Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 205. Gagah Berani.


__ADS_3

Kepergian Anton telah menjadi pukulan keras bagi Riyan. Dia benar-benar merasa bersalah karena telah menganggap buruk sahabatnya itu. Namun semuanya sudah terlanjur. Anton sudah pergi menghadap sang pencipta. Riyan hanya bisa menyesali keadaan, karena tidak sempat mengucapkan kata maaf untuk sahabatnya. Walaupun kepergian Anton sudah menjelang beberapa hari, namun kesedihan masih terlihat jelas dari raut wajah Riyan.


Di hari pemakaman Anton, Riyan hanya bisa menangis bersama teman-temannya yang lain, yang turut menghadiri pemakaman Anton. Dia sangat merasa bersalah, karena tidak bisa menghadirkan putra Anton pada hari itu. Sebab tidak segampang itu mengambil seorang anak dari panti secara tiba-tiba. Tapi Riyan tidak menyerah untuk memenuhi janjinya kepada Anton.


Setelah pemakaman selesai, Riyan segera mengurus semua yang di perlukan untuk melakukan tes DNA. Karena hanya dengan itu, Riyan dapat mengambil putra Anton dari panti. Tes DNA adalah bukti kuat untuk Riyan kalau balita yang ada di panti itu adalah putra Anton.


Setelah beberapa hati menunggu, akhirnya hasil tes DNA Anton dan putranya pun keluar. Dan tanpa menunggu lama, pihak panti langsung mengantarkan putra Anton ke apartemen Riyan tepat pukul 3:30 sore. Melihat raut wajah balita di hadapannya, Riyan langsung tersenyum dan memeluknya erat sambil bergumam di dalam hatinya.


"Ton,, kamu tenang saja! Putramu akan aku antar kan kepada kakakmu, seperti janji yang aku ucapkan untukmu. Dia akan baik-baik saja walaupun kamu sudah tiada. Aku akan bertanggung jawab atas keselamatannya sebelum dia bertemu kakakmu."


Riyan berujar di dalam hati dengan mata berkaca-kaca, tanpa melepaskan pandangannya dari foto dia dan Anton di dinding apartemennya. Sedangkan balita yang ada di dalam pelukannya, hanya terdiam tanpa ekspresi, sambil memegang permainan Spiderman di tangannya. Dengan lembut Fara yang sudah bisa berjalan walaupun masih sedikit pusing, segera meraih lengan balita itu setelah Riyan melepaskannya.


"Sayang,, apa benar nama kamu Arsenio?" Tanya Fara sambil mengusap-usap wajah balita berkulit sawo matang yang hanya mengangguk menanggapinya.


"Siapa namanya?" Tanya Faris yang baru saja dari arah depan.


"Arsenio Pak. Tapi dia biasa di panggil Arsen." Jawab Ibu panti yang mengantar Arsenio ke apartemen Riyan. Dan beliau juga adalah kepala panti tersebut.


"Nama yang sangat cocok untuknya. Arsenio memiliki arti gagah pemberani. Wajah yang sangar juga kulit agak kecoklatan, membuat dia lebih sempurna dengan sebutan Arsenio." Ujar Faris sambil tersenyum menatap Arsenio.

__ADS_1


"Sudah berapa lama dia berada di panti itu Bu?" Tanya Reza di saat Fara sudah membawa Arsenio menuju dapur.


"Sejak delapan bulan yang lalu Pak. Dia di antar oleh sepasang suami istri tanpa identitas." Jawab Ibu panti itu.


"Maksudnya bagaimana? Ko Ibu bisa langsung terima seorang anak yang di antar tanpa identitas orang yang membawanya?" Tanya Reza dengan tatapan mencari tahu.


"Karena hari itu kebetulan saya tidak berada di panti. Dan orang yang mengantarnya itu tidak mau berlama-lama di panti. Mereka langsung pergi setelah membawa Arsenio ke sana." Jelas Ibu panti.


"Semua sudah mereka rencanakan." Sambung Faris.


"Terus bagaimana dengan Arsenio setelah ini Pak? Ayahnya kan sudah meninggal?" Tanya Ibu panti yang ternyata bernama Lauren. Wanita berkenegaraan Inggris.


