
Sampainya di depan bar besar yang setiap malam di penuhi banyak pengunjung, Riyan langsung memarkirkan mobilnya setelah melihat beberapa temannya sedang berdiri di dekat pintu masuk, sambil melambaikan tangan ke arahnya. Setelah turun dari mobil, Riyan pun melangkah menghampiri mereka dengan tampang yang terlihat sangat datar.
"Bro,, kenapa tampang kamu seperti itu?" Tanya Erlando salah seorang teman baik Riyan, dengan menggunakan bahasa Inggris setelah Riyan berada di depan mereka.
"Ngga apa-apa. Setiap hari juga aku seperti ini." Jawab Riyan dingin dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Tapi kali ini kamu aneh bangat. Kalau aku pasti sangat bahagia di saat kembali dari negara asal ku. Karena kita kan lama baru bisa pulang ke negara kita." Sambung Arlan sambil menatap Riyan yang tetap berekspresi datar.
"Aku cuman kecapean saja berjam-jam dalam pesawat." Jawab Riyan dingin.
"Sudah-sudah! Sebenernya kita mau masuk ke dalam, atau hanya mau mempertanyakan ekspresi Riyan di sini?" Sambung Exel salah satu teman Riyan yang berasal dari Prancis.
"Tapi tunggu dulu! Sebelum masuk aku mau mengenalkan saudaraku terlebih dulu kepada Riyan. Yan,, kenalin ini Saudara aku Deni." Ujar Arlan memperkenalkan saudaranya yang berdiri tepat di sampingnya.
"Hay,,, aku Riyan." Ujar Riyan sambil mengulurkan tangannya ke arah Deni.
"Kenalkan aku Deni. Seorang manajer di salah satu hotel berbintang yang ada di depan sana." Ujar Deni sambil menyebut uluran tangan Riyan, dengan tampang yang terlihat sedikit sombong menunjuk ke arah hotel berbintang, yang menjulang tinggi di sebelah jalan raya.
"Ooo,,, hebat ya?" Riyan mengeluarkan kata pujian namun dengan ekspresi yang sedikit aneh.
Melihat tingkah Deni yang terkesan sombong, Riyan hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata panjang lebar. Sedangkan beberapa temannya yang lain termasuk Arlan, juga ikut memuji Deni. Mereka semua sama sekali tidak mengetahui siapa Riyan sebenarnya, dan apa saja yang dia miliki di negara besar itu. Karena Riyan orang yang tidak suka bersikap sombong dan pamer.
__ADS_1
"Hebat bangat kamu bisa menjadi seorang manajer, di hotel berbintang di usia yang masih sangat muda." Ujar Erlando memuji Deni.
"Iya,, aku saja melanjutkan S2 masih di biayai orang tua." Tambah Exel.
"Iya,, aku juga merasa sangat bangga dengan saudaraku ini. Malah dia yang selalu membantu aku di saat aku sedang butuh." Sambung Arlan membanggakan saudaranya.
Sedangkan Riyan malah merasa aneh dengan sikap Deni yang sedikit berlebihan. Riyan yang sudah di lahir kan dengan harta yang berlimpah, tidak pernah menyombongkan apa yang dia miliki. Seperti apa yang baru saja di lakukan oleh Deni. Walaupun memiliki beberapa aset juga bisnis yang penghasilannya selangit, namun Riyan tidak pernah menceritakan semua itu kepada siapapun. Bahkan kepada istrinya sendiri.
"Yan,, kamu kerja di mana?" Tanya Deni di saat Riyan sedang merasa aneh dengan sikapnya yang berlebihan.
"Dia mahasiswa seperti kita, yang hidup hanya mengharapkan pemberian orang tua." Sambung Arlan sambil tertawa yang membuat beberapa temannya ikut tertawa termasuk Deni.
Mendengar apa yang di katakan oleh Arlan, Deni semakin bertingkah karena merasa dia yang paling hebat dari beberapa orang yang ada bersamanya. Namun seketika matanya tertuju kepada mobil Riyan yang terparkir sedikit jauh dari arah mereka. Dan dengan tatapan bingung dia pun bertanya.
"Itu mobil tetangga aku. Aku menyewanya untuk datang ke sini." Jawab Riyan berbohong.
