
Perbedaan sifat antara Riyan dan Fara selalu menjadi sumber masalah di antara mereka berdua. Riyan yang begitu tidak peka dengan apa yang di inginkan istrinya, selalu di salahkan oleh Fara yang terlalu besar ego dan berpikiran sempit. Situasi itu sering membuat Riyan merasa serba salah, dan sedikit kebingungan menghadapi istrinya. Namun dia selalu mencoba untuk selalu bersabar, demi hubungan yang telah mereka ikat dalam sebuah pernikahan.
"Ayo kita pergi!" Ajak Riyan sambil meraih sebelah tangan Fara, setelah berada tepat di depan Fara. Tapi Fara tetap terdiam tanpa mau melangkah.
"Fara,, aku minta maaf bila aku tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. Tapi tolonglah jangan bersikap seperti ini! Aku jadi serba salah menghadapi sikapmu." Ujar Riyan sambil menatap Fara yang sudah memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Aku akui, aku bukan laki-laki yang romantis seperti yang di inginkan banyak wanita. Tapi kamu harus tahu, kata-kata itu tidak bisa menjamin ketulusan hati. Tapi tindakan yang bisa menjadi bukti kesungguhan hati seorang lelaki." Tambah Riyan sambil terus menatap Fara yang masih terus memalingkan wajahnya.
"Kamu terlalu acuh dalam hubungan kita. Di saat aku ingin di perhatikan, kamu malah tidak perduli." Ujar Fara tanpa mau menatap Riyan.
"Ya sudah,, mulai saat ini aku akan berusaha untuk menjadi seperti yang kamu mau. Tapi tolong jangan kau ragukan kesungguhan hatiku hanya karena sikapku." Pinta Riyan sambil meraih kedua tangan Fara.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Riyan, Fara seketika jadi luluh dan berbalik menatap ke arah Riyan. Ingin sekali dia mengerti sifat kaku suaminya. Tapi keinginan batinnya yang ingin selalu di manja dan di perhatikan, membuatnya tidak bisa untuk lebih bersabar.
"Apa kamu mau memaafkan ku?" Tanya Riyan sambil menatap Fara yang langsung menatapnya, dengan senyum manis yang terukir di wajah cantiknya.
Melihat senyum yang terukir di wajah Fara, perasaan Riyan ikut bahagia. Cinta yang telah tertanam di dalam hati laki-laki kaku itu, membuatnya tidak ingin melihat sendu di balik wajah istrinya. Sedangkan Fara yang sudah terbuai dengan kata-kata Riyan yang terdengar biasa-biasa saja, langsung memeluk tubuh suaminya sambil berkata-kata.
"Mas,, aku ingin menghabiskan sore ini bersamamu di sini. Jadi jangan pergi meninggalkan aku sendiri!" Pinta Fara sambil memeluk Riyan yang juga sudah membalas pelukannya.
"Ya sudah,, ayo kita duduk di sana." Ujar Riyan sambil melepaskan pelukannya, dan menunjuk ke sebuah tempat duduk yang ada dekat tepian pantai.
__ADS_1
Fara melangkah menuju tempat yang di tunjuk oleh Riyan, tanpa melepaskan pelukannya dari lengan Riyan. Melihat sikap istrinya yang tidak ingin berada jauh dari sisinya, Riyan langsung melepaskan tangan Fara dari lengannya, kemudian menggendong istri cantiknya itu tanpa berkata-kata. Apa yang di lakukan oleh Riyan benar-benar membuat Fara merasakan sesuatu, yang selama ini hanya ada di dalam khayalannya. Keadaan seperti itulah yang sering Fara impikan tanpa bisa berharap.
"Mas,," panggil Fara sambil menatap wajah suaminya, yang berada tepat di depan wajahnya.
"Apa.. Kamu mau bertanya lagi apa ini benar-benar nyata?" Tanya Riyan sambil menatap lurus ke depan.
"Aku hanya tidak menyangka kamu bisa melakukan ini." Jawab Fara sambil tersenyum malu-malu.
