Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 208. Jalan Keluar.


__ADS_3

Perasaan Riyan mulai gelisah karena tiba-tiba dia dan Arsen di susul oleh laki-laki yang mengaku Pamannya Arsen. Dengan alasan yang tidak masuk akal, Adriyan menghampiri Arsen dan langsung meraih tangannya. Kemudian dia menarik Arsen perlahan. Melangkah meninggalkan Riyan masuk ke dalam minimarket yang sama sekali tidak ada pengunjung selain mereka bertiga.


"Pak,, apa anda ingin membelikan sesuatu?" Tanya Riyan sambil mengikuti Adriyan dari belakang.


"Iya Pak. Saya ingin membeli minuman dingin." Jawab Adriyan sambil tersenyum menatap Riyan.


'Apa yang harus aku lakukan untuk pergi membawa Arsen dari tangan penjahat ini?' Batin Riyan yang mulai memikirkan jalan keluar.


Untuk keselamatan dia dan Arsen.


"Arsen mau beli apa?" Tanya Adriyan tanpa melepaskan tangan Arsen.


"Aku mau beli mainan robot yang besar." Jawab Arsen tanpa ekspresi.


"Tapi di sini tidak ada mainan anak-anak. Lebih baik kita pulang dulu. Nanti besok Paman antar kamu ke tempat yang menjual mainan anak-anak." Ujar Adriyan sambil berbalik hendak melangkah pergi.


"Aduh.." Arsen tiba-tiba bersuara.


"Kamu kenapa nak?" Tanya Adriyan penuh perhatian.


"Aku sudah pup di celana Paman." Jawab Arsen sambil menahan celananya bagian belakang.


'Astaga... Ini anak sangat merepotkan.' Batin Adriyan.


"Ada apa Pak?" Tanya Riyan buru-buru menghampiri Adriyan dan Arsen.


"Maaf Pak Riyan. Dia sudah pup di celana. Dan aku tidak bisa melihat kotoran anak-anak." Jawab Adriyan sambil memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Dengan segera Riyan langsung meraih tangan Arsen. Dia berpikir mungkin bisa mendapatkan jalan keluar dengan mengantarkan Arsen ke toilet minimarket tempat mereka berada. Tanpa menunggu lama Riyan pun segera menarik Arsen menuju penjaga minimarket untuk meminta izin ke toilet. Dengan waktu yang bersamaan, datang salah seorang pembantu Adriyan dengan tampang yang terlihat panik.


"Tuan.. Cepatlah kembali ke rumah! Nyonya tiba-tiba pingsan." Ujar wanita yang kira-kira berusia 45 tahun yang selalu bersama Arsen semenjak berada di rumah majikannya itu.


Tanpa berpikir panjang Adriyan langsung buru-buru pergi menuju pintu. Tapi sebelum pergi dia sempat meminta pembantunya untuk menunggu Riyan dan Arsen yang sudah melangkah pergi menuju toilet.


"Sayang,, kita tidak bisa lama-lama di sini. Jadi kamu harus cepat-cepat buang airnya!" Seru Riyan sambil menatap ke sana ke mari.


"Aku tidak pup Om. Aku hanya beralasan biar kita bisa menghindar dari orang jahat itu." Jawaban Arsen yang membuat Riyan langsung menatapnya kaget.


"Siapa yang bilang sama kamu kalau dia itu orang jahat?" Tanya Riyan dengan tatapan serius.


"Bibi yang sana." Jawab Arsen sambil menunjuk ke arah pembantu Adriyan. Yang saat itu sedang melangkah menuju mereka berdua.


Mendengar jawaban Arsen, Riyan pun seketika tahu siapa pemberi sepenggal surat yang ada di dalam saku celananya. Namun dia juga bingung apa tujuan wanita itu melakukan semua itu terhadap dia dan Arsen? Karena dia sama sekali tidak mengenali wanita tersebut.


"Maafkan saya Pak. Mungkin saya terlalu lancang dalam mengambil tindakan. Tapi saya harap Bapak mau percaya sama saya. Kalau Bapak tidak ingin celaka, ayo ikut saya sekarang juga!" Ucap wanita itu setelah berada di depan Riyan.


