Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 142. Keinginan Memiliki Anak.


__ADS_3

Cinta dapat memberikan cahaya pada mata yang sekalipun buta. Mata hati Riyan yang tadinya di butakan oleh dendam yang salah, kini telah hanyut oleh derasnya rasa yang tak mampu untuk dia kendalikan. Kehangatan juga perhatian Fara yang begitu tulus terhadapnya, dapat mencairkan kebekuan hatinya dengan perlahan. Kehangatannya mulai terlihat, walaupun sering dia sembunyikan di balik sikap dinginnya.


Selama beberapa hari di Indonesia, Fara dan Riyan terlihat semakin dekat satu sama lain. Kebahagiaan mereka sangatlah sempurna setelah melepas rindu dengan keluarga besar mereka. Tapi hari itu Fara begitu bersedih karena harus kembali berpisah dengan orang-orang yang sangat dia sayangi. Terutama Ibu juga Omanya, yang sangat memperhatikan segala apa yang berkaitan dengannya.


"Ma,, sering-sering telpon aku ya..! Biar aku ngga sedih karena selalu merindukan Mama." Ujar Fara sebelum dia melangkah menuju pesawat, yang akan dia dan Riyan tumpangi untuk kembali ke Amerika.


"Oma juga. Jangan lupa kabari aku!" Tambah Fara sambil menatap Mama Alira dengan berderai air mata.


"Iya sayang. Oma akan menghubungimu setiap hari. Kamu ngga usah sedih! Kan ada suami kamu." Jawab Mama Alira sambil mengusap-usap kepala Fara.


"Kamu ngga boleh cengeng seperti ini. Kamu sekarang punya suami yang akan selalu menjagamu. Kamu harus belajar untuk lebih dewasa. Karena nanti kamu akan menjadi seorang Ibu untuk anak-anakmu." Ujar Aleta sambil memeluk Fara penuh kasih sayang.


"Iya Ma,, aku akan berusaha untuk bisa seperti Mama." Jawab Fara sambil memeluk erat tubuh wanita kesayangannya itu, yang juga sudah meneteskan air mata dalam pelukannya.


"Mba,, aku pergi dulu ya.. Tolong jaga Mas aku! Nanti aku kirimkan parfum yang seperti Mba cari." Ujar Fara sambil memeluk Shelina yang juga ikut mengantar dia dan Riyan ke bandara.


Sedangkan kedua orang tua Riyan yang tidak lain adalah Reza dan Melda, sudah kembali ke Malaysia kemarin sore. Karena Reza punya urusan penting yang tidak bisa untuk di tunda. Di dalam pesawat, Fara terlihat sangat bertolak belakang dengan situasi di saat mereka dalam perjalanan menuju Indonesian, satu minggu yang lalu. Wajah Fara terlihat begitu murung sambil menatap awan-awan melalu jendela pesawat. Melihat ekspresi Fara, Riyan yang sejak tadi hanya terdiam langsung bersuara.


"Fara,, apa kamu tidak ingin hidup berpisah dengan orang tuamu?" Tanya Riyan sambil menatap ke arah Fara.

__ADS_1


"Maksud Mas apa bertanya seperti itu?" Tanya Fara sambil menatap wajah suaminya.


"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin tahu apa yang kamu mau." Jawab Riyan.


"Aku sangat menyayangi kedua orang tuaku juga semua keluarga. Tapi yang aku mau, hanya bersamamu untuk selamanya." Ujar Fara sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Riyan.


"Kamu harus belajar untuk lebih bijaksana seperti apa yang di katakan Oma. Sekarang kamu bukan hanya seorang putri dari keluarga Permana. Tapi kamu juga adalah istriku yang harus ikut denganku kemanapun aku pergi." Ujar Riyan sambil mengusap-usap punggung Fara dengan penuh kasih sayang.


"Iya Mas. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi. Tapi satu yang aku minta, jangan pernah kau melukai hatiku sekarang dan selamanya." Fara berkata-kata sambil memeluk erat tubuh Riyan.


