
Rasa malu atas apa yang baru saja terjadi, tidak dapat di tutupi Riyan. Karena semua itu terjadi tepat di depan mata sekrestarisnya. Hal itu membuatnya tidak dapat menahan kemarahannya, terhadap sekrestarisnya yang menurutnya sangat tidak sopan.
"Mengapa kamu memasuki ruangan ku tanpa bersuara terlebih dulu..? Apa kamu pikir ini kantormu..? Atau rumah pribadimu..?" Riyan bertanya-tanya dengan tampang datarnya.
"Aku sudah mengetuk dan berteriak berulang-ulang Pak. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Saya pikir terjadi sesuatu sama Bapak." Jawab sekrestarisnya dengan tampang serba salah.
"Apapun yang terjadi, semustinya kamu menunggu sampai pintunya terbuka dulu baru masuk." Ujar Riyan.
"Iya Pak. Maafkan saya Pak." Pinta sekretarisnya dengan tampang penuh rasa bersalah.
"Pergi sana! Lain kali tidak boleh seperti itu! Dan jangan mengatakan apapun yang kamu lihat tadi kepada yang lainnya!" Seru Riyan sambil malingkqn muka dengan kedua tangan berada di pinggangnya.
"Mas,, dia kan ngga salah. Mengapa kamu memarahinya sampai seperti itu?" Tanya Fara bingung sambil menatap Riyan yang hanya terdiam sambil mencakar-cakar rambutnya.
"Mas,, Mengapa juga tadi kamu melakukan itu? Kamu ko mesum banget sih? Apa jangan-jangan, kamu sering seperti itu di saat aku sedang ketiduran." Tambah Fara yang membuat Riyan langsung menatapnya tajam.
"Apa kamu sudah gila? Mana mungkin aku melakukan hal sekonyol itu? Tadi itu aku mau betulin pakaian kamu yang terangkat di saat mendengar ketukan pintu. Tapi kamu malah menarik aku sampai aku tersungkur tepat di depan itu." Jawab Riyan sambil menatap Fara.
"Itu apa sih Mas? Aku ko ngga paham dengan arah pembicaraanmu." Ujar Fara sengaja ingin menggoda Riyan dengan pura-pura tidak mengerti apa di maksud Riyan.
"Sudahlah Fara..! Aku tu malu banget tahu ngga? Apalagi di lihat sama wanita yang tidak bisa menjaga rahasia seperti sekrestarisku itu." Sambung Riyan dengan tampang datarnya.
"Tapi aku tu suka banget kalau kamu malu-malu seperti ini. Kamu terlihat semakin tampan." Ujar Fara dengan senyum menggoda.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Fara, Riyan jadi semakin malu karena mengingat ekspresi sekrestarisnya tadi. Dan tanpa bersuara, dia langsung melangkah menuju pintu tanpa memperdulikan Fara.
"Mas... Kamu mau kemana sih Mas..?" Tanya Fara sambil menatap punggung suaminya.
"Aku mau mengunci pintunya." Jawab Riyan dan langsung melangkah kembali menghampiri Fara yang sudah mematung di atas sofa.
__ADS_1
"Mengapa kamu menatapku seperti itu? Bukankah kamu suka dalam keadaan seperti ini?" Tanya Riyan dengan tatapan penuh hasrat.
"Apa-apaan sih kamu Mas..? Aku kan hanya bercanda. Ko kamu jadi kepancing." Jawab Fara dengan tampang penuh kekhawatiran.
"Kamu memang sengaja ingin menggodaku. Jadi jangan salahkan aku yang tidak pernah bisa menahan diri." Ujar Riyan yang sudah duduk di samping Fara.
"Mau apa kamu Mas..?" Tanya Fara sambil bergeser sedikit menjauh. Tapi dengan sekali tarikan Riyan Fara langsung tersandar di dada bidangnya.
Dengan begitu mesra Riyan langsung mencium Fara yang membuat Fara langsung terhanyut dalam permainannya. Permainan Riyan yang selalu di awali dengan sentuhan lembut, berhasil membawa Fara melayang dalam keinginan batin yang menuntut.
Permainan Riyan yang sudah mulai turun ke sasaran seketika membuat Fara mengeluarkan suara seksi yang semakin membangkitkan hasrat Riyan. Dan tanpa mereka sadari, alat rekam yang sengaja di jatuhkan Dena tadi di bawah meja kerja Riyan, sedang merekam suara dari permainan mereka.
