
Dalam perjalanan pulang, Riyan mengemudikan mobilnya dengan keadaan yang sudah tidak memungkinkan. Reaksi obat yang di masukan oleh Arlan ke dalam jus buatannya tadi, sudah sangat menguasai Riyan. Sebenarnya Riyan sudah mulai merasakan hal itu saat masih berada di apartemen Arlan. Dan karena itu sehingga dia langsung memilih pulang, saat di hubungi salah seorang pembantunya.
Tapi di saat hampir setengah perjalanan menuju apartemennya. Tiba-tiba ada yang menabraknya dari arah belakang dengan sangat kencang. Hal itu membuat mobil Riyan dengan seketika jadi hilang kendali. Apalagi saat itu dia memang sudah tidak bisa berkonsentrasi, karena pengaruh obat yang tercampur di dalam jus buatan Arlan.
"Aaaaaaaa..." Suara teriakan Riyan dengan sangat kencang. Sebelum mobilnya terbentur sebuah tiang besar yang ada di samping jalan.
Di saat itu juga, Fara di rumah mendapat pertanda dengan terjatuhnya foto pengantin dia dan Riyan dari dinding. Dengan mata terbelalak, Fara yang sedang terbaring di atas ranjang, langsung berbalik menatap foto pernikahannya, yang sudah berserakan di lantai tanpa bisa bersuara saling kagetnya.
"Apa yang terjadi Non..?" Suara salah seorang pembantu, yang tiba-tiba masuk karena mendengar suara jatuhnya foto pengantin mereka.
"Ngga tahu Bi. Tiba-tiba foto pernikahan aku jatuh dari dinding." Jawab Fara sambil melangkah mendekat ke arah foto tersebut.
"Non,, ini pasti sebuah pertanda." Ujar Bibi yang berdiri tepat di samping Fara.
"Pertanda apa maksud Bibi..?" Tanya Fara dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Ngga tahu juga Non. Mungkin ada sesuatu yang terjadi."
__ADS_1
"Di mana Mas Riyan..? Apa dia sudah pulang Bi..?" Tanya Fara dengan tampang yang terlihat panik.
"Belum Non." Jawab pembantunya.
Tanpa berkata-kata, Fara langsung melangkah menuju tempat tidurnya dan meraih ponselnya, yang terletak di samping bantal. Dan di saat dia menelpon nomor suaminya, yang terdengar bukan suara Riyan. Malah suara seorang laki-laki yang sama sekali tidak dia kenali.
("Halo... Halo Mas.." Fara bersuara dengan segera, setelah telponnya tersambung.)
("Maaf Bu,, orang yang punya ponsel ini sedang mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak tiang di samping jalan." Jawab laki-laki yang menerima telepon dari Fara.)
("Apa... Lalu kamu siapa..? Bagaimana keadaan suamiku..?" Fara bertanya-tanya dengan nada suara yang keras juga bergetar.)
"Mas... Mas Riyan... Mas... Hiks...Hiks...Hiks..." Suara teriakan Fara yang di iringi suara tangisnya.
"Ada apa Non...? Apa yang terjadi sama Den Riyan..?" Tanya pembantunya yang ikut panik melihat keadaan Fara.
"Mas Riyan mengalami kecelakaan Bi.. Mobilnya menabrak tiang di samping jalan. Dan keadaannya parah Bi. Dia sekarang sudah di larikan ke RS. Hiks...Hiks...Hiks..." Penjelasan Fara dengan tangisan tiada henti.
__ADS_1
"Bi,, ayo kita ke RS..! Aku harus melihat keadaan Mas Riyan. Aku harus ada di sampingnya Bi.." Ujar Fara sambil menarik-narik tangan pembantunya.
"Ayo Non..! Ayo Bibi temani."
Dengan buru-buru, Fara dan pembantunya langsung berangkat menuju RS yang tadi sempat di beritahukan oleh laki-laki yang mengangkat telpon Riyan. Mereka di antar sama supir pribadi Riyan. Fara yang duduk di bagian belakang bersama pembantunya, terlihat sudah seperti orang gila mendengar kabar buruk yang menimpa suaminya.
Fara benar-benar terpukul dengan apa yang terjadi. Air mata yang menetes di pipinya semakin mengalir deras, dan di ikuti suara tangisan yang sangat menyedihkan. Melihat keadaan Fara, Bibi yang ada di sampingnya, segera memeluknya dan berusaha untuk menenangkannya. Walaupun dia tidak akan mungkin bisa tenang dalam keadaan seperti itu. Wanita manapun akan terlihat sama di saat mengalami apa yang di alami oleh Fara.
"Non,, cobalah untuk tenang! Lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Den Riyan. Non kan lagi sakit. Kalau menangis terus seperti ini, Non akan semakin lemas."
"Bi,, aku tidak mau terjadi apa-apa sama Mas Riyan. Aku ngga sanggup Bi. Hiks... Hiks... Hiks." Jawab Fara sambil terus menangis.
"Iya Non. Makanya kita harus berdoa. Minta pertolongan sama Tuhan. Karena hanya Tuhanlah yang dapat menentukan semua yang terjadi di dunia ini."
Mendengar apa yang di katakan oleh wanita dewasa yang sedang mendekapnya di dalam pelukan, Fara dengan perlahan mulai memejamkan mata, sambil meminta keselamatan kepada Riyan di dalam hatinya.
"Ya Tuhan,, jangan kau berikan aku cobaan yang tidak sanggup aku terima. Perpisahan dalam pernikahanku, adalah sesuatu yang sangat menakutkan bagiku. Jadi tolong jauhkan aku dan Mas Riyan dari perpisahan."
__ADS_1
Fara meminta dalam hatinya dengan berderai air mata. Namun dia sudah sedikit lebih tenang setelah berdoa meminta keselamatan Riyan, juga ikatan pernikahan mereka. Fara benar-benar takut kehilangan Riyan. Karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau hanya Riyan laki-laki pertama juga terakhir dalam hidupnya. Di tidak ingin ada yang kedua dalam kehidupannya. Apalagi di dalam hatinya.