
Fara yang sudah berada di dalam kamarnya, masih sangat kesal dengan apa yang di katakan oleh Riyan tadi. Dia tidak sanggup menerima kenyataan kalau dia bukanlah wanita pertama di dalam hidup Riyan. Sedangkan Riyan malah sudah terlelap di dalam kamarnya tanpa ada beban sedikitpun.
Membayangkan Riyan pernah bersama wanita lain, membuat Fara sekejap ingin mengakhiri hubungan tanpa kepastian itu. Tapi di sisi lain dia tidak sanggup harus kehilangan Riyan, yang sudah terlanjur dia cintai. Dengan perasaan yang kacau akhirnya Fara pun terlelap, di dalam selimut yang menghangatkan tubuhnya.
Fajar yang mulai menampakan wujudnya menandakan malam telah berlalu. Beberapa orang yang berada di dalam rumah mewah itu bangun satu persatu. Namun Fara yang tidur begitu larut, masih saja berada di alam mimpinya. Dia terus terlelap dengan begitu nyenyaknya, tanpa menyadari cahaya mentari mulai menembus ke dalam kamarnya. Tapi tiba-tiba, dia pun di kagetkan dengan suara teriakan Mamanya yang begitu keras.
"Fara,, Fara bangun Fara!" Suara Aleta membangunkan putrinya. Namun yang di bangunkan malah semakin mempererat pelukannya, pada guling yang ada di sampingnya. Aleta yang melihat sifat putrinya yang tidak pernah berubah, seketika jadi kesal dan memilih untuk berteriak.
"Fara... Fara bangun...!" Teriak Aleta dengan begitu kerasnya, yang membuat Fara terbangun dan langsung terduduk, dengan tampang kesalnya sambil bersuara.
__ADS_1
"Apa sih Ma..?" Tanya Fara yang sudah duduk di atas tempat tidurnya, sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Apa,, apa,,, ini ni sudah siang.. Kamu tu sebentar lagi akan berumah tangga. Bagaimana kamu mau jadi istri yang baik? Kalau bangun pagi saja ngga bisa." Ocehan Aleta karena merasa kesal dengan putrinya.
Sedangkan Riyan yang sejak pagi tadi memilih untuk lari pagi bersama Alfa, baru saja memasuki rumah dengan tubuh yang bermandikan keringat. Semua laki-laki di dalam keluarga itu sangat mencintai olah raga. Dan itulah yang membuat tubuh mereka sangat terbentuk, dan menarik di pandangan mata setiap wanita.
"Pa,,, aku di marahin sama Mama,," Rengek Fara sambil melangkah memeluk Papanya yang berada di depan pintu kamar.
"Al,, kamu ngga boleh terlalu keras seperti itu!" Ujar Faris sambil memeluk putrinya.
__ADS_1
"Kamu tu Mas yang jangan terlalu manjain dia. Untuk bangun pagi saja dia ngga bisa. Terus bagaimana jadinya dia setelah menikah nanti? Apa suaminya harus di urus sepenuhnya oleh orang lain?" Ujar Aleta yang membuat Faris tidak dapat untuk berkata-kata.
"Fara.. Ayo cepat mandi..! Dan setelah itu kamu langsung merapikan tempat tidurmu juga Riyan." Ujar Aleta begitu tegas.
"Ko aku sih Ma? Kan ada bibi." Ujar Fara dengan tampang cemberutnya.
"Kamu harus latihan mulai hari ini! Karena besok kamu sudah mulai membiasakan diri, untuk merapikan tempat tidur kalian berdua. Dan satu lagi Fara. Selama kita masih bisa mengerjakannya sendiri, tidak usah membebankan bibi! Biar mereka juga bisa beristirahat." Ujar Aleta mengingatkan putri kesayangannya.
Selain memiliki paras yang cantik, Aleta juga memiliki hati yang sangat mulia. Dia tidak pernah bersikap sombong, seperti istri konglomerat pada umumnya, yang hanya bisa berpangku tangan. Dia malah sering melakukan pekerjaan rumah, yang semustinya di lakukan oleh para bibi yang ada di rumah itu. Dan sikapnya itu selalu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Faris suaminya.
__ADS_1