
Selesai berbicara kepada putrinya, Aleta langsung keluar dari kamar dan melangkah ke arah lift yang berada tidak jauh dari situ. Tapi seketika langkahnya tiba-tiba tertahan, di saat matanya tertuju pada sebuah foto yang tergantung di dinding. Di foto itu, terlihat Fara yang masih berusia 3 tahun begitu ceria dan menggemaskan. Di saat sedang menatap gambar putrinya, serentak perasaan sedih langsung menyelimuti hati Aleta, setelah mendengar kata-kata Fara di depan pintu kamarnya kepada Faris Papanya.
"Pa,, kalau aku sudah ngga ada di rumah ini, Papa sama Mama masih sayang kan sama aku?" Tanya Fara sambil menatap Faris dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu ko bertanya seperti itu?" Tanya Faris balik sambil mengusap-usap kepala putrinya, dengan tatapan penuh kasih sayang.
Mendengar pertanyaan putrinya, Aleta pun langsung berbalik dan melangkah menghampiri suami juga putrinya, yang masih terus berdiri di depan pintu kamar. Dan tanpa menunggu lama, Aleta segera mendekap Fara ke dalam pelukannya kemudian berkata.
"Kamu adalah putri Mama dan Papa satu-satunya. Di manapun kamu berada, tetap kamu adalah putri kecil kami." Ujar Aleta sambil memeluk putrinya dengan air mata yang sudah berlinang membasahi wajahnya.
"Ma,, apa aku akan bahagia hidup jauh dari kalian?" Tanya Fara dengan bercucuran air mata.
Mendengar pertanyaan Fara barusan, hati kedua orang tuanya seketika ragu harus melepaskannya pergi jauh dari mereka. Tapi semuanya sudah terlanjur mereka sepakati. Apalagi Riyan adalah keponakan mereka sendiri, jadi tidak ada alasan mereka untuk meragukannya. Sambil melepaskan pelukannya, Aleta pun segera meyakinkan putrinya.
"Sayang,, Riyan itu putra dari saudara Mama dan Papa. Selain menjadi suamimu, dia juga saudara laki-lakimu. Jadi dia pasti akan membahagiakan dirimu." Ujar Aleta meyakinkan putrinya.
"Iya sayang. Kamu ngga usah pikir macam-macam! Pernikahan itu salah satu ibadah yang harus kita jalankan. Jadi kebahagiaan sudah pasti ada di dalam pernikahan semua orang, apabila janji suci selalu di jaga." Tabah Faris yang membuat Fara langsung tersenyum sambil memeluk kedua orang tuanya.
Fara yang sedikit meragukan pernikahannya dengan Riyan, kini begitu bersemangat setelah mendengar apa yang di katakan oleh kedua orang tuanya. Dia begitu yakin dan percaya dengan setiap keputusan yang di ambil orang tuanya. Karena baginya, restu orang tua adalah jalan menuju kebahagiaan.
__ADS_1
"Kamu mandi ya sayang! Karena sebentar lagi, kamu dan Riyan akan pergi bersama Papa juga Om Reza, untuk mendaftarkan pernikahan kalian." Ujar Aleta. Dan Fara hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Dengan wajah yang terlihat begitu ceria, Fara melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, setelah Papa dan Mamanya turun ke lantai bawah. Di dalam kamar mandi, Fara melepaskan pakaiannya sambil bernyanyi saking bahagia menyambut hari terindah di dalam hidupnya.
Sedangkan Riyan yang sudah berada di dalam kamarnya sejak pulang berolahraga tadi, ternyata sudah rapi dan terlihat gagah, dengan penampilan yang sangat santai juga modern. Riyan adalah orang yang tidak berlebihan dalam berpakaian. Tapi dia juga orang yang sangat memperhatikan penampilan. Dan itulah yang membuat dia selalu terlihat menarik dengan pakaian apapun yang dia kenakan.