"Iya Pak. Saya turut bahagia karena Arsen bisa bertemu keluarganya. Tapi ada sesuatu yang ingin saya sampaikan Pak." Ujar Ibu Lauren.


"Apa yang ingin Ibu sampaikan?" Rasa penasaran pun tumbuh di dalam benak Riyan mendengar perkataan Ibu Lauren.


"Arsen berbeda dengan anak-anak balita pada umumnya. Di usianya saat ini, semestinya dia lebih aktif dan ceria. Tapi dia tidak seperti itu. Dia seperti tertekan dengan sesuatu." Jelas Ibu Lauren.


"Dia lebih banyak diam dan selalu menyendiri. Berbagai cara sudah kita lakukan. Termasuk berkonsultasi dengan Dr juga psikiater anak." Tambah Ibu Lauren.

__ADS_1


"Saya akan berusaha untuk mempertemukan dia dengan pamannya. Biar dia bisa mendapatkan perhatian juga kasih sayang yang mungkin bisa merubahnya jadi lebih ceria." Sambung Riyan.


Sebelum berangkat ke Jerman, Riyan mengurus semua urusan dia dan Fara di Kampus. Riyan dan Fara memutuskan untuk cuti selama dua bulan. Dan dua bulan itu rencananya akan mereka habiskan di Malaysia bersama kedua orang tua Riyan. Selama beberapa hari bersama Arsen, Fara semakin terlihat mandiri juga dewasa. Dia mengurus Arsen dengan penuh kasih sayang selayaknya seorang Ibu. Namun hal itu pada akhirnya membuat dia benar-benar bersedih, karena pada akhirnya Arsen akan pergi meninggalkan mereka.


Pagi itu Fara duduk di sofa ruang keluarga dengan berlinang air mata. Dia tidak bisa menatap Arsen yang sedang di urus oleh salah seorang pembantunya. Hari itu dia harus kehilangan Arsen. Karena dua jam lagi Riyan akan terbang membawanya menuju Jerman. Sementara dia sendiri hati itu juga akan kembali ke Indonesia bersama Papanya. Sedangkan Reza sudah duluan berangkat pagi tadi menuju Malaysia.


Fara memutuskan untuk kembali ke Indonesia bersama Papanya, untuk melihat keadaan keluarganya. Dia akan menunggu sampai Riyan kembali dari Jerman, dan membawanya ke Malaysia. Melihat keadaan Fara, Riyan yang baru saja turun dari lantai atas segera menghampirinya. Dengan begitu lembut, Riyan merangkul pundak Fara sambil berujar.


"Sayang,, kita bisa melihat keadaannya nanti kalau kita punya waktu. Kamu tidak boleh seperti ini! Mental Arsen bisa semakin tertekan apabila melihat kamu menangis kaya gini." Ujar Riyan mencoba menenangkan Fara.


"Iya Mas. Tapi aku tu sudah terlanjur sayang sama dia. Dia anak yang baik. Tidak banyak mau juga tidak merepotkan orang." Jawab Fara sambil buru-buru menghapus air matanya, setelah melihat Arsen di antar Bibi menuju ruang keluarga.


"Halo sayang,,, kamu ganteng banget. Sini duduk di samping Tante." Fara berusaha untuk ceria di depan Arsen, yang hanya terdiam seperti biasanya.


Di saat Arsen sudah berada di sampingnya, Fara yang tidak kuasa menahan kesedihannya kembali berlinang air mata. Tapi karena tidak ingin Arsen melihatnya, Fara segera membuang muka sambil menutup mulut dengan sebelah tangan menahan tangisnya.


"Arsen,, kamu bahagia ngga mau ketemu Om kamu di Jerman?" Riyan langsung bersuara setelah melihat keadaan Fara yang sudah tidak bisa untuk berkata-kata.


"Aku rindu sama Om Tante." Jawaban Arsen yang membuat Fara semakin bersedih.

__ADS_1


Kasih sayang tulus yang di berikan Fara dan Riyan telah tertanam di dalam hati Arsen. Bukan hanya Fara saja yang berat melepaskan kepergiannya. Arsen pun merasakan hal yang sama di lihat dari sikap juga jawabannya barusan. Sejak semalam Arsen tidak bisa tertidur seperti malam-malam biasanya. Dia seperti tidak ingin melewati waktu sisanya bersama Riyan dan Fara.


__ADS_2