Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 112. Kenyataan Yang Mengejutkan.


__ADS_3

Setelah ada pembahasan mengenai Fara yang di sebut jelmaan bidadari oleh ketiga sahabatnya, ekspresi Riyan seketika jadi berubah semakin datar. Dalam diam, Riyan merasa sangat tidak terima dengan pembahasan ketiga teman-temannya itu. Ingin sekali dia memberitahukan status pernikahan antara dia dan Fara saat itu juga. Tapi di saat dia ingin bersuara, tiba-tiba ponsel Arlan berbunyi. Tanda kalau ada panggilan masuk. Dan ternyata itu panggilan masuk dari Deni. Akhirnya Riyan pun kembali mengurungkan niatnya, yang ingin memberitahukan sesuatu yang sama sekali belum di ketahui teman-temannya.


("Halo Den,," Arlan bersuara setelah telponnya tersambung.)


("Kamu di mana?" Tanya Deni dari balik telpon.)


("Aku lagi sama teman-teman di restoran dekat mall." Jawab Arlan.)


("Ya sudah, kalau gitu aku langsung ke situ. Kebetulan aku sekarang sudah berada di dekat mall." Ujar Deni.)


("Oke,, aku tunggu ya,," Sambung Arlan dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)


"Deni mau nyusul?" Tanya Erlando setelah Arlan kembali meletakan ponselnya di atas meja.


"Iya,, kebetulan dia sudah berada di dekat sini." Jawab Arlan.


"Baguslah kalau gitu." Sambung Exel.


Mendengar nama Deni, Riyan jadi semakin berekspresi aneh. Kesalahpahaman yang di sebabkan oleh cerita palsu Deni, kembali terngiang-ngiang di dalam pikiran Riyan yang hanya terdiam sejak tadi. Sebenarnya dia ingin segera pulang karena tidak mau bertemu laki-laki pembohong itu lagi. Tapi dia tidak punya alasan jelas untuk pergi meninggalkan teman-temannya, yang sama sekali tidak mengetahui apapun.


"Yan,, kamu kenapa? Ko ekspresi kamu aneh?" Tanya Exel setelah menyadari ekspresi Riyan yang sudah seperti jalan tol.


"Aku ngga apa-apa. Cuman sedikit kecapean karena belum sempat beristirahat." Jawab Riyan berbohong.


"Yan,, maaf karena kita sampai kamu tidak bisa beristirahat. Tapi jangan pulang dulu ya,,! Nanti kita pulangnya barengan saja." Ujar Erlando yang membuat Riyan tidak bisa untuk berkata-kata. Dengan senyum yang di paksakan, Riyan pun hanya menganggukkan kepala menanggapi perkataan Erlando.


"Itu baru namanya sahabat." Sambung Exel sambil menepuk-nepuk punggung Riyan.

__ADS_1


Tali persahabatan Riyan, Exel, Erlando, juga Arlan terlihat begitu kuat. Apalagi mereka sudah bersama-sama sejak pertama kuliah di Amerika. Tapi setelah kehadiran Deni, Riyan merasa sedikit tidak nyaman untuk berlama-lama dengan mereka. Tapi biar bagaimanapun, dia juga tidak bisa menjauh dari ketiga orang sahabatnya, yang sudah menjalani hari-hari dengannya selama beberapa tahun berlalu.


"Yan,, apa kamu tidak ingin punya pacar?" Tanya Erlando yang membuat Riyan langsung berpikir, untuk mengungkapkan statusnya saat itu juga. Tapi lagi-lagi gagal karena ponselnya tiba-tiba berdering, yang ternyata panggilan masuk dari Fara. Tanpa menunggu lama Riyan pun langsung menjawab telpon Fara tanpa beranjak dari tempat duduknya.


("Mas.. Kamu di mana sih..? Ko kamu keluarnya lama bangat..?" Tanya Fara sebelum Riyan sempat bersuara.)


("Aku kan belum lama keluar. Memangnya ada apa?" Tanya Riyan.)


("Mas,, perut aku sakit bangat,,? Cepat pulang dong Mas,,!" Rengek Fara yang terdengar begitu manja.)


("Iya,, aku akan pulang sebentar lagi. Olesi minyak telon dulu biar berkurang rasa sakitnya!" Ujar Riyan dengan suara yang terdengar begitu lembut.)


("Ya udah deh. Tapi jangan lama ya..!" Ujar Fara dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)


Riyan yang begitu serius berbicara dengan Fara, terlihat begitu lembut setelah mendengar wanita cantiknya itu sedang kesakitan. Namun pembicaraannya sama sekali tidak di perhatikan oleh ketiga sahabatnya, yang sedang fokus dengan kedatangan Deni bersama seorang laki-laki, yang sedang melangkah dari arah pintu menuju mereka.


