Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 196. Berdarah Dingin.


__ADS_3

Fara yang begitu lemas setelah dua hari di sekap tanpa di kasih makan, hanya terduduk di lantai dengan tubuh tersandar di dinding. Dia menatap ke sana kemari dengan harapan dapat menemukan jalan keluar dari tempat itu. Namun keadaannya sangat tidak memungkinkan untuk bisa keluar tanpa bantuan orang lain. Menyadari keadaannya yang semakin tidak berdaya, Fara kembali meneteskan air mata saat mengingat keluarganya juga janin yang ada di dalam kandungannya saat itu.


Fara yang malang hanya bisa berdoa untuk keselamatan dirinya juga calon bayinya. Dia begitu takut jika terjadi apa-apa dengan calon bayinya. Fara sama sekali tidak perduli dengan dirinya. Dia hanya memikirkan nasib malaikat kecil yang tidak berdosa di dalam kandungannya. Dengan berderai air mata, Fara mengusap-usap perutnya yang masih sangat rata, sambil berkata-kata di dalam hatinya.


"Sayang,, apapun yang terjadi kita tetap bersama hidup ataupun mati. Jadi janganlah khawatir kamu akan berpistol dari Mama."


Sampainya di bandara, Faris dan Reza sudah di nanti oleh Riyan yang terlihat begitu lesu. Selama Fara menghilang, Riyan sama sekali tidak bisa beristirahat walaupun hanya sesaat. Dia juga tidak ingin menyentuh makanan sebelum Fara di temukan. Melihat kedatangan Omnya, yang sedang melangkah menuju tempat dia berdiri bersama Ayahnya, Riyan mulai terlihat bersemangat walau wajahnya begitu sangat pucat.


"Yan,, itu Faris Permana kan?" Tanya salah seorang teman Riyan yang juga berasal dari Indonesia.


"Iya,, itu Om aku. Dia Faris Permana Papanya Fara." Jawab Riyan tanpa melepaskan pandangannya dari sosok menakutkan yang sedang melangkah dari arah sana.


"Om,, Ayah,," Sambut Riyan dengan pelukan hangat kepada kedua laki-laki hebat, yang dia nantikan sejak tadi di bandara.


"Yan,, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Faris sambil mengusap-usap kepala Riyan.


"Aku baik-baik saja Om." Jawab Riyan dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Jangan seperti ini! Seorang laki-laki pantang meneteskan air mata. Lebih baik meneteskan darah demi orang yang kita cintai, dari pada harus menangis." Kata-kata Faris yang terdengar begitu santai, namun dengan raut wajah yang terlihat sangat menakutkan.


"Ayo kita pergi. Om tidak bisa berlama-lama di tempat ini." Seri Faris dan langsung melangkah bersama Reza Ayahnya Riyan.

__ADS_1


"Yan,, kita mau kemana?" Tanya Exel, salah satu teman Riyan yang terus menemaninya sejak Fara menghilang.


"Kita ke apartemen aku." Jawab Riyan.


Sampainya di parkiran bandara, Riyan dan teman-temannya seketika bingung, saat mendengar Faris menolak untuk pergi ke apartemen Riyan. Faris lebih memilih menginap di hotel yang hanya di datangi orang-orang kalangan bawah, dari pada apartemen menantunya yang sudah seperti hotel berbintang.


"Om,, kalau gitu kita ikut sama Om saja." Ujar Riyan.


"Om sama sekali tidak keberatan. Asalkan kedua teman kamu ini bisa di percaya." Bisik Faris di samping telinga Riyan sebelum masuk ke dalam mobil yang siap membawa mereka pergi.


"Kalian mau ke mana?" Tanya Faris saat Riyan dan kedua temannya hendak melangkah menuju mobil Riyan yang terparkir tidak jauh dari mobil yang sudah di naikin Faris dan Reza.


"Kita mau ke mobil Om." Jawab Riyan.


"Kamu tidak bisa pergi dengan mobil kamu. Suruh saja salah seorang temanmu yang pergi dengan mobil itu." Bisik Faris di samping telinga Riyan.


"Baik Om." Jawab Riyan dan segera menghampiri kedua temannya.


"Bro,, kamu bisa kan bawa mobil ini ke apartemen aku? Dan setelah itu kamu boleh pulang untuk berisi dulu." Ujar Riyan kepada salah seorang temannya yang berasal dari Indonesia.


"Iya Yan,, tapi aku ingin membantumu mencari Fara. Setelah dari apartemen aku akan menyusul kalian." Jawab teman Riyan.

__ADS_1


Faris yang sudah mulai berlalu pergi meninggalkan parkiran bandara bersama Reza, hanya tersenyum sambil menatap ke arah kaca spion tanpa bersuara. Melihat reaksi aneh Faris, Reza yang baru selesai berbicara dengan Aleta adiknya, yang tidak lain adalah istri Faris, langsung bertanya.


"Faris,, ada apa? Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?" Tanya Reza sambil menatap ke arah kaca spion yang sedang di tatap oleh Faris.


"Permainan akan di mulai." Jawaban singkat Faris yang membuat Reza langsung terdiam dengan tampang menegangkan.


Reza yang terlihat bingung dengan maksud perkataan Faris, berusaha untuk bersikap tenang walaupun dia merasa khawatir dengan arah tatapan Faris. Reza benar-benar yakin kalau Faris mulai menemukan sesuatu hanya dari pengamatan kedua matanya. Tapi dia sendiri tidak tahu apa yang Faris ketahui.


Dalam perjalanan menuju hotel yang tadinya sudah di pesan Faris, tiba-tiba Faris menghentikan mobil yang mereka tumpangi, dan keluar dari mobil tanpa ada pembicaraan terlebih dulu dengan Reza. Tanpa menunggu lama, Reza langsung ikut keluar dari mobil dan melangkah mengikuti Faris yang sudah menahan taksi yang di tumpangi Riyan bersama Exel.


"Ada apa Om?" Tanya Riyan bingung.


"Ayo naik!" Ujar Faris dan buru-buru menaiki sebuah mobil yang berhenti tepat di depan mereka.


"Kita langsung ke tempat yang sudah kamu pesan." Ujar Faris kepada seorang laki-laki berpakaian serba hitam yang sedang mengendarai mobil yang mereka naikin.


"Siap Pak." Jawab laki-laki itu dengan segera sambil melajukan mobilnya.


Faris yang begitu jenius dalam berpikir dan bertindak menghadapi satu masalah, selalu membuat orang-orang di sekelilingnya jadi khawatir juga menegang. Namun mereka yang sudah mengenal siapa Faris seperti Reza dan Riyan, hanya terdiam mengikuti permainan Faris. Semua anggota keluarga Permana, selalu mengandalkan cara berpikir juga keberanian laki-laki berdarah dingin itu untuk menangani setiap masalah mereka.


Aleta yang begitu mencintai suaminya, juga Oma Alira sebagai seorang ibu, tidak ingin melihat tangan Faris kembali di penuhi darah. Tapi kali ini, mereka semua membebaskan Faris untuk melakukan apa saja demi keselamatan Fara. Di balik sikap tenang Faris, mulai terpancar kemarahan dari kedua matanya yang begitu tajam bagaikan mata seekor elang.

__ADS_1


#Belum sempat di revisi.#


__ADS_2