Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 176. Mimpi Buruk.


__ADS_3

Malam itu Fara dan Riyan tertidur lebih awal. Tapi tiba-tiba Fara berteriak memanggil nama Riyan dengan kencang tepat seperdua malam. Dengan tampang kagetnya, Riyan langsung terbangun dan segera membangunkan Fara yang masih terus memejamkan mata tanpa henti-hentinya memanggil nama Riyan.


"Fara,, Fara bangun Fara! Bangun!"


"Mas..." Teriak Fara dan langsung memeluk Riyan kencang dengan tampang ketakutan.


"Ada apa? Kamu mimpi buruk ya?" Tanya Riyan sambil mengusap-usap kepala Fara.


"Iya Mas,, aku mimpi ada seorang wanita yang membawamu pergi. Aku takut Mas." Jawab Fara dengan kepala tersandar di dada bidang Riyan.


"Itu hanya mimpi. Mimpi itu sebagian dari bunga tidur. Mungkin kamu terlalu kecapean. Makanya mimpi sembarangan." Riyan mencoba untuk menenangkan Fara di dalam pelukannya.


Mendengar perkataan Riyan, Fara sama sekali tidak merasa tenang. Entah itu bunga tidur ataupun pertanda buruk, namun dia begitu khawatir apa bila mimpinya nantinya akan menjadi sebuah kenyataan. Fara hanya terdiam dan semakin mengeratkan pelukannya yang membuat Riyan kembali bersuara.


"Sayang,, aku sangat mencintaimu. Mana mungkin aku akan pergi meninggalkanmu? Wanita manapun tidak akan bisa merubah perasaanku padamu. Kamulah satu-satunya pasangan hidupku." Kata-kata Riyan yang membuat Fara merasa sedikit tenang.


"Mas,, kamu harus janji untuk tetap bersamaku! Aku tidak ingin ada perpisahan di antara kita berdua. Apapun yang terjadi, kita harus tetap bersama selamanya." Fara berkata-kata sambil menatap Riyan dengan tatapan penuh harap.


"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan dirimu dalam keadaan apapun." Jawab Riyan di iringi ciuman mesra di kening Fara.


"Tidak usah berfikir yang tidak-tidak! Tidurlah! Mas juga mau tidur, Mas ngantuk banget." Tambah Riyan dengan mata sayu menahan rasa kantuknya.


Setelah beberapa menit berbincang-bincang, Riyan yang sudah tidak mampu menahan kantuknya, memutuskan untuk kembali memejamkan matanya. Dan tidak memakan waktu lama, dia pun terlelap di samping Fara yang masih terjaga.


Dengan perlahan, Fara mulai membaringkan tubuhnya sambil menatap Riyan yang sudah berada di alam mimpi. Ketakutan akan mimpi buruknya tadi, seketika menghantui pikirannya. Dengan tampang penuh kekhawatiran, Fara pun mulai bergumam di dalam hatinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan,, semoga mimpi itu hanyalah bunga tidur. Aku tak sanggup apabila mimpi buruk itu suatu pertanda untukku. Jauhkanlah rumah tanggaku dari segala gangguan."


Fara meminta di dalam hatinya dengan penuh harap. Rasa takut akan kehilangan Riyan, membuat Fara tidak dapat menahan air matanya yang mulai mengalir membasahi wajahnya. Sambil mengusap butiran kristal bening di pipinya, Fara langsung memeluk tubuh Riyan tanpa bersuara.


Tepat pukul 7:30, Riyan dan Fara yang sedang menikmati sarapan di atas meja makan, hanya terdiam dengan ekspresi Fara yang masih terlihat penuh kecemasan. Melihat ekspresi istrinya, Riyan yang sudah selesai sarapan langsung memilih untuk bertanya.


"Sayang,, apa kamu masih memikirkan mimpi kamu semalam?" Tanya Riyan.


"Ngga ko Mas. Aku hanya merasa sedikit pusing. Mungkin karena semalam aku tidurnya ngga pules." Jawab Fara sambil tersenyum menatap Riyan.


"Kalau gitu kamu istirahat saja setelah sarapan! Mas juga ke kantor ngga sampai sore. Soalnya ngga terlalu banyak pekerjaan Mas hari ini." Ujar Riyan dengan segera.


