Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 61. Sikap Dingin Menjelang Pernikahan.


__ADS_3

Semakin dekat hari bahagia itu, semakin dingin pula sikap Riyan terhadap Fara. Dan itu menjadi sebuah beban besar bagi Fara. Di dalam kamarnya yang begitu sepi, Fara hanya bisa termenung sambil menopang wajahnya menggunakan sebelah tangan, memikirkan sikap Riyan yang seperti tidak menginginkan pernikahan itu.



Di saat dia sedang asyik merenungi nasibnya yang akan bersanding dengan Riyan, tiba-tiba ada suara ketukan pintu yang membuat dia seketika tersadar dari lamunannya. Dengan wajah sedikit kesal karena merasa di ganggu, Fara melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang ada di luar kamarnya. Di saat pintu terbuka, wajah yang tadinya kesal langsung berubah ceria di saat melihat Omanya yang sedang berdiri di hadapannya.


"Oma,, ayo masuk Oma!" Ujar Fara sambil menarik tangan Mama Alira.


Mama Alira adalah orang yang paling dekat dengan Fara. Hanya kepada Mama Alira Fara bisa terbuka atas semua yang dia rasakan juga dia alami. Dan dia begitu bersemangat mengajak Omanya masuk ke dalam kamar, karena dia ingin mencurahkan apa yang sedang mengganjal di dalam hati dan pikirannya saat itu.


"Oma ada perlu apa ke kamar aku di waktu seperti ini?" Tanya Fara membuka percakapan, setelah dia dan Omanya sudah duduk di tepi tempat tidurnya.


"Oma hanya ingin duduk sebentar denganmu. Karena besok kan kamu sudah menikah, dan tidak lama lagi akan pergi meninggalkan Oma." Jawaban Mama Alira yang membuat Fara seketika merasa sedih, dan langsung memeluk Mama Alira sambil berkata.


"Oma,, aku akan sangat sedih harus pergi meninggalkan kalian. Dan aku tu bingung dengan sikap Mas Riyan. Dia semakin cuek dan dingin sama aku Oma." Ujar Fara di dalam pelukan Mama Alira.


"Sayang,, itu hal yang biasa untuk orang yang menikah karena Perjodohan. Oma dan Opa juga awalnya seperti itu. Dan Opa kamu itu sikapnya mirip sama seperti Riyan, Papa kamu, Om Reza, dan juga Mas Alfa. Mereka itu sama-sama cuek, kaku, juga dingin terhadap wanita. Tapi itu bukan berarti mereka tidak punya perasaan. Justru laki-laki yang seperti itu yang memiliki segudang kasih sayang, dan selalu setia terhadap pasangannya." Kata-kata Mama Alira yang membuat Fara langsung mengangkat wajahnya, menatap Omanya sambil bertanya.


"Apa benar yang di katakan Oma?" Tanya Fara sambil menggenggam kedua tangan Mama Alira.

__ADS_1


"Iya sayang, karena Oma juga mengalami hal yang sama seperti kamu di awal menikah." Jawab Mama Alira yang membuat Fara tiba-tiba tersenyum sambil menatap ke arah samping, membayangkan Riyan menjadi sosok penyayang seperti Opanya.


"Fara,, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Mama Alira karena merasa bingung dengan ekspresi Fara.


"Aku hanya sedang membayangkan apabila Mas Riyan sama seperti Opa." Jawab Fara jujur.


"Apa kamu benar-benar mencintai Riyan?" Tanya Mama Alira dengan tatapan ingin tahu ke arah Fara.


"Iya Oma. Bahkan Mas Riyan adalah orang pertama yang aku cintai." Jawab Fara dengan begitu polosnya, yang membuat Mama Alira langsung memeluknya dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.


Mendengar kata-kata Omanya, membuat Fara semakin bersemangat untuk memiliki cinta pertamanya. Senyum yang menghiasi wajah cantiknya saat itu, menunjukan betapa bahagianya Fara menyambut pernikahannya yang akan di langsungkan besok hari.


Setelah Mama Alira pergi meninggalkan kamarnya, Fara dengan segera langsung memilih untuk tidur biar dia bisa bangun lebih pagi. Fara sudah tidak sabar menunggu hari esok, hari di mana dia akan sepenuhnya memiliki sosok tampan yang sudah terlanjur dia cintai.