"Belum terlalu lama juga." Jawab Exel sambil tersenyum ramah dengan laki-laki yang berdiri di samping Deni. Sedangkan Riyan yang sudah sangat tidak menyukai Deni, sedikitpun tidak menghiraukan keberadaan Deni dan seorang laki-laki yang berdiri tepat di belakangnya.


"Silahkan duduk Pak!" Sambung Arlan penuh hormat kepada laki-laki yang bersama Deni. Karena ternyata laki-laki itu adalah atasan Deni yang sudah saling kenal dengan Arlan.


"Kenalkan,, ini atasan saya. Namanya Pak Bastian." Ujar Deni memperkenalkan laki-laki berdarah Amerika/Indonesia tersebut. Mendengar nama itu, Riyan yang hanya berpura-pura mengotak-atik ponselnya, serentak langsung berbalik dengan tampang yang sedikit kaget.


"Pak Riyan.. Anda juga ada di sini..?" Tanya Bastian serentak sambil menyalami Riyan dengan penuh hormat.


"Maafkan saya Pak Riyan,, saya tidak menyadari kalau ternyata anda yang duduk di hadapan saya." Tambah Bastian yang membuat beberapa orang yang sedang menatapnya, jadi kebingungan akan sikapnya. Terutama Deni dan Arlan.


"Riyan,, apa kamu kenal sama atasannya Deni?" Tanya Arlan serentak. Dan belum sempat Riyan bersuara, Bastian dengan buru-buru sudah menjawab pertanyaan Arlan, yang membuat mereka semua terkejut.

__ADS_1


"Bagaimana Pak Riyan tidak mengenalku? Hotel berbintang yang aku tangani itu milik Pak Riyan." Jawab Bastian yang membuat keempat orang yang ada di sampingnya seperti tersambar petir saking kagetnya. Terutama Deni yang begitu malu atas sikapnya yang terkesan berlebihan di depan Riyan beberapa waktu lalu.


"Apa.. Hotel itu punya Riyan..? Riyan yang ini..?" Tanya Exel dengan tampang yang terlihat begitu serius.


"Iya,, Pak Riyan yang ini. Apa kalian semua tidak tahu siapa sebenarnya Pak Riyan? Pak Riyan ini salah satu pengusaha sukses muda di Amerika." Jelas Bastian yang membuat jantung Deni berdetak semakin kencang.


"Selain memiliki beberapa hotel, Pak Riyan juga punya berbagai macam bisnis. Salah satunya bisnis dalam dunia otomotif." Tambah Bastian lagi yang membuat Riyan langsung membuka suara.


"Sudahlah Tian..! Kamu terlalu berlebihan." Ujar Riyan tanpa ekspresi.


"Tapi itu kenyataannya Pak." Jawab Bastian yang sudah duduk di kursi kosong yang ada tepat di samping Riyan.


"Yan,, ko kamu ngga pernah cerita? Ternyata kamu ini seorang miliarder yang bersikap seperti seorang pengangguran. Pintar bangat kamu menyembunyikan semuanya." Ujar Erlando sambil menggelengkan kepalanya.


"Itulah sifat Pak Riyan. Dia selalu bersikap sederhana. Padahal dia ini memang terlahir dari keluarga konglomerat." Jelas Bastian yang membuat Deni semakin mematung karena merasa sangat tersindir.


"Yan,, aku tu jadi malu bersahabat sama kamu." Ujar Exel sambil menatap Riyan dengan tatapan penuh kekagumannya.


"Apa-apaan sih kamu? Kamu juga bisa lebih dari aku kalau mau usaha. Semua yang aku miliki sekarang ini bukan datang begitu saja tanpa usaha." Sambut Riyan berusaha menyemangati Exel, yang memang hidup hanya mengharapkan pemberian orang tuanya.


"Pokoknya kamu harus menunjukan semua bisnis kamu yang selama ini kamu sembunyikan dari kita." Sambung Erlando.


"Nanti kalau ada waktu. Soalnya besok kan kita sudah mulai sibuk dengan urusan Kampus." Jawab Riyan.


Setelah mengetahui tentang Riyan, Deni yang sebelumnya begitu sombong seketika jadi terlihat seperti orang bodoh, di hadapan Arlan dan yang lainnya. Dia merasa sangat malu telah membanggakan diri di depan orang yang memiliki hotel tempatnya bekerja.


#Teman-teman,, jangan lupa mampir di karya aku yang berjudul Tunanganku Adalah Orang Yang Telah Menodaiku. Dan Jodoh Yang Tak Di Sangka. Semakin banyak dukungan aku akan semakin bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2