Setelah merasa sudah rapi, Riyan pun langsung meraih ponselnya yang ada di atas tempat tidurnya, dan memilih turun ke lantai bawah menuju parkiran menemui Alfa yang ingin menunjukan mobil barunya. Baru beberapa hari bersama dalam satu rumah, Riyan dan Alfa sudah sangat dekat layaknya saudara. Bahkan orang pertama yang dia hubungi adalah Riyan setelah tiba di parkiran dengan mobil barunya.
"Wooo,, bagus bangat mobilnya Mas." Ujar Riyan memuji mobil barunya Alfa setelah berada di parkiran.
"Harganya pasti mahal bangat ni." Riyan berkata sambil melangkah maju mendekati Alfa. Dan belum sempat Alfa menjawab, Fara tiba-tiba muncul yang membuat mereka berdua jadi terdiam.
"Mas... Itu mobil baru kamu..?" Teriak Fara yang begitu keras sambil melangkah dari teras rumah, menghampiri mereka dengan penuh kegirangan.
"Woooo,,, mewah bangat ni mobil. Boleh aku pinjam bentar ngga Mas?" Tanya Fara sambil terus menatap mobil Alfa dengan penuh kekaguman.
__ADS_1
"Ngga boleh!" Tolak Alfa yang membuat Fara langsung merengek seperti anak kecil.
"Aku mohon Mas,, aku hanya ingin cobain sebentar saja,," rengek Fara tapi tetap di tolak oleh Alfa.
"Pokoknya ngga bisa! Kalau terjadi apa-apa sama kamu, Mas juga yang akan di salahin." Tolak Alfa yang membuat Fara langsung memasang tampang cemberutnya sambil menyumpahi Kakaknya.
"Dasar pelit. Aku sumpahin Mas ngga akan pernah mendapatkan pacar secantik aku." Kata-kata Fara yang membuat Alfa langsung tertawa sambil mengejeknya.
"Hahahahahaha... He anak kecil, kamu ngga tahu kan? Kalau Mas mu ini, sudah punya pacar jauh lebih cantik dari pada kamu." Perkataan Alfa yang membuat Fara seketika jadi kesal, dan memilih untuk kembali ke dalam rumah.
Melihat ekspresi Fara seperti anak kecil yang tidak mendapatkan jajanan, membuat Alfa semakin tertawa lepas. Sedangkan Riyan yang melihat kedua kakak beradik itu, hanya tersenyum tanpa berkata-kata.
Entah apa yang di pikirkan oleh Riyan, tapi dari ekspresi wajahnya, dia seperti merasakan sesuatu yang membebani pikirannya. Sedangkan Alfa yang memang hobi menjahili adiknya, terlihat begitu bahagia karena berhasil membuat Fara jadi kesal.
Alfa memiliki sifat yang sama dengan semua laki-laki di dalam keluarganya, yang tidak suka banyak bicara. Tapi kalau mengenai adik perempuannya, sikap dinginnya akan berubah dalam waktu sekejap. Dia selalu bisa tertawa lepas di saat menjahili adiknya. Tapi dia juga bisa sangat marah di saat ada yang menyakiti Fara. Dan kemarahannya tidak bisa di kendalikan sama seperti Papanya.
Demi Fara, Alfa sampai pernah di tahan di kantor polisi walau hanya beberapa hari. Semua itu terjadi di saat Fara mau di lecehkan oleh teman sekolahnya beberapa tahun yang lalu. Di saat itu emosi Alfa memang tidak bisa untuk di kontrol, yang membuat dia memukuli laki-laki itu dengan membabi-buta.
Tapi semua yang dia lakukan dapat di selesaikan oleh Papanya dengan begitu mudahnya. Apalagi di saat itu kesalahan memang ada pada pelaku yang berusaha ingin melecehkan adik perempuan dia satu-satunya, yang teramat sangat di sayangnya.
__ADS_1