Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 207. Sepenggal Kertas.


__ADS_3

Malam itu malam terakhir Riyan berada di Jerman. Selesai makan malam bersama keluarga baru Arsen. Riyan memutuskan untuk mengobrol dengan Paman juga Bibi Arsen di ruang keluarga. Sedangkan Arsen sudah di bawah ke kamar oleh salah seorang pembantu yang bekerja di rumah itu.


"Pak Riyan,, terima kasih atas niat baik Bapak membawa Arsen ke sini. Kalau bukan karena Pak Riyan, mungkin saya tidak pernah tahu mengenai Arsen." Ujar Paman Arsen yang bernama Adrian.


"Sama-sama Pak. Saya hanya menjalankan apa yang sudah menjadi tugas saya. Ini semua amat dari Ayahnya. Kalau tidak ada amanat darinya, mungkin Arsen sudah saya angkat sebagai putra pertama saya. Sebab istri saya sudah terlanjur menyayanginya." Ucap Riyan sambil tersenyum.


"Dia anak yang baik. Siapapun orang yang melihatnya pasti akan menyayanginya. Apalagi seperti kita yang tidak memiliki anak." Sambung istri dari Pamannya Arsen yang bernama Katrin.


Di saat mereka sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba orang yang sedang mereka bicarakan muncul dari arah kamar berlari menghampiri Riyan. Tanpa ada malu-malu Arsen anak kecil berwajah datar itu langsung memeluk erat tubuh Riyan tanpa bersuara.


"Arsen.. Kamu kenapa sayang?" Tanya Riyan yang sedikit bingung dengan sikap Arsen.


"Mungkin dia sedih karena akan di tinggalkan oleh anda Pak Riyan. Apalagi dia sudah terlanjur dekat dengan anda." Ucap Adrian.


"Iya Pak Riyan. Dia pasti sedih karena akan di tinggal oleh anda. Kalau ada waktu, tolong Pak Riyan ke sini untuk mengunjunginya." Sambung Katrin.


"Pasti saya akan ke sini kalau ada waktu. Bila perlu bersama istri saya. Karena dia yang lebih bersedih saat Arsen mau saya bahwa ke sini." Jawab Riyan sambil mengusap-usap rambut Arsen yang masih terus memeluknya.

__ADS_1


"Arsen,, Om nanti akan kembali bersama Tante untuk melihat keadaanmu." Riyan yang juga tidak tega melihat keadaan Arsen. Berusaha menghiburnya.


"Om,, aku ingin menitipkan sesuatu." Ujar Arsen setelah mengangkat muka menatap Riyan.


"Apa yang mau kamu titip sayang?" Tanya Riyan sedikit penasaran.


"Nanti besok baru aku kasih. Soalnya belum selesai aku buat." Jawab Arsen.


"Ya sudah. Kalau gitu sekarang lebih baik kamu tidur. Biar tidak kesiangan. Takutnya nanti kamu tidak sempat memberikannya kepada Om kalau bangun kesiangan."


Setelah Arsen masuk ke kamarnya, Riyan langsung berpamitan untuk tidur lebih dulu kepada Paman dan Bibi Arsen. Riyan melangkah menaiki tangga menuju kamar yang sudah di siapkan olehnya. Sambil meraba-raba saku celana bagian belakang. Saat dia merasa ada sesuatu di dalamnya.


"Ini kertas apa? Perasaan aku tidak pernah memadukan kertas ke dalam saku celana." Ujar Riyan sambil membuka gulungan kertas.


'Apa Arsen yang barusan memasukkan kertas ini?' Batin Riyan yang mulai merasa ada yang salah.


Ternyata selembar kertas itu ada tulisan di dalamnya. Dan itu bukan tulisan seorang anak kecil seperti Arsen. Karena mulai merasa ada sesuatu yang ganjal, Riyan langsung meremas selembar kertas itu dan segera masuk ke dalam kamarnya. Sampainya di dalam kamar, Riyan bersikap biasa saja dan langsung menuju kamar mandi. Dia memilih membaca isi kertas itu di dalam kamar mandi.

__ADS_1


'''Isi Kertas'''


Tuan,, sebaiknya anda cepat pergi dari rumah ini membawa Arsen. Anda sudah salah alamat. Di sini bukan keluarga Arsen. Mereka hanya orang jahat yang menjual belikan organ manusia dewasa maupun anak-anak. Tapi anda tidak bisa kabur begitu saja. Arsen yang nanti akan mengajak anda ke minimarket dekat sini. Dan di saat itulah kesempatan anda untuk kabur membawa Arsen. Kalau untuk barang-barang anda. Bawa saja yang anda anggap penting seperti paspor juga ATM. Jangan buat mereka curiga.


********


Selesai membaca isi kertas itu. Riyan langsung buru-buru keluar dari kamar mandi dan mengambil beberapa barang pentingnya. Kemudian dia berbaring di tempat tidur dengan santainya seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar di iringi suara seorang wanita.


"Tuan... Maaf sudah mengganggu." Suara yang terdengar tepat di depan pintu kamar.


"Iya ada apa?" Tanya Riyan sambil melirik Katrin yang berdiri tepat di belakang Arsen, bersama wanita yang bersama Arsen sejak tadi.


"Arsen ingin di antar ke minimarket oleh anda Pak Riyan." Ujar Katrin dengan senyum manisnya.


"Kamu mau beli apa sayang? Sini Om antar." Ujar Riyan dengan sikap yang sama sekali tidak mencurigakan.


Dengan santainya Riyan menggandeng tangan Arsen keluar dari rumah besar itu. Menuju sebuah minimarket yang ada di seberang jalan. Suasana di sekeliling rumah itu terlihat begitu sepi. Tapi Riyan sempat melihat ada bayangan di samping rumah di saat dia sudah menghampiri jalan. Dan dia benar-benar percaya kalau keluarga yang dia datangi itu bukan orang baik-baik. Karena suasana di dalam rumah itu memang terasa sangat tidak nyaman sejak pertama dia memasukinya.

__ADS_1


__ADS_2