Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 125. Fara Yang Masuk Perangkap.


__ADS_3

Dengan luka yang sudah mulai terasa perih di bagian telapak kakinya, Fara terus berusaha untuk melangkah tanpa tujuan. Dia begitu bingung karena tidak tahu dengan arah jalan yang sedang dia lalui. Tapi tiba-tiba, tanpa sengaja dia menabrak seseorang di saat dia sedang menunduk, melihat luka di kakinya yang sudah sangat parah.


"Maafkan saya Nona! Saya tidak sengaja." Suara seorang laki-laki dengan menggunakan bahasa Inggris, yang sedang berdiri tepat di depan Fara.


"Tidak apa-apa. Saya juga salah karena tidak melihat jalan." Jawab Fara menggunakan bahasa Inggris, sambil mundur sedikit menjauh dari laki-laki bermata biru itu.


"Anda mau kemana Nona..? Apa bisa saya antar..? Soalnya kaki Nona pastinya sangat sakit." Ujar laki-laki itu sambil menatap Fara, yang terlihat sedikit khawatir berhadapan dengan orang asing.


"Jangan takut Nona. Saya bukan orang jahat. Saya hanya ingin membantu."


"Sebenarnya saya tidak tahu jalan pulang. Soalnya saya orang baru di Amerika. Saya berasal dari Indonesia." Jelas Fara dengan tampang ragu-ragu.


"Astaga Nona... Ibu saya juga berasal dari Indonesia. Nona tidak perlu takut sama saya. Saya tidak ada niat jahat sama Nona." Ujar laki-laki itu menggunakan bahasa Indonesia yang terdengar kurang fasih.


Mendengar laki-laki itu bisa berbahasa Indonesia, juga memiliki Ibu yang berasal dari Indonesia, membuat keraguan Fara seketika hilang dari dalam pikirannya. Apalagi dia juga menyadari, kalau dia memang tidak bisa pulang tanpa bantuan orang lain. Dan tanpa berpikir panjang, Fara pun segera meminta pertolongan laki-laki bermata biru itu.


"Tuan,, apa saya bisa minta tolong..?" Tanya Fara dengan tatapan serius.


"Bisa saja Nona. Kita kan sama-sama orang Indonesia. Jadi tidak ada salahnya kita saling membantu." Jawab laki-laki itu.


"Kalau boleh saya tahu, siapa nama Nona..?" Tanya laki-laki itu.


"Nama saya Fara." Jawab Fara.

__ADS_1


"Kalau saya bernama Rafael. Apa yang bisa saya bantu Nona..?" Tanya Rafael dengan senyum ramah.


"Sebenarnya saya ingin pulang ke apartemen. Tapi saya tidak tahu alamatnya. Kalau bisa saya ingin meminjam ponsel anda, untuk menghubungi seseorang." Ujar Fara.


"Astaga Nona.. Ponsel saya kebetulan lagi mati. Kalau mau, mending kita ke rumah saya dulu! Nanti saya pinjamkan ponsel saya kalau baterei nya sudah terisi." Jawab Rafael.


Fara yang belum mengenal siapa Rafael, merasa sedikit ragu untuk mengikutinya. Dia sama sekali tidak bisa untuk langsung percaya dengan laki-laki asing itu. Tapi Rafael kembali meyakinkan dia, dan mengatakan sesuatu yang membuat Fara tidak ada pilihan lain selain mengikutinya.


"Saya tahu anda pasti ragu menerima ajakan saya. Itu memang hal yang wajar. Tapi dalam situasi seperti ini, anda harus secepatnya menghubungi orang yang bisa menjemput anda sebelum gelap. Saya tidak akan menyakiti ataupun menipu Anda Nona." Ujar Rafael.


"Ya sudah,, saya ikut sama anda. Tapi tolong bantu saya untuk bisa pulang ke tempat tinggal saya secepatnya." Pinta Fara.


"Saya janji akan membantu anda Nona. Jangan khawatir!" Jawab Rafael sambil tersenyum menatap Fara.


Hampir setengah jam perjalanan, akhirnya taksi pun berhenti di depan sebuah rumah yang terletak di dekat rel kereta api. Tanpa ragu Fara melangkah mengikuti Rafael dari belakang, sambil memandang ke sekeliling pekarangan rumah yang hendak mereka masuki. Tapi setelah memasuki rumah itu, Fara seketika jadi bingung di saat melihat keadaan rumah yang begitu sepi, tanpa ada seorang pun di dalamnya.


"Maaf Tuan,, apa di rumah ini tidak ada orang lain selain anda..?" Tanya Fara sambil menatap ke setiap sudut rumah tersebut.