Sedangkan Riyan yang sama sekali tidak bisa untuk di tebak, begitu tenang dengan sikap dinginnya. Dan sikapnya itu selalu membuat setiap wanita hampir gila termasuk Fara yang akan mendampingi hidupnya. Entah apa yang ada di dalam pikiran dan hati Riyan terhadap Fara. Tapi dia jadi semakin membeku menjelang hari pernikahannya dengan Fara.


Siulan burung bernyanyi mengelilingi pekarangan rumah megah yang di kelilingi pepohonan dan beragam bunga. Menandakan pagi akan datang dengan cahaya mentari yang mulai menpakan sinarnya dari ufuk timur. Fara terbangun dan melangkah keluar kamarnya dengan pakaian tidur tanpa lengan, yang terlihat seksi di tubuhnya yang langsing.


Fara melangkah sambil mengangkat kedua tangannya, membenarkan rambutnya yang acak-acakan, sehingga membuat dia terlihat semakin menantang. Dan keadaannya waktu itu berhasil mencuri perhatian Riyan yang sedang berdiri di depan sana. Dengan keadaan tanpa baju dan tubuh yang bermandikan keringat karena baru selesai berolahraga, Riyan menatap calon istrinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.

__ADS_1



Menyadari keberadaan Riyan, Fara yang belum selesai membenarkan rambutnya tidak merasa malu, ataupun gugup dengan tatapan Riyan terhadapnya. Dia malah menghampiri Riyan sambil mengembangkan senyum manis dari wajah cantiknya, dengan kedua tangan yang masih berada di atas kepala.


"Mas Riyan,, kamu dari mana saja?" Tanya Fara sambil menatap laki-laki seksinya itu, dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan mengagumi.


"Aku baru selesai berolahraga." Jawab Riyan dingin sambil membuang mukanya ke arah samping.


Melihat Riyan yang tiba-tiba memalingkan wajahnya, membuat Fara seketika berpikir untuk menggodanya. Dengan tatapan yang menggoda, Fara mulai menyentuh dada bidang Riyan dengan jari telunjuknya, yang membuat Riyan langsung menatapnya dengan tatapan penuh ketegangan.


"Mas,, kamu seksi bangat dengan penampilan seperti ini." Suara Fara yang di buat begitu seksi sambil menggerakkan jari telunjuknya ke arah bawah. Dan di saat jarinya sudah berada di bagian perut Riyan yang terlihat kotak-kotak, Riyan yang semakin menegang langsung meraih tangannya sambil berkata.


"Fara.. Apa-apaan kamu?" Tanya Riyan dengan tatapan yang sangat tajam.


"Aku hanya ingin memujimu." Jawab Fara santai tanpa ada rasa malu.


"Memuji itu dengan kata-kata, bukan sentuhan seperti ini." Ujar Riyan sambil melepaskan tangan Fara dan hendak melangkah. Tapi belum sempat dia melangkah, Fara langsung memeluk tubuhnya sambil berkata.


"Mas Riyan,, aku sangat mencintaimu." Ujar Fara tanpa ragu sambil menempelkan sebelah pipinya di dada Riyan yang di penuhi keringat.

__ADS_1


"Aku tahu itu. Tapi jangan terlalu berharap aku akan merasakan hal yang sama sepertimu!" Ujar Riyan sambil melepaskan pelukan Fara. Kemudian dia langsung melangkah menuju kamarnya.


Kata-kata yang keluar dari mulut Riyan bagaikan pisau yang menyayat hati Fara. Kesedihan juga kepedihan seketika menyelimuti perasaannya karena cintanya yang tak berbalas. Tapi dia berusaha untuk sabar menerima semuanya, di saat mengingat kata-kata Omanya semalam di saat dia mengeluh tentang sikap Riyan terhadapnya. Kalau cinta itu akan tumbuh dengan kebersamaan mereka setelah menikah nanti. Karena itu juga yang di rasakan oleh Omanya saat di jodohkan dengan Opanya yang memiliki sifat sama seperti Riyan.


__ADS_2