Mendengar permintaan istrinya, Riyan seketika kembali merasa bersalah atas sikapnya selama ini yang selalu membuat Fara terluka. Sikap dinginnya juga ego yang selalu menguasai dirinya, sudah membuatnya menjadi laki-laki yang tega terhadap wanita yang sudah tulus mencintainya. Sambil mengecup kepala Fara, Riyan pun mulai bergumam di dalam hatinya.


"Maafkan aku yang selalu membuatmu terluka. Aku sudah membuatmu sering meneteskan air mata. Tapi aku berjanji untuk bisa membahagiakan dirimu sekarang dan untuk selamanya. Hati dan pikiranku hanya ada kamu seorang. Jadilah bidadari di dalam hidupku." Riyan berkata-kata di dalam hatinya dengan segenap kesungguhannya.


"Mas,, kamu tidak ingin memiliki anak?" Tanya Fara tanpa menatap Riyan yang seketika jadi bingung untuk menjawabnya.


"Mas,, ko kamu diam saja? Apa kamu ngga punya niat untuk memiliki anak dariku?" Tanya Fara lagi sambil melepaskan pelukan Riyan.


"Aku belum memikirkan hal itu." Jawaban Riyan yang membuat raut wajah Fara seketika jadi berubah datar.

__ADS_1


Melihat ekspresi wajah Fara, Riyan langsung menarik nafas panjang sambil merangkul pundak Fara. Tapi Fara yang sudah membatu, langsung menepis tangannya sambil memalingkan wajahnya ke arah samping. Tapi Riyan yang sudah sangat mencintainya, berusaha untuk tetap sabar menghadapi sikapnya itu. Namun dia sendiri bingung harus menjawab apa.


"Mas,, semua orang itu menikah untuk mencari anak. Tapi mengapa kamu malah tidak memikirkan akan hal itu? Apa kamu tidak ingin memiliki anak dariku?" Tanya Fara dengan tatapan mata yang membuat Riyan jadi serba salah.


"Fara,, semua orang menikah bukan bertujuan untuk mencari anak. Contohnya kita berdua. Pernikahan kita tanpa ada tujuan. Tapi kesepakatan perjodohan dari orang tua." Jawaban Riyan yang membuat Fara semakin salah pengertian.


"Jadi Mas tidak mau memiliki anak, karena Mas berpikir kalau pernikahan kita ini tanpa ada tujuan? Kalau seperti itu, buat apa kita harus bersama? Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dalam satu hubungan tanpa ada tujuan." Ujar Fara dengan mata yang sudah berkaca-kaca saking kecewa mendengar perkataan Riyan.


"Fara,, kamu dengar dulu apa yang mau aku katakan! Kita tu menikah memang tanpa tujuan. Tapi cinta kita telah membawa kita pada satu tujuan kebahagiaan. Dan memiliki anak adalah salah satu kebahagiaan kita nantinya." Jelas Riyan yang membuat Fara langsung menatapnya bingung.


"Maksud kamu apa Mas? Jangan buat aku bingung dengan semua perkataan kamu." Tanya Fara dengan tatapan serius ke arah Riyan.


"Tidak perlu untuk aku menjelaskan panjang lebar. Karena kamu juga pasti tetap tidak akan mengerti. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu." Jawab Riyan.


"Apa yang mau Mas tanyakan?" Tanya Fara sambil memalingkan wajahnya.


"Tatap aku!" Perintah Riyan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Fara.


"Apaa..?" Jawab Fara sambil berbalik menatap wajah Riyan, yang sudah hampir menempel dengan wajahnya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap untuk memiliki anak? Karena untuk memiliki anak, kita harus sering melakukan itu. Apa kamu sudah siap untuk itu?" Pertanyaan Riyan yang membuat Fara seketika terdiam, dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh suaminya, Fara yang tadinya begitu menuntut untuk memiliki anak jadi ragu seketika. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti, kalau dia harus melayani suaminya setiap malam. Karena selama ini, dia selalu merasa kesakitan di saat berhubungan dengan Riyan, yang memang memiliki senjata berukuran luar biasa.


__ADS_2