
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan kini perpisahan antara Melda dan Reza sudah melewati dua bulan, dan tinggal beberapa hari lagi pernikahan antara Melda juga Farel akan di langsungkan. Melda yang masih terus memikirkan cinta pertamanya yang jauh di negri seberang, sering bermimpi yang membuatnya selalu melamun, karena bayangan Reza tidak pernah hilang dari ingatannya di dalam mimpi ataupun nyata.
Hubungan dan kedekatan antara dia dan Farel, terlihat seperti dua orang asing yang tidak punya ikatan apa-apa. Melda yang sudah tidak seceria dulu, lebih banyak mendiami Farel di saat mereka sedang bersama. Sikap Melda yang berlebihan dingin, membuat Farel merasa bingung dan mulai curiga terhadap Melda.
Akhir-akhir ini Farel sering berpikir kalau bukan dia yang Melda cintai, karena dari sikap Melda, Farel sudah bisa merasakan kalau tidak ada cinta di dalam hati wanita cantik itu untuk dirinya. Farel juga mulai curiga, karena Melda sering memanggilnya dengan nama seorang laki-laki yang Farel sendiri tidak tahu siapa orangnya.
Farel memang sudah bertatap muka dengan Reza di malam pertunangannya dengan Melda, tapi dia belum sempat berkenalan dengan Reza secara langsung, bahkan nama Reza saja tidak Farel ketahui. Nama yang sering di sebut oleh Melda adalah Reza, dan itu membuat Farel yang sudah terlanjur jatuh hati kepada Melda, merasa cemburu namun dia tidak bisa untuk berkomentar apa-apa.
Keluarga Permana berencana untuk segera melaksanakan pernikahan Melda sebelum Aleta melahirkan, karena kandungan Aleta sudah memasuki bulan ke sembilan yang tidak lama lagi akan melahirkan putranya.
Kebahagian keluarga Permana begitu sempurna karena akan bertambah anggota keluarga. Selain akan bertambah cucu, mereka juga akan bertambah menantu yang tidak lain adalah Farel. Seluruh anggota keluarga Permana sangat menanti-nantikan kelahiran putra Aleta dan Faris terutama Papa Fahri dan Mama Alira, karena anak yang akan di lahirkan Aleta itu cucu pertama mereka.
__ADS_1
Aleta yang sedang hamil besar, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama Melda selama dua minggu ini. Mereka sama sekali tidak memiliki aktivitas, karena Kampus tempat mereka kuliah sedang di renovasi, jadi seluruh mahasiswa dan mahasiswi juga para Dosen di liburkan selama sebulan.
Pagi hari itu tepatnya hari Senin, semua anggota keluarga Permana sudah bersiap-siap ke bandara. Papa Fahri, Mama Alira, Faris juga Almira akan berangkat pagi itu juga ke Bali, untuk meresmikan hotel baru mereka di sana. Sedangkan Melda juga Aleta memilih untuk tidak ikut, karena Aleta memang sudah di larang untuk melakukan perjalanan jauh. Dan Melda yang memang tidak bersemangat untuk ke mana-mana, memilih untuk menemani Aleta di rumah.
"Kamu jaga diri baik-baik ya sayang! Nanti sore kita sudah balik!" Kata Faris sambil memakai jas yang sudah di siapkan Aleta.
"Iya Mas!" Jawab Aleta.
"Jagoan Papa jangan nakal ya, di dalam perut Mama! Nanti Mamanya kesakitan! Kamu baik-baik di dalam sana yaa..! Sebentar sore Papa sudah kembali!" Faris berkata-kata sambil terus mengelus perut Aleta.
Apa yang di lakukan Faris itu membuat Aleta yang sedang memperhatikannya langsung tersenyum tanpa bersuara. Dia sangat bahagia dengan sikap suaminya yang semakin perhatian padanya. Sambil mengusap-usap kepala Faris Aleta pun mengucapkan syukur di dalam hatinya atas semua kebahagiaan yang dia dapatkan.
__ADS_1
"Terima kasih ya Allah atas semua yang engkau berikan padaku. Enkau memberikan laki-laki yang sangat mencintaiku, juga keluarga yang begitu menyayangiku. Dan sekarang engkau akan mendatangkan malaikat dalam hidupku." Aleta berkata-kata dalam hatinya dengan penuh kebahagian.
Aleta dan Melda juga ikut ke bandara mengantarkan anggota keluarga mereka yang akan berangkat ke Bali. Dalam perjalanan, Faris yang duduk di samping Aleta dan Melda, tidak melepaskan tangannya dari perut Aleta, seakan-akan dia tidak ingin meninggalkan putranya yang belum lahir itu.
Sifat Faris yang begitu dingin dan kaku bahkan terhadap istrinya, sudah sedikit berubah karena hadirnya bayi di dalam kandungan Aleta. Dia sudah semakin perhatian terhadap Aleta terutama terhadap bayi di dalam kandungannya. Selain itu Faris juga samakin bersemangat dalam bekerja, karena dia ingin anak laki-lakinya yang sebentar lagi akan lahir, bisa memiliki semuanya dari hasil kerja kerasnya sendiri.
Walaupun memiliki Orang tua yang punya banyak harta, Faris tidak pernah mengharapkan harta orang tuanya. Sejak masih remaja, dia sudah berusaha untuk bisa menghasilkan uang sendiri. Kemandirian Faris itu membuat orang tuanya sangat bangga kepadanya, karena Faris tidak seperti anak orang kaya pada umumnya, yang hanya bermalas-malasan dan selalu mengharapkan juga mengandalkan harta orang tua.
Sejak masih remaja semua kebutuhannya sudah dia penuhi dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Dan di saat berada di bangku kuliah, Faris sudah memiliki beberapa aset, dan semua itu bukan pemberian orang tuanya. Hanya ada satu warisan yang Faris miliki sepenuhnya, yaitu harta peninggalan Opa Indra yang di warisi kepadanya, di antaranya rumah, semua aset, juga saham di perusahaan.
Walaupun semua itu sudah atas namanya, namun Faris tidak ingin melangkahi Papa Fahri. Dia menyerahkan kembali semua warisan itu kepada Papa Fahri, karena dia tidak ingin mengambil ataupun menikmati warisannya selama masih ada Papanya. Faris melakukan semua itu, karena menurut dia Papanya adalah orang yang paling berhak atas semua harta itu, sebagai anak tunggal dari Opa Indra dan Oma Rita.
__ADS_1