
Walaupun sudah hampir tiga bulan kepergian Anton, Riyan juga para sahabatnya yang lain tidak pernah melupakannya. Setipa ada waktu luang, mereka selalu menyempatkan diri mengunjungi tempat pemakaman Anton. Rasa sedih selalu menyelimuti benak mereka, saat menatap nisan yang terukir nama Anton. Terutama Riyan yang sangat merasa bersalah atas kesalahannya terhadap Anton, di hari-hari terakhirnya.
Malam itu bayangan Anton tidak lepas dari ingatan Riyan. Setelah Fara tertidur, Riyan yang masih terjaga memilih untuk menikmati pemandangan langit malam, melewati balkon kamarnya. Dia menatap satu bintang yang begitu terang di atas sana, dengan tatapan sendu sambil bergumam dalam hati.
'Ton,, aku harap kamu bahagia di sana. Aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan. Putramu sudah ada di tangan Kakakmu. Aku yakin dia akan bahagia bersama orang yang tepat.'
Setelah hampir satu jam menikmati udara malam, Riyan pun memutuskan untuk masuk karena merasa kedinginan. Melihat waktu sudah menunjukan pukul 01:55 malam, Riyan segera berbaring sambil mendekap Fara dalam pelukannya.
"*Anton,, ngapain kamu di sini?" Tanya Riyan dengan tampang kagetnya.
"Aku sedang menunggumu." Jawab Anton sambil tersenyum.
"Tapi kamu kan sudah meninggal. Bagaimana mungkin kamu bisa kembali lagi?" Sambung Fara yang berada tepat di samping Riyan.
"Fara,, Riyan,, aku ingin meminta sesuatu dari kalian. Tapi bukan saat ini." Ujar Anton dan langsung menghilang tanpa jejak*.
"Astaga... Mengapa aku bisa bermimpi seperti itu? Apa maksud dari mimpi itu?" Riyan langsung terbangun sambil mengusap-usap dadanya mengingat mimpinya barusan.
__ADS_1
Riyan yang masih kepikiran akan mimpinya, sama sekali tidak bisa untuk kembali tidur. Dia hanya terlentang dengan sebelah tangan di keningnya sambil menatap ke arah loteng.
"Mas,, kamu sudah bangun?" Tanya Fara yang tiba-tiba terbangun karena ingin buang air kecil.
"Aku bermimpi tentang Anton yang membuatku tidak bisa tidur kembali." Jawab Riyan sambil beranjak turun dari tempat tidur bersama Fara.
Itulah kebiasaan Riyan selama mengetahui Fara mengandung. Dia tidak pernah membiarkan Fara ke toilet seorang diri di waktu malam. Sifat Riyan yang penuh perhatian terhadap orang yang dia sayangi turun dari Ayahnya. Seorang laki-laki yang begitu tulus melakukan apapun terhadap orang yang dia sayangi.
"Memangnya kamu bermimpi apa tentang Anton?" Tanya Fara setelah selesai buang air kecil.
"Terus apa masalahnya Mas? Mungkin saja dia ingin kamu bisa kembali ke Jerman untuk melihat keadaan Arsen suatu hari nanti. Atau mungkin melihat keadaan Kakaknya." Fara mencoba mengartikan mimpi Riyan.
"Iya,, bisa jadi seperti itu. Mungkin Anton mengkhawatirkan Kakaknya yang sudah cacat, juga Putranya yang masih sangat kecil, hidup tanpa ada sanak saudara." Ujar Riyan.
"Bukan Anton saja Mas. Aku saja kepikiran sama mereka. Aku kasihan Mas. Hidup bergelimang harta tapi kesepian." Ujar Fara.
"Arsen dan Pamannya memiliki jiwa yang keras. Mereka sama-sama pria yang kuat. Jadi tidak usah di khawatirkan untuk masalah itu." Sambung Riyan.
__ADS_1
"Kalau kamu sudah tahu seperti itu, berarti mimpi kamu tadi tidak usah di jadikan beban. Kalau ada waktu, besok kamu ke makam Anton. Ungkapan semuanya di sana."
"Ayo sekarang kita tidur!" Ujar Fara sambil menarik sebelah tangan Riyan.
Sampainya di tempat tidur, Riyan langsung berbaring sambil memeluk guling. Tapi Fara kembali manggilnya dan memberikan peringatan yang selalu membuat Riyan resah.
"Mas,, besok kamu ada rapat penting sama klien bisnis dari luar?" Tanya Fara dengan posisi membelakangi Riyan.
"Iya jam 2 siang." Jawab Riyan singkat.
"Syukurlah kalau jam dua siang. Aku pikir rapatnya di mulai pagi." Ucap Fara yang terdengar lega.
"Mas,, dari Kampus aku langsung ke kantor. Aku mau menemanimu rapat." Ujar Fara yang membuat Riyan langsung menarik nafas dalam-dalam.
"Fara,, jangan terlalu berlebihan. Aku tahu diri sebagai seorang suami." Ujar Riyan yang terdengar aneh.
"Kamu memang tahu diri Mas. Tapi banyak wanita-wanita di luar sana yang tidak tahu malu. Malah mereka lebih suka sama Suami orang. Heran aku wanita-wanita seperti itu. Kalau aku ngga mau barang bekas." Ujar Fara panjang lebar tapi tidak di tanggapi Riyan karena sudah terlelap dalam sesaat.
__ADS_1