Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 181. Rasa Rindu.


__ADS_3

Malam itu suasana apartemen terasa begitu sepi oleh Fara, karena Riyan sedang dalam perjalanan bisnis mendadak ke Malaysia. Riyan yang menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan, harus berangkat sore tadi menuju Malaysia tanpa di jadwalkan terlebih dulu. Sebenarnya Fara ingin sekali pergi bersamanya, sekalian melihat keadaan kedua mertuanya. Namun jadwal Kampus yang sangat padat, membuatnya terpaksa harus tinggal bersama para Bibi, juga beberapa pekerja di apartemen mewah milik suaminya itu.


Di atas ranjang Fara hanya bisa memeluk guling sambil memandangi gambar Riyan yang ada di layar ponselnya. Dia begitu merindukan sosok tampan yang selalu menemani malamnya. Di sisi lain, rasa khawatir sering menghantui pikiran Fara bila berada jauh dari suaminya. Semua itu mungkin karena pengalaman buruk yang dia alami selama ini.


"Ya Tuhan,, lindungilah suamiku dari segala hal yang buruk. Jangan biarkan dia salah dalam melangkah." Fara berkata-kata sambil memeluk guling dengan mata terpejam.


Di pagi hari yang begitu cerah, Fara melangkah memasuki Kampus dengan tampang yang terlihat sangat tidak bersemangat. Melihat sikap juga raut wajahnya, beberapa temannya langsung menghampirinya dan segera menanyakan keadaannya.


"Ra,, kamu kenapa? Apa kamu kurang sehat?" Tanya Anita salah seorang teman Fara.


"Aku baik-baik saja." Jawab Fara sambil tersenyum yang begitu di paksakan.


"Tapi kamu hari ini terlihat beda banget. Dan biasanya kamu berbarengan sama Kak Riyan." Sambung teman Fara yang lainnya.


"Mas Riyan sedang melakukan perjalanan bisnis." Jawab Fara yang membuat beberapa temannya langsung tersenyum.


"Mengapa kalian senyum seperti itu? Apa kalian bahagia kalau aku kesepian?" Tanya Fara dengan tampang cemberutnya.


"Ngga ko sayang,, kamu hanya terlihat seperti anak kecil yang ngga di beri jajan." Jawab Anita yang membuat teman-temannya langsung menertawai Fara.


Keceriaan teman-teman Fara, seketika membuat Fara lupa akan kekhawatirannya terhadap Riyan, yang selalu di idolakan banyak wanita. Dia menghabiskan satu hari itu di rumah Anita dengan teman-temannya yang lain. Kebetulan ada beberapa tugas Kampus yang harus mereka kerjakan bersama-sama.


"Bagaimana kalau kita nonton?" Ujar Anita setelah mereka selesai mengerjakan tugas Kampus.


"Nonton tv maksud kamu? Acara tv ngga ada seru-serunya."Sambung priscil. Salah satu dari mereka.


"Nonton drama Korea. Aku punya banyak kaset drama Korea." Jawab Anita yang membuat teman-temannya langsung bersemangat.

__ADS_1


"Ayo-ayo! Kita langsung nonton sekarang!" Seru mereka secara bersamaan.


Drama Korea yang di pilih Anita sangat menyentuh hati. Terutama Fara yang begitu mencintai suaminya dan takut kehilangan laki-laki yang sangat dia cintai itu. Tidak terasa air mata mulai meluncur membasahi wajah Fara, juga beberapa temannya yang lain selain Anita, yang sudah sering menonton drama tersebut. Priscil yang tak kuasa menahan kesedihannya, langsung memeluk Fara dengan isak tangis yang tak tertahankan.


"Priscil,, kamu ko nangisnya sampai gitu banget?" Protes Anita yang merasa bingung dengan tingkah sahabatnya itu.


"Aku tu sedih banget Nit. Coba kamu di campakan seperti itu hanya karena tidak bisa memiliki anak? Apa kamu akan bahagia?" Tanya Priscil yang membuat beberapa temannya langsung tertawa.


"Hahahahaha... Priscil.. Kamu ko berpikirnya jauh banget..?" Ujar Anita sambil menggelengkan kepala.


"Apaan sih kalian..? Orang lagi sedih malah di ejek." Gerutu Priscil yang merasa kesal dengan tingkah beberapa temannya.


