Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 98. Wanita Pertama Di Dalam Hati Riyan.


__ADS_3

Pagi itu udara begitu dingin menembus tulang. Membuat kedua insan yang saling berpelukan menghangatkan satu sama lain, semakin betah di dalam selimut tanpa ingin membuka mata. Siulan burung di pagi itu, bagaikan lagu pengantar tidur yang menghanyutkan Riyan dan Fara dalam mimpi indah mereka. Tapi di saat tangan Riyan yang mulai bereaksi tanpa sadar di bagian dada Fara, membuat Fara akhirnya terbangun.


Fara yang merasa geli dengan sentuhan suaminya, langsung meraih tangan Riyan dan terduduk dengan wajah yang terlihat kaget. Sedangkan Riyan yang sama sekali tidak sadar akan perbuatannya, masih tetap memejamkan matanya sambil memeluk guling, dengan tampang yang terlihat seperti seorang bayi yang sedang terlelap. Dengan pancaran senyum di wajah cantiknya, Fara pun mulai berkata-kata di dalam hatinya, sambil menatap wajah tampan suaminya.


"Benar apa kata orang. Laki-laki dingin dan cuek itu, adalah sosok laki-laki yang sangat buas di atas tempat tidur. Tapi mereka selalu menyembunyikan jati diri mereka dengan sikap dingin mereka."


Fara terlihat begitu bahagia, walaupun dia masih merasa sedikit malu atas apa yang terjadi semalam. Tanpa sadar, dia sendiri mengagumi keperkasaan suaminya, dalam memenuhi kebutuhan batinnya sebagai seorang istri. Tapi di sisi lain, dia pun merasa khawatir dengan kesempurnaan suaminya, yang selalu dapat menarik perhatian wanita.


"Mas Riyan adalah laki-laki yang sangat sempurna. Banyak wanita yang menginginkan sosok pendamping seperti dia. Apa dia akan selalu menjaga janji pernikahan kita? Ataukah dia akan berpaling setelah merasa bosan denganku?" Fara bertanya-tanya sendirian, tanpa menyadari kalau Riyan sudah terbangun.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Riyan yang membuat Fara langsung menatapnya kaget.


"Tidak usah memikirkan sesuatu yang hanya akan menjadi beban. Aku bukan laki-laki seperti yang kamu pikirkan." Tambah Riyan dan langsung bergegas mengenakan celana pendeknya.


"Apa Mas akan menduakan aku?" Tanya Fara lagi sambil menundukkan kepalanya.


"Mengapa kamu bertanya seperti itu? Aku tidak ingin ada pertengkaran lagi, hanya karena pemikiran mu yang tidak beralasan." Ujar Riyan sambil melangkah menuju jendela.


"Tapi kita adalah dua orang yang sangat berbeda. Bisa saja Mas merasa bosan, di saat lelah menghadapi sikapku." Ujar Fara sambil menatap Riyan dari arah belakang.


"Fara,, aku dan kamu memang ada di titik beda yang nyata. Tapi aku tahu kita bisa menyatukan perbedaan itu, dengan rasa yang ada di dalam hati kita. Dan aku ingin perbedaan kita ini, bisa membuat kita untuk selalu bicara. Bukan terdiam dengan pikiran yang akan membebani kita." Perkataan Riyan yang membuat Fara langsung terpaku tanpa suara.

__ADS_1


"Jangan lagi kamu berpikir seperti itu! Aku terdiam bukan karena tak perduli. Tapi itulah aku, hanya bisa menunjukan rasa dengan sikap. Bukan kata-kata seperti yang sering di lakukan laki-laki pada umumnya." Tambah Riyan sambil melangkah mendekat ke arah Fara, yang hanya menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Mas,, mungkin diriku bukanlah wanita pertama di dalam hidupmu. Tapi kamu adalah laki-laki pertama yang ada di dalam hati dan pikiranku. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Karena kalau sampai itu terjadi, maka duniaku akan runtuh." Ujar Fara dengan nada suara bergetar karena menahan tangis.


"Kamu memang bukan wanita pertama di dalam hidupku. Tapi kamu adalah wanita pertama di dalam hatiku. Jadi tidak usah kau ragu dengan kesungguhan ku. Karena hatiku hanya untukmu selamanya." Riyan mencoba meyakinkan Fara, dengan tatapan penuh kesungguhan.


