
Di dalam ruangan itu terjadi pertempuran yang begitu dahsyat, oleh sepasang suami istri yang sedang di bakar hasrat yang membara. Riyan yang sangat perkasa, begitu kuat dalam pertempuran yang sudah terjadi hampir satu jam. Tapi Fara yang sudah merasa kelelahan juga kesakitan di bagian bawahnya, langsung menangis dan merengek untuk meminta Riyan mengakhiri permainannya.
"Mas,, sakit... Sudah dong Mas..!" Fara berkata-kata sambil memejamkan matanya, menahan kesakitan yang di sebabkan oleh Riyan, yang sedikit memiliki ukuran senjata melebihi ukuran normal.
"Iya,, sebentar lagi sayang." Jawab Riyan dengan suara yang terdengar parau, sambil terus melancarkan serangannya.
Sebagai seorang laki-laki, berhenti di tengah-tengah pertempuran yang belum di selesaikan, bagaikan arwah penasaran yang tidak akan bisa tenang. Begitupun keadaan Riyan, yang tidak bisa untuk menyudahi semuanya sebelum hasratnya terpuaskan. Karena tidak tega melihat keadaan Fara yang sedang menahan sakit sambil mencengkram pundaknya, Riyan pun akhirnya memilih untuk memalingkan wajahnya, sambil terus melancarkan serangannya.
"Mas,,, sakit..." Hiks...hiks...hiks.." Rengekan Fara kembali terdengar di telinga Riyan. Dan tanpa menjawab apa-apa, Riyan malah semakin mempercepat gerakannya, dan tiba-tiba dia pun tumbang di atas Fara, dengan sekujur tubuh bergetar karena telah mencapai puncaknya.
Riyan benar-benar merasa puas dengan permainannya siang itu. Sedangkan Fara terlihat sudah seperti kain yang lapuk, di atas tempat tidur yang sangat berantakan, karena permainan mereka yang begitu bebas. Riyan yang sudah berlutut di depan Fara, langsung mengecup kening Fara sambil berkata.
"Maafkan aku." Ujar Riyan sambil mengecup kening Fara dengan penuh kasih sayang, juga rasa bersalah atas perbuatannya.
Setelah itu Riyan pun langsung berbaring di samping Fara, sambil mendekap tubuh yang lemah itu ke dalam pelukannya. Melihat Riyan yang sudah memejamkan mata sambil memeluknya, Fara jadi kebingungan melihat Riyan, yang memilih untuk tidur tanpa membersihkan badannya terlebih dulu. Apalagi di bagian mulut Riyan, masih ada bekas-bekas cairan yang tadi dia sedot berulang-ulang.
"Mas,, ko kamu langsung tidur?" Tanya Fara sambil menatap Riyan dengan tampang kebingungan.
"Memangnya kenapa?" Tanya Riyan tanpa membuka matanya.
"Kamu ngga merasa geli dengan keadaanmu sekarang?" Tanya Fara lagi.
"Memangnya ada apa dengan keadaanku?" Tanya Riyan sambil membuka matanya menatap Fara.
__ADS_1
"Tu lihat mulut kamu. Masih ada sisa-sisa itu.." Ujar Fara malu-malu tanpa mau mengatakan, apa yang ada di sekitar mulut suaminya.
"Itu apa..? Cairan yang tadi? Malah kalau ada aku mau nambah lagi. Mana? Tunjukan sama aku ada di sebelah mana? Biar aku bersihin dengan lidahku." Ujar Riyan sambil menatap Fara dengan tatapan menggoda.
"Iiiih,, Mas... Kamu ko jorok bangat sih..? Sana mandi dulu..!" Ujar Fara sambil mendorong Riyan yang tidak mau melepaskan pelukannya.
"Kamu juga harus mandi. Punya kamu tadi keluar banyak bangat. Makannya, jadi cewek jangan terlalu ganjen. Nanti di lahap baru merengek minta ampun." Kata-kata Riyan yang berhasil membuat Fara malu setengah mati.
"Apa-apaan sih kamu Mas..? Aku merengek juga karena kamu. Di luar dinginnya minta ampun. Tapi pas di kamar, kamu sudah seperti orang kerasukan drakula, yang sedot sana sini." Celoteh Fara tanpa menatap Riyan yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Kamu tu bukan hanya ganjen dan ceroboh. Tapi juga cerewet. Di saat marah, mulut kamu tu sudah seperti dukun yang lagi baca mantra." Ujar Riyan yang membuat Fara langsung berbalik dan menggigit dadanya.