"Aku bahkan bisa melakukan lebih dari pada ini." Sambung Riyan yang membuat Fara semakin merasa aneh dengan suaminya.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan di tempat terbuka seperti ini?" Tanya Fara dengan tatapan menggoda.
Fara yang terkejut dengan apa yang di lakukan suaminya, ingin segera memalingkan wajahnya. Namun tuntutan batinnya yang selalu mendambakan sentuhan dari Riyan, membuatnya tidak bisa untuk menghindar. Tanpa berpikir panjang, Fara yang sudah terbawa suasana langsung mengalungkan tangannya di leher Riyan, dan memejamkan mata sambil membalas permainan suaminya.
"Astaga Sem.. Itu benar ngga sih?" Tanya Aurel kaget melihat aksi Riyan dan Fara, yang begitu berani berciuman di tempat terbuka seperti itu.
"Gila bangat Pak Riyan. Ko bisa dia melakukan itu di tempat seperti ini? Apa dia mabuk?" Semi berkata-kata sambil menatap dengan tampang kebingungan, ke arah Riyan dan Fara.
"Tapi itu keren bangat,, Pak Riyan benar-benar laki-laki sejati." Ujar Aurel sambil tersenyum tanpa memalingkan pandangannya, dari arah Riyan dan Fara yang masih terus beradu bibir di tepian pantai.
"Apanya yang keren? Itu hal yang sangat aneh tahu ngga?" Ujar Semi sambil menatap ke arah yang sama dengan Aurel.
__ADS_1
"Ko aneh? Di negara ini, ciuman di depan umum itu hal yang biasa. Dan menurut aku Pak Riyan sangat keren bisa melakukan hal seromantis itu." Sambung Aurel sambil menatap suaminya.
"Aku tahu itu hal yang biasa di negara-negara bebas seperti ini. Tapi itu satu keanehan yang tidak pernah aku duga. Kamu tahu sifat Pak Riyan kan? Dia tidak pernah bisa melakukan hal seperti itu. Apalagi di tempat terbuka seperti ini." Ujar Semi dengan tampang kebingungan.
"Berarti sekarang Pak Riyan sudah ada kemajuan. Sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin karena cinta." Ujar Aurel.
"Memang benar yang kamu katakan. Pak Riyan sudah jauh berbeda setelah menikah dengan istrinya." Ujar Semi sambil tersenyum.
"Laki-laki manapun pasti akan berubah apabila memiliki istri secantik itu. Fara itu wanita yang sangat sempurna dalam segala hal." Ujar Aurel memuji Fara.
Di saat Semi dan Fara sedang kebingungan dengan perubahan Riyan, beberapa orang wanita yang juga menyaksikan kemesraan Riyan dan Fara, malah merasa penasaran dengan pasangan yang sedang di bakar api asmara. Dan di antara beberapa wanita itu, ada salah satu dari mereka yang berasal dari Malaysia.
"Siapa laki-laki tampan itu? Dia begitu sempurna." Tanya salah seorang wanita.
"Aku selalu mendambakan laki-laki seperti itu. Seandainya saja aku yang berada di posisi wanita itu. Aku akan menjadi wanita yang paling bahagia sedunia." Sambung yang lainnya.
Di saat beberapa temannya sedang memuji kesempurnaan Riyan, wanita yang berasal dari negeri Jiran itu malah terdiam dengan tampang yang terlihat begitu aneh, menatap ke arah Riyan dan Fara yang sudah menghentikan aksi mereka.
"Rena,, apa kamu mengenali kedua orang itu?" Tanya salah satu wanita kepada temannya yang bernama Rena. Dan Rena adalah salah satu dari mereka yang berasal dari negeri Jiran.
Dari tatapan Rena, sangat menunjukan kalau dia memang mengenali sosok yang sedang mereka perhatikan sejak tadi. Tapi entah siapa yang dia kenali. Entah Fara ataupun Riyan. Tapi tatapannya begitu aneh dan penuh misteri.
__ADS_1