ibu Fara. Tapi aku jangan buru-buru melakukan itu. Biar Pak Riyan yang berusaha mencari istrinya sendiri." Semi berkata-kata dengan tampang yang terlihat bahagia. Tapi tanpa dia sadari, Riyan ternyata sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya.


"Sem,, kamu ko bisa bersantai seperti ini di saat aku lagi kesusahan..?" Suara Riyan yang langsung mengagetkan Semi.


"Pak Riyan.. Aku,,, aku hanya sedang minum kopi." Jawab Semi gugup.


"Kamu minum kopi dengan ekspresi yang begitu bahagia. Apa kamu senang, melihat aku panik seperti ini..?" Tanya Riyan sambil melangkah mendekati Semi, dengan tatapan mencari tahu.


Semi yang sudah menegang karena mengira Riyan mendengar apa yang barusan dia katakan, sama sekali tidak berani menatap Riyan yang sudah berdiri di depan meja kerjanya. Tapi Riyan kembali bertanya, yang membuat Semi akhirnya bisa bernafas lega.


"Sem,, tadi kamu ngomong apa sendirian di dalam sini..?" Tanya Riyan.


"Aku,,, aku hanya terlalu menghawatirkan Ibu Fara. Jadi aku bicara sendirian." Jawab Riyan sambil melirik Riyan.


"Aku pikir kamu senang melihatku panik dan khawatir." Tambah Riyan.


"Mana mungkin aku senang..? Tapi apa yang bisa aku lakukan..?" Tanya Semi tanpa menatap Riyan.


"Ya setidaknya kamu itu bisa bantu aku untuk berpikir. Kalau kamu memang tidak bisa bantu untuk mencari. Istriku sekarang sedang di luar sendirian. Dan dia tidak tahu jalan sama sekali. Tapi kamu malah santai menikmati kopi." Gerutu Riyan yang membuat Semi langsung bergumam di dalam hatinya.

__ADS_1


"Istri istri lo. Kenapa aku yang harus repot? Biarin saja dia seperti itu Semi! Sekali-kali dia itu harus di kasih pelajaran." Semi bergumam di dalam hati sambil mengembangkan senyum sinis nya.


"Semi... Kamu ko malah senyum-senyum..? Ooo,, ternyata benar yang aku duga. Kamu memang senang melihat aku kesusahan seperti ini. Iya kan...?" Tanya Riyan dengan tatapan yang sangat tajam ke arah Semi.


"Ya ngga dong Pak. Masa aku senang..? Aku tu lagi berhayal memukuli penjahat yang berani menculik Ibu Fara. Makanya aku senyum-senyum sendiri." Jawab Semi berbohong.


"Kamu tu ngga usah terlalu banyak berhayal! Sekarang itu yang harus kamu lakukan, bantu aku untuk menemukan istriku." Ujar Riyan sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.


"Siapa yang mau Bapak hubungi..? Kalau menurut saya, Pak Riyan jangan dulu menghubungi polisi. Karena Ibu Fara kan perginya baru beberapa jam." Ujar Semi setelah melihat Riyan mengeluarkan ponselnya.


"Siapa bilang aku mau menghubungi polisi..? Aku tu mau menghubungi nomor Fara." Jawab Riyan tanpa menatap Semi.


"Astaga Pak Riyan... Mengapa ngga dari tadi..?" Tanya Semi bingung.


"Sudah aku hubungi sejak tadi. Tapi dia sama sekali tidak menjawabnya." Jawab Riyan.


("Kamu yang siapa..? Mengapa kamu bisa menjawab telpon istri saya..?" Tanya Riyan dengan tampang yang terlihat kaget.)


("Ooo maaf ya Pak. Ponsel istri anda memang ada sama saya. Tadi dia naik taksi saya. Dan karena tidak ada uang untuk membayar ongkos taksi, akhirnya istri anda kasih ponselnya sebagai jaminan." Jelas supir taksi itu.)