"Aaaw,,, Fara jangan...!" Teriak Riyan sambil berusaha mendorong kepala Fara untuk menjauh.
"Sekali lagi kamu melakukan itu, tidak akan aku kasih ampun biar kamu merengek, bahkan berteriak sampai seisi apartemen ini dengar." Ujar Riyan yang membuat Fara langsung tertawa.
"Apa sih yang kamu bicarakan? Ayo kita mandi bareng!" Ujar Riyan yang seketika malu dengan perkataan Fara, sambil beranjak turun dari tempat tidur.
"Mas,, apa kamu tidak malu?" Tanya Fara sambil menatap Riyan yang sudah berdiri di tepi ranjang.
"Malu kenapa?" Tanya Riyan tanpa berbalik menatap Fara.
"Kamu ngga malu dengan keadaan telanjang seperti itu di hadapanku?" Tanya Fara.
__ADS_1
"Buat apa malu sama kamu? Bukannya setiap saat kamu sudah melihatnya? Bahkan kamu sudah menikmatinya." Jawaban Riyan yang membuat Fara langsung melemparnya, dengan guling yang ada di sampingnya.
"Hahahaha..." Riyan tertawa sambil berbalik menatap Fara yang juga sedang menatapnya, dengan wajah yang seketika memerah karena malu atas perkataan suaminya.
"Ya sudah! Sekarang kita mandi yuk!" Ajak Riyan sambil melangkah mendekat ke arah Fara, yang sudah terduduk di atas tempat tidur.
"Aku ngga mau mandi." Jawab Fara sambil membuang pandangannya dari Riyan.
"Mengapa kamu ngga mau mandi?" Tanya Riyan bingung.
"Aku ngga bisa jalan kayaknya. Soalnya sakit bangat bagian bawahku." Jawab Fara jujur.
Mendengar apa yang di katakan istrinya, Riyan yang tiba-tiba merasa kasihan dan penuh bersalah, langsung memilih untuk menarik selimut Fara yang sedang menutupi tubuhnya. Tapi Fara yang kaget dengan tindakan suaminya, segera menahan selimut yang masih menutupi tubuhnya sambil bertanya.
"Kamu mau apa Mas..?" Tanya Fara dengan tampang yang terlihat panik.
"Aku mau menggendong mu ke kamar mandi." Jawab Riyan yang masih memegang ujung selimut.
"Tapi Mas.." Suara Fara yang tiba-tiba tertahan, karena Riyan dengan serentak menarik selimut dari tubuhnya.
"Ayo sini..! Jangan bilang lagi kamu malu karena aku melihatmu, dengan keadaan tanpa busana. Kamu tidak pantas merasa malu denganku. Karena aku sudah melihat bahkan menikmati setiap lekuk tubuhmu." Riyan berkata-kata sambil menggendong Fara menuju kamar mandi.
Fara yang sudah tidak dapat berbuat apa-apa, hanya terdiam sambil menahan rasa malu dengan keadaannya, yang tanpa sehelai benangpun dalam gendongan suaminya. Sedangkan Riyan yang terlihat begitu santai, melangkah sambil berkata-kata di dalam hatinya.
__ADS_1
"Astaga,, ada apa sebenarnya sama aku? Mengapa aku selalu lemah di saat melihat penampilan istriku yang seperti ini. Apa aku ini kelebihan sex? Tidak,,tidak,, tidak. Aku tidak mungkin seperti itu."
Ternyata di balik sikap Riyan yang terlihat begitu tenang, ada rasa yang sudah kembali menghampirinya. Rasa itu selalu datang menjadi sebuah tuntutan yang membuat Riyan tersiksa. Sampai-sampai Riyan sendiri jadi bingung dengan dirinya. Yang tidak pernah merasa puas menikmati tubuh istrinya. Dengan sekuat tenaga, Riyan berusaha untuk mengangkat tubuh Fara lebih tinggi lagi. Sebab dia takut Fara akan menyadari senjatanya, yang sudah kembali siap bertempur di bawah sana.