
Semilir angin bertiup bersama mentari yang sudah menampakan wujudnya. Memperindah suasana di pagi itu yang terasa begitu sejuk. Sambil menatap ke ufuk timur, Fara menarik nafas panjang dan membuangnya kasar dengan raut wajah tersimpan beban. Sebagai sesama wanita, Fara begitu tidak tega mendengar keadaan Shelina yang sangat menyedihkan baginya.
Fara tidak bisa membayangkan apa yang di rasakan Shelina saat itu. Apalagi Shelina adalah orang asing di dalam keluarganya. Dia tidak tahu bagaimana Shelina menghadapi situasi yang ada. Fara begitu yakin, Shelina pasti sangat tersiksa dengan sikap Alfa, kakak laki-lakinya itu. Tanpa melepaskan pandangannya dari cahaya keemasan, Fara pun mulai berkata-kata sendirian.
"Mengapa Mas Alfa begitu tega? Apa ada sesuatu yang membuatnya begitu sulit untuk percaya kepada seorang wanita? Apalagi Mba Shelina adalah wanita yang baru dia kenali. Tapi aku yakin, Mba Shelina adalah wanita yang baik." Fara berkata-kata tanpa menyadari kedatangan suaminya, yang sudah berada dekat dengannya.
"Fara.. Ternyata kamu di sini..? Sejak kapan kamu berada di sini..?" Tanya Riyan dengan tampang datarnya.
"Mas Riyan.. Ko kamu ada di sini..?" Tanya Fara bingung bercampur kaget.
"Ngapain kamu pagi-pagi begini di taman sendirian..?" Tanya Riyan dengan ekspresi aneh.
"Astaga Mas,, aku tu ngga sendirian. Lihat tu di sana ada beberapa laki-laki yang sedang lari pagi." Jawab Fara sambil menunjuk ke arah beberapa laki-laki, yang sedang berlari-lari sambil menatap ke arah mereka.
"Ooo,, jadi kamu berada di sini karena ada mereka..? Heee,, kamu itu istri orang, ngapain pagi-pagi buta berada di taman sendirian..? Apa kamu mau mencari perhatian mereka..?" Riyan bertanya-tanya dengan tampang penuh kekesalan.
"Loh,, ko kamu bisa berpikir seperti itu? Hmmmm,, aku tahu. Pasti kamu cemburu kan? Ayo ngaku..!" Ujar Fara sambil tersenyum menatap Riyan yang seketika jadi salah tingkah.
"Siapa yang cemburu..? Jangan terlalu percaya diri..! Aku tu hanya mengingatkan kamu. Biar kamu ngga bertingkah aneh di depan orang." Jawab Riyan sambil memalingkan wajahnya yang seketika memerah saking gugupnya.
__ADS_1
"Alaaaa,, bilang saja Mas kalau cemburu! Jangan gengsi sama istri sendiri!" Fara berkata-kata dengan senyum yang semakin lebar, karena merasa lucu dengan tingkah suaminya.
"Apa-apaan sih kamu..? Ngga usah senyum-senyum..! Nanti di kira orang gila." Ketus Riyan yang berusaha untuk menutupi rasa cemburunya.
"Ya sudah kalau ngga mau ngaku. Aku mau gabung lari pagi saja sama mereka." Ujar Fara dan langsung berdiri hendak melangkah pergi. Tapi dengan segera Riyan pun menahannya sambil berkata.
"Jangan aneh-aneh kamu..! Ayo kita pulang..!" Ujar Riyan sambil menggenggam tangan Fara dengan begitu erat.
"Astaga Mas... Genggamannya ngga usah terlalu seperti ini juga! Aku ngga akan pergi sayang. Aku tu hanya mau tahu, apa kamu biarkan aku pergi atau tidak. Ternyata kamu sampai segininya takut kehilangan aku." Fara berkata-kata sambil menatap Riyan dengan tatapan centilnya.
