Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 206. Keromantisan Fara Dan Riyan.


__ADS_3

Dua hari berlalu,, Fara yang sudah tiba di Indonesia di sambut dengan penuh suka cita bercampur haru. Melihat keadaan Fara, Aleta langsung meneteskan air mata. Begitupun dengan Oma Alira yang sangat memanjakan Fara sejak kecil. Fara pun tidak kuasa menahan tangis setelah bertemu orang-orang yang sangat dia sayangi. Apalagi dia baru saja mengalami musibah yang hampir mencelakai nyawanya juga calon bayinya.


"Sayang,, kamu tidak apa-apa kan,,?" Tanya Aleta sambil mendekap tubuh Fara di depan pintu rumahnya.


"Iya Ma. Aku baik-baik saja." Jawab Fara sambil membalas pelukan Mamanya.


"Oma,, bagaimana keadaan Oma?" Tanya Fara setelah melepaskan pelukan Mamanya.


"Oma baik-baik saja sayang. Kamu tidak apa-apa kan? Tidak terluka kan? Bagaimana keadaan kandungan kamu?" Oma Alira menanyakan semuanya dengan tatapan cemas, dari ujung rambut sampai ujung kaki Fara.


"Aku baik-baik saja Oma. Seperti yang Oma lihat." Jawab Fara dengan senyum ceria.


"Ayo kita masuk sayang. Apa kamu sudah bertemu Mas kamu?" Tanya Oma Alira sambil memeluk pinggang Fara, melangkah masuk ke dalam rumah Faris bersama yang lainnya.


"Belum sama sekali. Katanya dia lagi di kantor sama mba Shelina sejak kemarin. Aku tu kesal banget sama Mas Alfa. Besok dia akan pergi bawa mba Shelina ke Bali saat aku berada di Indonesia." Fara berkata-kata dengan tampang cemberutnya.


"Sayang,, Mas kamu itu harus menghadiri sebuah acara besar di sana menggantikan Papa sama Opa yang tidak bisa hadir." Jelas Oma Alira memberikan pengertian kepada Fara.


"Dia kan bisa pergi sendiri,, kenapa harus bawa Mba Shelina? Atau aku ikut saja mereka ke sana." Perkataan Fara yang langsung di tantang Papanya.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh ke sana! Kondisi kamu itu masih belum stabil. Dan Alfa juga pasti akan marah kalau kamu mau ikut sama dia." Dengan segera Faris langsung bersuara.


"Aku kan hanya bercanda Pa. Papa ko langsung heboh?" Ujar Fara yang membuat Aleta juga Oma Alira seketika tersenyum tanpa suara.


Kekhawatiran Faris terhadap putri satu-satunya, malah menjadi sebuah lelucon oleh para anggota keluarganya. Melihat Aleta dan Oma Alira yang sudah tersenyum tanpa suara menatap ke arahnya, Faris langsung memilih untuk melangkah menuju tangga tanpa bergeming sama sekali. Itulah sifat Faris yang tidak di ketahui banyak orang di luar sana. Dia terlihat sangat dingin dalam bersikap. Namun rasa pedulinya begitu besar terhadap orang-orang yang dia sayangi.


"Bagaimana keadaan putra dari laki-laki yang sudah membantu menyelamatkan kamu sayang?" Tanya Oma Alira.


"Untung Oma tanya. Aku sampai lupa menelpon Mas Riyan untuk menanyakan keadaannya juga Arsen." Dengan penuh semangat Fara langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, dan menghubungi nomor suaminya.


"Tersambung.. Biar aku nyalakan spiker agar Oma dengar apa yang di katakan Mas Riyan." Ujar Fara setelah telponnya tersambung.


("Mas,, keadaan kamu dan Arsen bagaimana? Aku baru saja tiba di Indonesia." Tanya Fara dengan raut wajah manja.)


("Kita sudah bertemu Pamannya Arsen. Kamu baik-baik saja kan sayang? Jaga kesehatan kamu ya,,!" Kata-kata Riyan yang membuat Oma Alira tidak tahan untuk tidak bersuara.)


("Aduh... Cucu Oma romantis banget sih sama istrinya,,? Di sini ada Oma loh yang lagi dengar." Ujar Oma Alira sambil tersenyum lebar.)


("Oma,, aku tahu ko ada Oma di situ." Jawab Riyan yang membuat Oma Alira jadi kepedean.)

__ADS_1


("Loh,,, ko kamu bisa tahu? Apa yang membuat kamu bisa tahu kalau ada Oma di sini? Apa mungkin parfum Oma ini bisa di cium dari jarak sejauh itu..?" Tanya Oma Alira dengan raut wajah ceria.)


("Bukan itu,, aku bisa tahu Oma ada di dekat Fara, karena Oma kan selalu ingin tahu urusan anak mudah. Itu yang di katakan Ibu. Hahahaha..." Jawab Riyan di iringi tertawa lepas.")


Oma Alira yang menyadari akan tingkah lakunya sama sekali tidak memperdulikan kata-kata Riyan. Dia malah semakin betah berada di samping Fara untuk mengetahui kabar Arsen. Sedangkan Aleta dan Opa Fahri yang mendengar perkataan Riyan barusan, hanya tersenyum tanpa bersuara.


("Terus bagaimana keadaan keluarga Pamannya? Dia bukan penjahat kan?" Tanya Fara yang begitu mencemaskan keadaan Riyan juga Arsen.)


("Dia ternyata seorang tentara di Jerman. Dia sudah menikah tapi tidak memiliki anak. Dia dan istrinya juga punya usaha berlian." Jawab Riyan menjelaskan semuanya.)


("Terus bagaimana reaksi mereka saat melihat Arsen?" Fara yang masih belum tenang terus bertanya.)


("Mereka sangat-sangat bahagia. Paman dan Bibinya sampai menangis melihat Arsen. Apalagi mengetahui kabar Anton. Mereka juga akan mengurus surat adopsi secepatnya." Jelas Riyan yang membuat Fara seketika bernafas lega.)


("Ya sudah kalau begitu sudah dulu ya Mas. Kamu kapan berangkat ke Indonesia?")


("Mungkin lusa aku sudah meninggalkan Jerman. Kamu baik-baik di sana ya,,!" Riyan yang semakin perhatian sempat mengingatkan Fara sebelum memutuskan sambungan telepon.)


Mendengar percakapan Riyan dan Fara yang begitu romantis dengan panggilan sayang, Aleta dan Oma Alira hanya bisa tersenyum turut bahagia. Namun di dalam hati Aleta, dia masih cemas memikirkan hubungan antara Alfa dan Shelina, yang menurut dia belum juga ada kemajuan. Sedangkan Oma Alira si biang kerok yang membuat Shelina sampai menderita, malah terlihat tenang tanpa ada beban.

__ADS_1


__ADS_2