"Iya,, kebetulan seluruh anggota keluarga saya sedang berlibur. Jadi untuk sementara hanya ada saya sendiri." Jawab Rafael sambil mengambil dua botol air dari dalam lemari es.


"Minum dulu! Nanti baru kita pikirkan langkah selanjutnya untuk anda bisa pulang." Ujar Rafael sambil memberikan sebotol air buat Fara.


Selesai meneguk air yang di berikan oleh Rafael, Fara yang sudah duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu, kembali menanyakan ponsel Rafael.

__ADS_1


"Tuan,, apa baterai ponsel anda bisa di isi sekarang..?" Tanya Fara.


"Oo iya,, saya hampir lupa." Jawab Rafael sambil melangkah ke sudut ruangan. Tapi tiba-tiba kekhawatiran kembali timbul di benak Fara di saat mendengar perkataan Rafael.


"Astaga.. Ternyata charger ponsel saya sedang rusak. Kenapa saya bisa lupa seperti ini..?" Ujar Rafael yang membuat Fara seketika jadi khawatir, dan merasa ada yang aneh dengan laki-laki asing bermata biru itu.


Berada di dalam sebuah rumah kosong bersama seorang laki-laki yang baru dia kenali, membuat Fara sangat merasa takut. Apalagi di saat mendengar berbagai macam alasan Rafael yang menurutnya sedikit mencurigakan. Ingin sekali Fara pergi dari rumah itu. Tapi melihat kondisinya sendiri, dia merasa tidak bisa untuk melakukan itu. Akhirnya dia pun terpaksa untuk tetap berada di situ sambil memikirkan jalan keluar.


"Nona,, anda tunggu dulu di sini sebentar. Saya mau ke kamar dulu untuk melihat barang saya." Ujar Rafael dan langsung melangkah pergi menuju lantai atas.


Fara yang semakin curiga dengan sikap Rafael, sudah bertambah panik dan berusaha berpikir untuk bisa pergi dari tempat itu secepatnya. Dan di saat dia hampir berputus asa, tidak sengaja dia melihat ada ponsel yang terletak di atas lemari es, yang terletak tidak jauh dari tempat duduknya. Dengan segera Fara pun langsung berdiri dan melangkah menuju lemari es tersebut, untuk melihat ponsel yang ada di sana. Dan betapa kagetnya dia, di saat melihat baterai ponsel itu masih terisi penuh.


Tanpa berpikir panjang, Fara langsung buru-buru menghubungi nomor Riyan, tapi Riyan sama sekali tidak menjawab telponnya. Dan di saat dia menghubungi nomornya sendiri, malah berada di luar jangkauan. Ketakutan Fara semakin menjadi-jadi, apalagi di saat dia membuka pesan yang baru masuk di ponsel itu. Tanpa berlama-lama, Fara pun segera mengirim pesan singkat kepada Riyan, dan dia tidak lupa menuliskan nama tempat yang tertulis di dalam pesan masuk barusan. Kemudian dia langsung menghapus pesan masuk itu, dan kembali duduk di sofa.


"Fara,, lebih baik kamu mandi dulu! Soalnya sebentar malam nanti, saya mau mengajakmu ke suatu tempat. Di sana ada beberapa teman-teman saya yang juga berasal dari Indonesia. Mungkin kita nanti bisa meminjam ponsel mereka, untuk menghubungi orang yang bisa menjemputmu." Ujar Rafael.


"Saya tidak ingin mandi. Soalnya saya merasa kedinginan." Jawab Fara mencari-cari alasan.


"Ya sudah. Kalau gitu kita langsung pergi saja. Jangan terlalu larut, biar kita bisa menghubungi seseorang untuk menjemputmu." Ujar Rafael yang terlihat sudah sangat rapi.


"Iya saya juga mau seperti itu." Jawab Fara dengan segera.


Di dalam perjalanan menuju tempat yang ingin mereka datangi, Fara hanya terdiam sambil menatap ke arah luar melewati kaca mobil yang sedikit terbuka. Dia semakin ketakutan melihat keadaan di luar yang sudah mulai gelap. Sedangkan Rafael yang terlihat begitu santai, hanya tersenyum sambil melirik Fara dengan lirikan yang terlihat begitu aneh.

__ADS_1


#Jangan lupa baca episode baru Tunanganku Adalah Orang Yang Telah Menodaiku. Ceritanya semakin seru, karena putri Bela menderita penyakit kanker darah. Yang mengharuskan kedua orang tuanya harus bisa bersama untuk mengobatinya#


__ADS_2