Tanpa menjawab apa-apa, Riyan segera menarik Fara dan melangkah pergi meninggalkan taman itu. Melihat sikap suaminya yang tidak biasanya, membuat Fara semakin bahagia. Senyuman yang masih terukir di wajahnya, sangat menunjukan kalau dia semakin bahagia, di perlakukan seperti itu oleh laki-laki yang sangat dia cintai.
Fara begitu bersyukur bisa memiliki Riyan seutuhnya. Tapi biar bagaimanapun, dia masih tetap khawatir dengan wanita-wanita di luar sana, yang masih tetap berusaha mendekati suaminya. Terutama Rena teman Riyan yang tidak tahu malu itu. Sambil melangkah mengikuti Riyan, Fara pun mulai berkata-kata di dalam hatinya, tanpa melepaskan pandangannya dari wajah tampan di sampingnya itu.
Fara berkata-kata di dalam hati dengan tampang penuh berharap. Walaupun Riyan selalu berusaha menutupi perasaannya, dengan sikap dingin juga rasa gengsi di dalam dirinya, namun Fara yakin, kalau laki-laki yang tadinya begitu dingin, kini sudah menyimpan rasa yang besar di dalam hatinya.
Pernikahan yang tadinya membawa luka, kini telah menjadi satu anugerah terindah bagi Fara. Dia tidak bisa berada jauh dari suaminya itu. Dan dia juga tahu, kalau Riyan merasakan hal sama seperti apa yang dia rasakan.
"Fara,, lain kali kamu ngga boleh keluar di pagi buta seperti tadi tanpa ada aku!" Ujar Riyan tiba-tiba yang seketika mengganggu lamunan Fara, akan kebahagiaan yang dia rasakan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Mas? Lagian aku keluar juga ngga jauh-jauh." Jawab Fara.
"Kamu ingat ngga apa kata Oma? Jadi istri itu harus nurut apa kata suami! Kalau tidak nanti dosa." Ujar Riyan sambil menatap Fara yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Iya Mas,, lagian aku ngga cuman takut dosa kalau ngga nurut sama kamu. Tapi aku takut kamu berpaling ke lain hati." Jawab Fara jujur sambil menyandarkan kepalanya di pundak Riyan.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Kita berdua terlahir dari sepasang suami istri yang selalu menjaga kesetiaan mereka. Jadi aku ataupun kamu, tidak akan menjadi penghinat dala rumah tangga kita. Jadi aku mau kamu harus bisa bersikap, sebagaimana wanita yang sudah bersuami!" Ujar Riyan sambil merangkul pundak Fara.
"Iya Mas. Lagian aku ngga akan genit kepada siapapun selain kamu. Tapi aku tu lagi bingung Mas." Jawab Fara tanpa menatap Riyan.
"Bingung kenapa?" Tanya Riyan sambil terus melangkah.
"Aku tu bingung mau mencari parfum yang di pesan Mba Shelina. Karena aku ingin menemukan parfum itu secepatnya. Biar Mas Alfa tidak menyakiti Mba Shelina lagi. Biar dia percaya kalau wanita yang bersamanya malam itu memang benar Mba Shelina." Ujar Fara panjang lebar.
"Ngga usah bingung! Di sini ni, ada tokoh yang menjual semua jenis parfum dari semua negara. Aku yakin kita bisa menemukan parfum itu di sana. Tapi kita akan mencarinya setelah dari Dr." Ujar Alfa yang membuat Fara sedikit merasa lega.
"Iya Mas. Pokoknya kita harus menemukan parfum itu secepatnya. Aku ngga tega mendengar kabar keadaan Mba Shelina. Aku ngga bisa bayangin kalau aku berada di posisinya saat ini. Mungkin aku akan menangis siang dan malam." Ujar Fara.
"Mana mungkin ada laki-laki yang bisa memperlakukan kamu seperti itu?" Sambung Riyan yang membuat Fara langsung menatapnya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Mas?" Tanya Fara.
"Kalau ada yang berani memperlakukan kamu seperti itu, mereka akan di jadikan santapan Om Faris. Aku saja untung ngga ketahuan. Kalau tidak mungkin aku sudah di gantung hidup-hidup." Perkataan Riyan yang membuat Fara langsung tertawa dengan begitu kerasnya.