Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 29. Kecurigaan.


__ADS_3

Kekhawatiran Faris akan keseriusan Farel terhadap Melda sedikit mengganggu pikirannya. Dia merasa sedikit ragu dengan Farel yang sebentar lagi akan menjadi suami Melda. Farel yang lebih mengutamakan pekerjaannya dari pada Melda, membuat Faris merasa ada yang aneh.


Faris adalah orang yang tidak mudah untuk mempercai orang lain. Apalagi orang yang baru dia kenal tanpa mengetahui kepribadian mereka. Kecurigaan Faris bukanlah sesuatu yang berlebihan, tapi semua itu terjadi karena sikap Farel yang terlalu cuek terhadap Melda, sebagai calon suaminya.


Sampainya di depan pintu ruang rawat Melda, langkah Faris seketika langsung tertahan, di saat meliaht pemandangan di dalam sana. Melda yang sedang terduduk di atas tempat tidurnya, hanya terdiam sambil menatap ke arah jendela dengan berlinang air mata. Melihat semua itu, membuat Faris sangat tidak tega sebagai seoarang kakak.


Hati Faris bagai tersayat melihat penderitaan adik perempuannya itu. Dia tidak bisa membayangkan beban berat yang harus di tanggung oleh Melda. Apalagi Melda bukanlah gadis yang kuat. Dia hanyalah gadis manja yang di besarkan dengan penuh kasih sayang oleh kadua orang tuanya.


Dengan tatapan penuh kesedihan, Faris pun segera mengetuk pintu, yang membuat Melda jadi kaget dan segera berbalik menatapnya. Melihat keberadaan Faris, air mata Melda semakin meluncur deras dengan isakan tangis, yang membuat Faris langsung melangkah masuk dan mendekap tubuh rapuh itu sambil berkata.


"Kamu harus kuat Mel! Mas yakin, di balik semua cobaan ini, sudah ada kebahagiaan yang sedang menantimu." Faris berkata-kata mencoba untuk menenangkan Melda.

__ADS_1


Apa yang di ucapkan oleh Faris barusan, malah membuat Melda semakin menangis tersedu-sedu. Rasa sakit atas derita yang dia alami, membuatnya sampai kehilangan harapan untuk bahagia di kemudian hari. Dengan suara yang begitu bergetar, Melda yang hanya membisu selama dua hari di Rs akhirnya bersuara.


"Aku tidak akan pernah bahagia lagi Mas." Perkataan Melda yang membuat Faris segera melepaskan pelukannya, dan menatap wajah Melda sambil berkata.


"Kamu tidak boleh berkata sepeti itu! Semua orang berhak bahagia." Ujar Faris sambil mengusap-usap kepala Melda dengan penuh kasih sayang.


"Kebahagiaanku sudah pergi tanpa meninggalkan jejak." Melda kembali berkata-kata sambil terus menangis, yang membuat Faris semakin tidak tega melihat keadaannya.


"Kenapa kamu harus berkata seperti itu? Saat ini masih ada orang-orang yang sangat menyayangimu. Kita semua tidak akan membiarkanmu menderita." Ujar Faris sambil terus mengusap-usap kepala Melda.


"Mel,, sukurlah kamu sudah mau berbicara. Mama dan Papa sangat khawatir di saat kamu hanya terdiam." Kata Mama Alira sambil melangkah menghampiri Melda dan Faris.

__ADS_1


"Bersemangatlah untuk sembuh sayang!Karena tidak lama lagi kamu akan menjadi pengantin, dan kamu akan bahagia nantinya bersama Farel." Sambung Papa Fahri yang membuat raut wajah Melda berubah seketika.


"Iya sayang. Besok Farel sudah datang menjengukmu." Ujar Mama Alira sambil memeluk Melda, yang hanya terdiam dengan berlinang air mata.


Hati Melda begitu sangat sakit mendengar nama itu. Dia sakit hati bukan lantaran dia cemburu atas perselingkuhan Farel. Tidak akan pernah ada rasa cemburu di dalam hati Melda, karena hubungan yang telah mengikatnya itu, hanya lantaran perjodohan tanpa ada rasa cinta sedikitpun.


Melda begitu membenci laki-laki pengecut itu, karena dengan mata kepalanya, dia melihat sendiri kalau Farel yang sengaja ingin menabrak mobil mereka, sampai kecelakaan itu pun terjadi yang membuat kedaannya jadi seperti itu. Dia tidak akan pernah menolak pernikahannya dengan Farel. Tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau dia akan mengakhiri hidupnya sendiri sebelum pernikahan itu terjadi.


Melda yang menahan rasa sakit tanpa bisa di ungkapkan, hanya bisa meneteskan air mata di dalam pelukan Mama Alira. Betapa menderitanya gadis malang itu, di saat tidak ada yang mengetahui isi hatinya. Mama Alira juga Papa Fahri sama sekali tidak mengerti tangisan Melda. Tapi tidak untuk Faris yang sejak tadi sedang memperhatikan raut wajah adiknya. Faris yang berdiri tepat di dapan pintu toilet di dalam ruangan itu, merasa ada yang aneh dengan ekspresi Melda di saat mendengar nama Farel.


__ADS_1


Tanpa berkata apa-apa, Faris langsung melangkah pergi meninggalkan ruang rawat Melda menuju parkiran. Karena rasa penasaran yang begitu besar, membuat Faris sampai tidak sempat untuk berpamitan kepada Aleta, yang sedang bersama Alfa di ruang rawatnya.


Faris melangkah menuju mobilnya yang sedang terparkir di parkiran sambil menghubungi seseorang. Entah siapa yang dia hubungi, tapi dia terlihat begitu serius berbicara dengan orang di balik telepon itu.


__ADS_2