
Penampilan Fara benar-benar membuat Riyan yang baru memasuki kamar, jadi mematung dengan raut wajah yang menegangkan. Dia menatap bentuk tubuh istrinya yang begitu indah, dari arah belakang tanpa mampu untuk berkata-kata. Apalagi di saat mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Fara, yang seketika langsung memancing pikiran liarnya. Untung saja Fara cepat menyadari keberadaan Riyan, di saat melihat bayangannya di dalam cermin besar yang ada di depannya.
"Mas... Ngapain kamu di situ?" Tanya Fara sambil berbalik menatap Riyan, yang sudah membuang muka darinya.
"Aku mau bersiap-siap. Memangnya kenapa?" Tanya Riyan dengan tampang yang terlihat gugup.
"Bohong ya kamu? Kalau memang mau bersiap-siap, mengapa kamu terdiam di situ dan menatapku seperti itu?" Tanya Fara dengan tatapan penuh curiga.
"Aku hanya ingin berdiri sebentar saja di sini. Memangnya ngga boleh..?" Tanya Riyan datar.
"Bohong.. Aku tahu kamu sedang melihat aku. Iya kan..?" Tanya Fara tidak percaya.
"Iya, memang benar. Tapi yang lebih tepatnya, aku tu berdiri di sini karena merasa penasaran, dengan apa yang tadi kamu katakan." Jawab Riyan yang membuat Fara langsung kaget mengingat kata-kata yang tadi dia ucapkan.
Riyan menjawab pertanyaan Fara dengan begitu santainya. Sedangkan Fara yang begitu terkejut mendengar jawaban suaminya, merasa sangat malu dan memilih untuk langsung berbalik membelakanginya, sambil berkata-kata di dalam hati.
"Dasar stupid... Mengapa aku begitu bodoh? Dia pasti sedang menertawaiku. Aduh... Aku malu bangat.."
Fara berkata-kata di dalam hatinya tanpa berani melirik Riyan, walau hanya lewat cermin yang ada di depannya. Dia hanya menundukkan kepalanya sambil berpikir, kalau saat itu Riyan sedang menertawainya di belakang sana.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu tetap mematung di depan cermin seperti ini?" Suara Riyan yang terdengar begitu jelas di belakangnya.
"Awas sana! Aku tu mau ganti baju. Kamu juga cepat bersiap-siap! Soalnya aku paling ngga suka dengan yang namanya menunggu." Tambah Riyan yang sudah berada tepat di samping Fara.
"Mas mau apa..?" Tanya Fara dengan kepala yang masih tetap tertunduk, karena masih sangat malu dengan suaminya.
"Aku mau melahap mu. Itu kan yang ada di dalam pikiranmu?" Tanya Riyan sambil menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya. Sedangkan Fara serentak langsung menatapnya, dengan mata terbuka lebar sambil bertanya.
"Apa... Apa Mas sudah gila..? Lagian siapa juga yang berpikir seperti itu?" Ujar Fara sambil memalingkan wajahnya ke samping.
"Kalau benar kamu tidak punya pemikiran seperti itu, mengapa sampai kamu tidak berani untuk menatapku?" Tanya Riyan sambil melirik ke arah Fara.
Dengan posisi wajah yang begitu dekat, membuat Riyan dan Fara seketika jadi terpana satu sama lain. Mata indah Fara begitu bening dan menggoda, yang mampu membuat laki-laki kaku di depannya itu, tenggelam dalam pemikiran yang tidak pernah bisa di kendalikan. Sedangkan Fara yang sudah seperti patung di depan Riyan, tidak mampu untuk membohongi hatinya yang selalu menginginkan sentuhan dari suaminya.
Fara yang tadinya menyangkal apa yang di katakan oleh Riyan, kini terlihat begitu menuntut dari pancaran matanya. Tatapan mata Fara benar-benar melumpuhkan pertahanan Riyan. Tanpa berkata-kata, Riyan yang sudah tidak bisa menahan diri, dengan gerakan cepat menarik kepala Fara, dan melahap *****nya dengan begitu rakus. Fara yang juga mengingatkan akan hal itu, sama sekali tidak menolak. Malah dia langsung membalasnya tanpa menunggu waktu lama.
Jarum jam terus berputar menunjukan kalau waktu sudah semakin siang. Tapi kedua insan yang ada di dalam gairah yang membara, sama sekali tidak ingin menghentikan apa yang sedang mereka lakukan. Bibir mereka semakin bereaksi satu sama lain. Tangan Riyan yang tadinya diam kini mulai bergerak mencari sasaran. Dan di saat tangannya hendak bereaksi di bagian kedua gunung kembar, tiba-tiba ada suara ketukan pintu yang membuat Fara langsung mendorongnya, dengan tampang yang terlihat begitu panik.
"Siapa...?" Tanya Riyan dengan nada yang terdengar kesal, sambil melangkah menuju pintu kamar.
__ADS_1
"Pak Riyan,, aku sudah selesai bersiap-siap." Jawab Semi dari luar kamar.
"Ya sudah. Kamu tunggu saja di bawah. Sebentar lagi kita turun." Jawab Riyan sambil menggaruk-garuk kepalanya, dengan tampang yang terlihat begitu datar.
Keinginan Riyan yang sudah sangat memuncak, terpaksa harus di tahan karena kedatangan Semi. Betapa sulit keadaan Riyan di saat itu. Di sisi lain, dia ingin sekali melanjutkan permainan panas yang terhenti, karena kedatangan Semi. Tapi dia tidak mungkin meminta itu secara langsung kepada Fara. Apalagi Semi sudah menunggu mereka untuk berangkat ke villa. Sambil melangkah menuju tempat tidur, Riyan pun mulai bergumam di dalam hatinya. Mengeluarkan segala keluh kesahnya saat itu.
"Semi... Semi... Mengapa sih kamu harus datang di saat yang tidak tepat? Kedatangan mu benar-benar membuatku tersiksa.
Riyan yang sudah berdiri di tepi ranjang sambil mengenakan kemejanya, hanya bisa menatap Fara yang sedang mengenakan dress berwarna hitam, tanpa bisa berkata apa-apa. Tubuh Fara yang begitu indah nan putih, bagaikan nikotin yang membuat Riyan kecanduan. Seluruh syarafnya akan lemah di saat keinginan itu menguasai dirinya.
"Mas,, tolongin dong!" Ujar Fara sambil berusaha menaikan resleting bajunya, yang tidak bisa dia naikan sendiri.
"Sini!" Sambung Riyan dengan tampang yang sangat tidak bersemangat.
"Mas,, kamu kenapa sih?" Tanya Fara tanpa menatap Riyan yang sedang menaikan resleting bajunya.
"Ngga apa-apa. Memangnya ada apa?" Tanya Riyan datar.
"Tampang Mas itu seperti orang kelaparan." Jawab Fara sambil tertawa di dalam hatinya.
__ADS_1
Kekesalan Riyan semakin bertambah mendengar apa yang di katakan oleh istrinya. Dia merasa benar-benar kalah oleh keadaan. Tapi Riyan bukanlah orang yang gampang berputus asa. Karena menurutnya, masih ada banyak waktu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.