"Kamu ngga usah terlalu banyak pikiran! Mas akan pulang lebih awal hari ini." Tambah Riyan yang merasa aneh melihat ekspresi Fara.


Sebenarnya Fara sudah berencana dari semalam untuk mengikuti Riyan ke kantor. Dia benar-benar tidak tenang berada jauh-jauh dari Riyan setelah mengalami mimpi buruk itu. Tapi mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Riyan, membuat Fara terpaksa harus tinggal di rumah menunggu kepulangannya.


Sebagai seorang wanita, Fara sangat khawatir dengan suaminya yang sangat di gulai banyak wanita. Tapi dia juga tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat suaminya merasa di awasi setiap saat. Karena itu sama saja dia tidak percaya dengan suaminya sendiri.


Selesai sarapan, Riyan pun langsung menuju kantor menggunakan salah satu mobil mewahnya. Sedangkan Fara yang meras lemas dengan semua beban pikiran, memilih untuk langsung ke kamar dan berbaring di atas tempat tidur sambil berkata-kata sendirian.


"Aku harus percaya dengan Mas Riyan. Dia bukan laki-laki yang suka mengingkari janji. Dia akan menepati janjinya kepadaku." Fara berkata-kata dan langsung memeluk guling sambil memejamkan matanya.


Fara yang begitu pules tertidur pagi itu, kembali bermimpi tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan Riyan. Tapi di dalam mimpinya kali itu, dia melihat Riyan sedang tertidur dengan seorang wanita. Dengan wajah di penuhi keringat, Fara langsung terbangun sambil menatap lurus dengan mata terbuka lebar.


"Ya Tuhan,, apa lagi ini..? Mengapa aku selalu bermimpi aneh tentang Mas Riyan? Apa yang sudah terjadi denganku?" Fara bertanya-tanya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Kekhawatiran terhadap suaminya semakin bertambah parah setelah mengalami mimpi buruk yang sama di siang itu. Tanpa menunggu lama, Fara pun segera menghubungi nomor Riyan setelah melihat waktu menunjukkan pukul 1:30 siang.


("Halo.. Sayang kamu sudah bangun?" Tanya Riyan dari balik telpon, setelah telponnya tersambung.)


("Iya Mas. Mas,, kamu lagi kerja kan?" Pertanyaan Fara yang membuat Riyan langsung tertahan.)


("Hahahahaha... Fara,, Fara,, kamu ini kenapa sih sayang? Aku kan sudah bilang, kamu tu jangan terlalu berpikir macam-macam! Aku lagi kerja. Kalau kamu ngga percaya, kita video call saja.")


Setelah menertawai Fara, Riyan pun langsung memutuskan sambungan teleponnya, kemudian menelpon Fara menggunakan panggilan video. Dia melakukan semua itu karena tidak ingin membuat Fara semakin khawatir dengan dirinya.


("Kamu lihat kan aku ada di mana?" Tanya Riyan sambil menatap Fara di layar ponselnya.)


("Iya Mas. Kamu di kantor." Jawab Fara dengan mata yang masih terlihat basah.)


("Fara,, kamu menangis..? Itu mata kamu basah." Tanya Riyan dengan tampang serius.)


("Aku mimpi buruk lagi tentang kamu Mas. Aku takut banget Mas sama mimpi itu." Jawab Fara jujur.)


("Fara,, hanya kematian yang akan memisahkan kita. Kamu ngga usah takut! Aku akan selalu berada di sisimu sampai waktunya tiba untuk kita berpisah." Riyan berusaha untuk terus meyakinkan Fara, yang sangat terganggu dengan mimpi buruknya.)


("Iya Mas. Kalau gitu aku mandi dulu ya Mas,," Ujar Fara dengan senyum manisnya.)


("Iya sayang. Berdandan yang cantik ya! Sebentar lagi Mas akan pulang." Jawab Riyan sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Fara.)


Selesai berbicara dengan Riyan, Fara yang merasa sedikit lebih tenang langsung memilih untuk mandi. Kesejukan air yang membasahi tubuhnya di bawah shower, seketika membuat Fara melupakan apa yang sudah mengganggu pikirannya dari semalam.

__ADS_1


__ADS_2