("Sekarang anda di mana..? Dan istri saya tadi turunnya di mana..?" Tanya Riyan dengan tampang paniknya.)


("Tadi dia turun di jalan, tepatnya di dekat lampu merah di pusat kota. Saya juga ngga tahu dia mau kemana. Tapi dia terlihat seperti ada masalah. Soalnya dia ngga berhenti menangis." Jelas supir taksi itu yang membuat Riyan semakin khawatir.)


("Ya sudah,, sekarang Bapak ada di mana..? Biar saya nyusul untuk ambil ponsel istri saya." Ujar Riyan.)


Tanpa menunggu lama, Riyan langsung buru-buru pergi menuju tempat di mana supir taksi itu berada, bersama Semi yang langsung mengikutinya dari belakang. Dalam perjalanan, Riyan semakin tidak tenang karena waktu sudah menunjukkan pukul 7:10 tepat. Untung saja di Amerika di waktu seperti itu masih terlihat cahaya matahari. Jadi dia masih punya waktu untuk mencari Fara sebelum gelap.

__ADS_1


"Sem,, kita harus menemukan Fara sebelum gelap. Aku takut terjadi apa-apa sama dia. Karena kalau sampai itu terjadi, aku akan langsung di bunuh sama Om aku." Ujar Riyan sambil menatap Semi yang sedang fokus mengemudi.


"Memangnya Papanya Ibu Fara sejahat itu Pak..? Secara putrinya kan baik dan polos. Jadi Ayahnya juga pasti orang yang sangat baik." Tanya Semi dengan tatapan lurus ke depan.


"Hmmm,, tidak ada orang sebaik Om aku itu. Tapi tidak ada juga orang sejahat dia. Sejak masih remaja, dia sudah menghilangkan nyawa orang dengan tangannya sendiri." Jelas Riyan yang membuat Semi langsung kaget.


"Apa Pak..? Bagaimana caranya dia melakukan tindakan kriminal, di usia yang masih sangat muda seperti itu..?" Tanya Semi penasaran.


"Dia mencabik-cabik seorang wanita dan seorang pria menggunakan pisau." Jawab Riyan.


"Astaga... Kita memang harus secepatnya menemui Ibu Fara Pak. Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai Papanya tahu." Ujar Semi sambil melirik Riyan.


"Makannya itu aku khawatir banget. Tidak ada orang yang bisa menghindar dari kemarahan Om aku itu." Ujar Riyan yang membuat Semi kembali bergumam di dalam hatinya.


"Dasar laki-laki batu. Aku pikir dia khawatir karena takut kehilangan istrinya. Padahal dia yang takut nyawanya di hilangkan sama Papanya Ibu Fara.


"Jadi Pak Riyan khawatir karena takut di habisi sama Papanya Ibu Fara..? Bukan karena takut kehilangan Ibu Fara..?" Tanya Semi yang membuat Riyan langsung menatapnya.


"Pertanyaan macam apa itu..? Ya aku takut kehilangan istriku.. Dan aku juga takut di salahkan sama keluargaku." Jawab Riyan kesal.


"Ya aku kan cuman tanya Pak. Ngga usah marah-marah..!" Ujar Semi tanpa menatap Riyan.


"Tapi kamu jangan bilang-bilang sama Fara! Kalau aku begitu khawatir memikirkan dia. Nanti dia jadi kepedean." Ujar Riyan yang membuat Semi semakin bingung dengan sikap atasannya itu.


"Iya Pak..." Jawab Semi.


Keegoisan juga rasa gengsi seorang laki-laki, tanpa sadar selalu menyakiti hati wanita yang mereka cinta. Dan itulah yang di lakukan oleh Riyan. Keegoisannya membuat Fara yang memiliki pemikiran sempit, selalu berpikir salah dengan sikapnya. Sikap yang begitu dingin dan acuh tak acuh terhadap dirinya.

__ADS_1


__ADS_2