Mendengar perkataan Riyan, Raut wajah Fara langsung berubah seketika. Dia benar-benar kecewa dengan pengakuan Riyan. Kalau dia memang bukan wanita pertama di dalam hidupnya. Tanpa berkata-kata, Fara langsung memundurkan posisi duduknya dan membuang mukanya, yang membuat Riyan merasa sangat bingung.


"Ada apa lagi?" Tanya Riyan dengan tatapan mencari tahu.


"Kalau aku bukan wanita pertama di dalam hidupmu, untuk apa kamu harus mengatakannya?" Tanya Fara tanpa mau menatap Riyan.


"Tapi aku tidak ingin mengetahui itu. Istri mana yang bisa menerima ternyataan, kalau dia bukan wanita pertama di dalam hidup suaminya." Ujar Fara sambil menatap Riyan dengan tatapan penuh kekesalan.


"Fara,, tadi aku bilang apa? Aku ingin perbedaan kita selalu membuat kita untuk bicara. Semua istri bukanlah wanita pertama di dalam hidup suaminya. Begitupun dengan seorang suami. Dia bukan laki-laki pertama di dalam hidup istrinya." Ujar Riyan yang membuat Fara bingung.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu? Aku tidak pernah memiliki laki-laki selain kamu." Fara berkata-kata seperti itu, karena merasa tidak terima dengan perkataan suaminya.


"Jadi Papa kamu itu bukan laki-laki?" Tanya Riyan dengan tatapan datarnya, yang membuat kening Fara langsung berkerut.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan." Ujar Fara.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa mengerti? Kalau di dalam kepalamu ini, hanya ada pikiran buruk tentangku." Ujar Riyan sambil mendorong kepala Fara dengan jari telunjuknya.


"Wanita pertama di dalam hidupku itu adalah Ibuku. Dan laki-laki pertama di dalam hidupmu adalah Papamu. Terkecuali Papamu itu banci." Ujar Riyan yang membuat Fara langsung malu.


"Makanya,, kamu itu jangan terlalu berpikiran buruk padaku. Yang pastinya aku itu sekarang sudah menjadi suamimu. Dan hubungan kita bukanlah suatu permainan, yang bisa di hentikan kapanpun kita mau." Tambah Riyan yang membuat Fara langsung tersenyum dan memeluknya tanpa berkata-kata.


Fara yang merasa sangat bahagia atas penjelasan Riyan, langsung memeluk Riyan yang sedang bertelanjang dada, tanpa menyadari kalau selimut yang menutupi tubuhnya sudah terlepas. Dan itu membuat Riyan seketika jadi menegang. Hasrat Riyan pun seketika bangkit. Ingin sekali dia melanjutkan permainannya semalam. Namun karena mengingat waktu kerjanya, dia pun segera melepaskan pelukan Fara sambil bertanya.


"Fara,, apa kamu ingin menggodaku?" Tanya Riyan sambil menahan gejolak yang sudah mulai merasuki pikirannya.


"Siapa yang mau menggodamu? Memangnya salah kalau aku memelukmu?" Tanya Fara sambil melepaskan pelukannya tanpa menyadari keadaannya.


"Terus buat apa kamu memelukku dengan keadaan seperti itu?" Tanya Riyan sambil menatap ke arah bagian bawah Fara, yang terpampang nyata di depannya.


Melihat tatapan Riyan yang tertuju ke daerah terlarangnya, Fara langsung menunduk dan menatap ke arah yang sama. Dan setelah menyadari keadaannya, dengan buru-buru dia langsung menarik selimutnya, untuk menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benang sambil berterik.


"Dasar jelalatan..." Teriak Fara sambil menutup mata karena merasa sangat malu.


"Bukan aku yang jelalatan. Tapi kamu yang kecentilan. Wajar kan kalau aku menikmati pemandangan indah yang sudah ada di depan mataku?" Tanya Riyan yang membuat Fara langsung buru-buru turun dari tempat tidur. Kemudian berlari menuju kamar mandi tanpa berani menatap Riyan.


Melihat ekspresi Fara, Riyan langsung tertawa lepas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Riyan yang selalu berekspresi datar, jadi tertawa selepas itu karena tingkah Fara yang terlihat seperti anak kecil. Sedangkan Fara yang sangat malu atas kecerobohannya sendiri, segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa menoleh ke arah belakang.

__ADS_1


__ADS_2