"Apa yang sedang terjadi?" Tanya Dena yang sedang mendengar suara Fara dari ponselnya dengan tampang penasaran.
"Mas... Mas Riyan... Aaaa.." Suara Fara yang seketika membuat mata Dena terbuka lebar saking kagetnya.
Hampir satu jam mendengar dengan begitu serius rekaman yang ada di ponselnya, tiba-tiba dia seketika tersentak dengan wajah penuh kegugupan. Di saat melihat Riyan dan Fara melangkah dari arah sana sambil bergandeng tangan, dengan sangat mesra.
"Siang Pak." Sapa salah seorang pegawai Riyan.
"Siang." Jawab Riyan dengan tampang khasnya.
Melihat ekspresi Dena yang mencuri pandang ke arah suaminya, Fara semakin mengeratkan pelukannya di lengan Riyan dengan senyum yang di buat semanis mungkin. Melihat pemandangan itu, Dena langsung membuang muka sambil bergumam di dalam hatinya.
"Dasar wanita tidak tahu malu. Dia pikir tidak ada yang tahu perbuatan mereka."
Dena bergumam di dalam hatinya dengan tampang penuh kekesalan. Tiap diabtidak sadar kalau yang tidak tahu malu adalah dirinya sendiri. Karena tanpa ada yang tahu, ternyata Dena melakukan semua itu bukan semata-mata ingin membalas dendam atas kematian kakaknya. Tapi dia memang ingin memiliki Riyan sejak lama. Karena dia sudah lama mengenali sosok tampan dan kaya raya itu.
"Aku akan menghancurkan rumah tangga kalian. Kamu telah membuat keluargaku menderita. Dan ambisiku untuk memiliki suamimu, harus aku wujudkan. Bagaimanapun caranya." Dena kembali berkata-kata dalam hati tanpa mau menatap punggung Fara yang sudah berlalu bersama Riyan.
__ADS_1
"Mas,, kita mau langsung pulang?" Tanya Fara setelah mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kita mampir sebentar ke rumah pacar teman aku. Setelah itu bari kita pulang." Jawab Riyan dan langsung menjalankan mobilnya.
"Buat apa Mas?" Tanya Fara yang belum mengetahui tujuan suaminya.
"Nanti kami juga akan tahu." Jawab Riyan dengan tatapan lurus ke depan.
"Dari sana kita singga di mall ya Mas!" Pinta Fara.
"Buat apa?" Tanya Riyan.
"Aku mau membelikan parfum juga perawatan aku yang lainnya." Jawab Fara.
"Aku akan membelikan semua yang kamu mau. Asalkan kamu mau mengikuti apa yang aku mau." Ujar Riyan.
"Aku kan sudah mengikuti semua keinginanmu. Bahkan melakukan di kantor kamu." Ujar Fara.
"Itu kewajiban kamu sebagai seorang istri. Laki-laki akan selalu setia terhadap pasangannya. Kalau pasangannya memberikan semua yang dia inginkan." Ujar Riyan yang membuat Fara langsung menatapnya tajam.
"Maksud kamu apa Mas? Jadi kamu akan mendua apabila aku tidak mengikuti semua keinginanmu?" Tanya Fara dengan tatapan serius.
"Kalau aku terlahir dan di besarkan oleh kedua orang tua yang tidak setia pada pasangan, mungkin aku akan seperti yang kamu katakan. Tapi aku terlahir dari kedua orang tua yang sangat setia dan selalu menjaga komitmen dalam rumah tangga mereka." Jawaban Riyan yang membuat Fara langsung tersenyum dan memeluk lengannya.
"Aku tidak menginginkan apapun Mas. Aku hanya ingin kesetiaan mu." Ujar Fara.
"Sekarang dan selamanya, hanya kamu satu-satunya wanita di dalam hatiku. Jangan pernah menghawatirkan hal itu!" Ujar Riyan.
Mendengar jawaban suaminya, Fara merasa semakin bahagia. Dia juga semakin yakin untuk memiliki anak secepat mungkin. Karena itu hal pertama yang sangat di inginkan Riyan juga keluarga mereka.
__ADS_1