Sedangkan Fara yang benar-benar terbawah perasaan dengan jalan cerita drama yang sedang mereka nonton, hanya tersenyum tanpa bersuara. Fara benar-benar takut akan nasibnya yang bisa saja seperti pemeran wanita di dalam drama itu. Yang di campakan oleh suaminya, karena dia tidak bisa memiliki anak. Dan di saat mereka semua sudah terdiam dengan tatapan lurus ke layar tv, tiba-tiba terdengar suara panggilan masuk dari ponsel Fara.


"Siapa Ra,,?" Tanya salah seorang teman Fara, karena melihat senyum yang mengembang di wajah cantik sahabatnya itu. Saat menatap layar ponselnya.


"Ya iyalah.. Memangnya kamu yang ngga ada pasangan?" Ejek Fara yang membuat mereka semua langsung tertawa termasuk Priscil.


"Aku terima telpon suamiku dulu ya.." Ujar Fara dan langsung melangkah pergi meninggalkan teman-temannya.


("Halo Mas.. Kamu sudah sampai ya Mas?" Tanya Fara setelah telponnya tersambung.)


("Iya sayang. Kamu kenapa? Ko suara kamu aneh?" Tanya Riyan karena merasa aneh dengan suara Fara.)


("Aku ngga apa-apa ko Mas. Aku tadi hanya terbawa suasana dengan drama Korea yang sedang kita nonton." Jawab Fara jujur.)


("Kita,, memangnya kamu nonton di mana? Di ruang keluarga?" Tanya Riyan yang belum mengetahui keberadaan Fara saat itu.)

__ADS_1


("Di tempat Anita Mas. Aku sama teman-teman aku. Kebetulan tadi kita mengerjakan tugas Kampus di tempat Anita." Jelas Fara.)


("Setelah itu kamu langsung pulang ya..! Tapi ngga boleh pulang sendirian. Nanti aku suruh supir untuk jemput kamu di situ." Ujar Riyan yang terdengar sedikit khawatir.)


("Iya Mas. Terus keadaan Ibu dan Ayah bagaimana Mas? Mereka baik-baik saja kan?" Tanya Fara.)


("Aku baru saja sampai di bandara sayang. Belum sampai rumah." Jawab Riyan yang membuat Fara langsung tersenyum bahagia sambil berkata-kata dalam hatinya.)


"Aku tidak boleh meragukan suamiku. Dia begitu perduli padaku. Dia memilih untuk menghubungiku sebelum turun dari pesawat."


Fara yang tadinya mulai khawatir dengan pikiran yang mulai menjelah kemana-mana, kini terlihat lebih tenang, dan lebih yakin terhadap Riyan yang begitu perhatian juga perduli padanya. Dalam perjalanan bisnis pun Riyan lebih mengutamakan dirinya. Padahal di sana ada kedua orang tuanya yang sangat dia rindukan selama ini.


("Fara.. Ingat ya..! Kamu jangan pulang menggunakan taksi! Nanti aku minta supir atau asisten aku untuk menjemput kamu." Tambah Riyan yang membuat senyum Fara semakin melebar.)


("Iya Mas.. Kamu ngga usah terlalu khawatir sama aku. Aku akan baik-baik saja. Aku akan selalu di sini menunggu kedatangan mu." Jawab Fara berusaha menenangkan suaminya.)


("Fara,, satu lagi yang pernah kamu ingat! Jangan terlalu larut tidurnya! Dan jangan lupa makan. Kamu ngga perlu berpikir macam-macam tentang aku. Walaupun kita berjauhan, tapi aku selalu merindukanmu." Kata-kata Riyan yang seketika membuat Fara jadi terharu.)


("Mas,, jaga kesehatan kamu ya..! Aku sangat merindukanmu. Aku sayang banget sama kamu. Cepatlah kembali." Ujar Fara dengan suara bergetar menahan tangisnya.)


("Kamu jangan menangis! Aku kan sudah sering bilang, air mata kamu itu hanya akan menjadi beban untuk aku. Aku juga sangat menyayangimu. Aku akan segera kembali kalau semua urusanku sudah selesai." Jawab Riyan.)


("Ya sudah,, kamu hati-hati di sana ya,,! Nanti aku telpon lagi kalau sudah sampai rumah." Ujar Riyan yang di akhiri dengan kecupan mesra dari kejauhan.)


("Iya Mas. Kamu juga hati-hati ya!" Jawab Fara dan tidak lupa membalas kecupan suaminya.)


Setelah telponnya terputus, Fara hanya terdiam sambil meletakkan ponselnya di dada, dengan senyum bahagia yang masih menghiasi wajah. Fara benar-benar merasa beruntung menjadi pendamping hidup Riyan. Laki-laki dingin yang memiliki segudang cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2