"Hahahahahaha. Riyan,, Riyan. Kamu sampai bela-belain menyewa mobil orang biar bisa di lihat keren di tempat yang banyak bidadari ini." Ujar Exel sambil tertawa.
"Kalian tenang saja. Kalau kalian membutuhkan mobil biar bisa terlihat keren, hubungi aku saja. Biar aku yang urus. Bos aku punya banyak mobil mewah." Ujar Deni dengan begitu percaya diri.
Tanpa menunggu lama, Riyan yang sudah mulai jenuh dengan kesombongan Deni, langsung melangkah masuk ke dalam bar besar itu tanpa berkata apa-apa. Itulah sifatnya Riyan. Dia tidak betah bila berlama-lama dengan orang yang bersikap sombong ataupun angkuh. Karena apa yang dia lihat dalam keluarga besarnya, mereka selalu bersikap biasa-biasa saja walaupun hidup dengan harta yang berlimpah semenjak lahir. Dan kesederhanaan adalah sifat yang selalu di tanamkan dalam keluarga mereka.
__ADS_1
Sampainya di dalam bar besar itu, Deni langsung memesan beberapa botol minuman, juga lima orang pramuria untuk menemani mereka minum. Namun Riyan yang mendengar semua itu langsung bersuara.
"Aku tidak butuh di temani. Kalian saja yang memakai jasa pramuria. Aku bisa menuangkan minumanku sendiri." Ujar Riyan sambil mengotak-atik layar ponselnya.
"Kenapa kamu ngga mau di temani Yan?" Tanya Deni bingung.
"Dia memang seperti itu. Setiap kali datang ke sini, dia tidak pernah mau di temani oleh pramuria walaupun tanpa di bayar." Sambung Exel yang membuat Deni langsung terdiam.
"Yan,, kamu itu jangan terlalu dingin sama wanita. Nanti kamu ngga akan bisa menikah. Karena sikap kamu itu selalu membuat wanita-wanita pergi dan Takan kembali lagi. Contohnya beberapa wanita yang pernah menjadi pacar kamu." Sambung Erlando.
"Wanita-wanita yang dia pacari itu ngga pergi meninggalkannya. Malah dia yang memilih meninggalkan mereka." Sambung Exel yang sangat mengetahui hubungan asmara Riyan setiap kali dia punya kekasih.
"Kenapa bisa seperti itu?" Tanya Deni bingung.
"Karena wanita-wanita yang pernah menjadi pacarnya itu sama sekali tidak dia cintai. Mereka yang selalu mengejar-ngejarnya dan memaksanya untuk menjadi pacar mereka. Akhirnya dengan terpaksa dia menerimanya namun itu tidak bertahan lama. Hahahaha.." Tambah Exel sambil tertawa karena merasa lucu dengan hubungan asmara Riyan.
Mendengar cerita tentang Riyan Deni merasa sedikit kesal. Karena menurut dia Riyan termasuk laki-laki yang munafik, bersikap seperti itu di negara yang terbilang sangat bebas. Apalagi di saat Riyan menolak tawarannya untuk di temani pramuria yang sudah di panggilnya tadi.
"Kalau aku benar-benar ngga tahan melihat wanita cantik. Bahkan setelah aku menikah mungkin aku tidak akan berhenti, untuk menghabiskan malam-malam ku di tempat seperti ini dengan keadaan seperti saat ini." Ujar Deni sambil memeluk dan meraba bagian dada seorang pramuria, yang ada di sampingnya karena dia sudah mulai terpengaruh dengan minuman keras yang dia konsumsi.
"Iya,, apalagi kalau kita sudah menikah. Istri kita ngga bakalan tahu apa yang sedang kita perbuat di luar rumah. Asalkan kita mainnya cantik." Sambung Erlando yang juga sama-sama tidak punya etika.
__ADS_1
Mendengar apa yang di katakan oleh Deni dan Erlando, Riyan seketika jadi merasa bersalah karena telah pergi meninggalkan istrinya di apartemen sendirian. Dia tidak ingin menjadi suami seperti apa yang di katakan kedua laki-laki di depannya itu. Karena di dalam keluarganya, tidak di ajarkan untuk menjadi penghianat terutama di dalam rumah tangga.