"Kita harus lewat pintu belakang. Semua cctv di bagian belakang sudah di matikan. Jadi tidak ada yang bisa melihat kita." Jawab wanita itu dan buru-buru melangkah menuju pintu minimarket bagian belakang.


Tanpa menunggu lama Riyan segera menggendong Arsen dan buru-buru melangkah mengikuti wanita itu. Tapi sampainya di luar minimarket, ada seorang pria penjaga minimarket itu sudah menghadang mereka.


Riyan yang seketika panik langsung mematung di belakang wanita tadi. Yang juga berhenti dengan tiba-tiba di depan pria tersebut. Tapi tidak lama Riyan di buat kebingungan dengan pembicaraan wanita itu bersama pria di depannya.


"Terima kasih Bu. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Ibu." Ujar pria berpakaian serba hitam itu sambil menyalami tangan wanita yang berdiri tepat di depan Riyan.


"Pergilah bersama dia Pak! Dia akan membawa anda kepada orang yang tepat untuk anda datangi." Ucap wanita itu sambil mengusap-usap kepala Arsen.

__ADS_1


Riyan benar-benar di buat bingung dengan situasi yang sedang dia hadapi. Tapi dia pun pasrah dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Dia hanya bisa mengikuti jawaban Arsen yang ada di dalam gendongannya saat itu. Karena bagi Riyan batin seorang anak kecil tidak mungkin salah.


"Ayo kita pergi Om." Ujar Arsen setelah Riyan menurunkan dia dari gendongannya.


"Ayo sayang." Ucap Riyan.


Arsen dan Riyan di bawah pergi oleh pria asing itu, menggunakan mobil mewah yang tidak di miliki orang biasa khususnya di negara itu. Sedangkan wanita yang tadi bersama mereka sudah pergi memasuki minimarket.


Dalam perjalanan Riyan sempat berpikir untuk menghubungi keluarganya. Tapi belum sempat dia melakukannya, pria yang sedang fokus mengemudi di sampingnya mulai bersuara.


"Pak,, sebaiknya Bapak matikan saja ponsel Bapak. Biar keberadaan kita tidak bisa di lacak oleh para penjahat itu." Ucap pria tersebut.


"Iya Pak." Jawab Riyan dengan segera.


Tanpa berpikir panjang Riyan langsung menonaktifkan ponselnya. Selain mengikuti permintaan pria di sampingnya. Riyan juga tidak ingin membuat keluarganya khawatir. Terutama Fara yang baru saja terlepas dari masalah besar.


"Maaf Pak,, sebenarnya kita mau di bawa kemana?" Tanya Riyan yang sedang memangku Arsen di samping pria tersebut.


"Saya akan membawa anda ke tempat yang tepat untuk Bapak datangi." Jawaban yang tidak terlalu jelas namun sedikit melegakan hati Riyan.


Riyan sebenarnya sudah sangat lelah dengan masalah yang datang silih berganti. Namun dia tetap semangat demi mewujudkan permintaan terakhir sahabatnya. Untuk mempertemukan putranya dengan saudaranya di Jerman.


'Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun aku berharap bisa memenuhi keinginanmu Ton. Apapun yang terjadi aku akan tetap bersama putramu ini sampai dia benar-benar berada di dalam tangan kakakmu.' Batin Riyan sambil mendekap Arsen yang sudah tertidur di atas pangkuannya.


Hampir dua jam perjalanan. Akhirnya mobil yang mereka naikin masuk ke dalam sebuah pekarangan rumah yang luar biasa megah. Melihat ke sekeliling rumah itu Riyan yang berasal dari keluarga kaya raya seketika jadi tercengang. Dia benar-benar di buat bingung dengan rumah yang di jaga begitu ketat. Oleh penjaga di setiap sudutnya.


"Ayo Pak.. Anda sudah di tunggu sejak tadi di dalam." Ujar pria yang ada di samping Riyan setelah mobil terparkir.

__ADS_1


"Maaf Pak. Kalau boleh tahu ini rumah siapa?" Tanya Riyan dengan tampang kebingungan.


"Ini rumah orang yang anda cari." Jawab pria itu yang membuat Riyan langsung terdiam.


__ADS_2