
Sekujur tubuh Anton semakin bergetar dengan keringat yang mulai bercucuran di wajahnya, tanpa berani menatap Faris juga Riyan yang masih berdiri tepat di hadapannya. Dengan kepala tertunduk, Anton mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semua tentang Fara. Setelah menarik nafas dalam-dalam, Anton pun segera mengangkat mukanya dan mulai bersuara.
"Yan,, sebelumnya aku minta maaf atas apa yang sudah aku perbuat. Tapi percayalah Yan,, aku melakukan semua ini bukan tanpa alasan." Anton yang masih sangat ketakutan berusaha meminta maaf kepada Riyan.
"Aku tidak butuh banyak basa-basi darimu. Yang aku mau, kamu cepat mengatakan di mana Fara berada saat ini!" Ujar Riyan yang sudah sangat murka melihat Anton.
"Om,, aku memang terlibat dalam penculikan Fara. Tapi semua itu aku lakukan demi menyelamatkan nyawa satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini." Ujar Anton yang mulai bercucuran air mata.
Melihat tetesan air mata yang sudah membasahi wajah Anton, Reza yang sejak tadi hanya terdiam sambil menahan amarahnya, seketika tersentuh. Tapi tidak untuk Riyan yang sudah terlanjur kecewa dengan sahabatnya itu. Begitupun Faris yang tidak akan bisa di kendalikan saat amarahnya sudah menguasai diri. Dengan segera Faris pun langsung memasukan sebelah tangannya ke dalam jas yang dia kenakan. Melihat gerakan Faris, Anton yang semakin ketakutan kembali bersuara.
"Om,, aku terpaksa melakukan semua ini demi putraku yang sudah beberapa bulan di culik oleh orang yang menculik Fara." Ujar Anton yang membuat Faris langsung mematung.
"Jangan kamu harap bisa membodohi kami! Aku tahu kamu belum pernah menikah apalagi punya anak." Sambung Riyan dengan segera.
"Demi Tuhan Yan. Aku memang belum pernah menikah, tapi aku sudah memiliki seorang putra hasil dari kenakalanku. Ibunya meninggal di saat melahirkannya. Dan sampai hari itu, aku belum sempat menikahinya karena cita-cita yang sedang aku kejar selama ini." Jelas Anton.
Di saat Anton sedang berusaha menjelaskan semuanya kepada Riyan, Faris dan Reza, tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja tepat di sampingnya berdering. Bunyi ponsel itu semakin menegangkan Anton yang berada di dalam posisi terancam saat itu.
__ADS_1
"Jawab telponnya dan dekatkan pada dia! Biar kita tahu siapa yang menghubunginya." Seru Faris sambil melirik Anton.
("Anton.. Mengapa kamu tidak memberikan kabar tentang mereka sejak siang tadi? Jangan coba-coba kamu mengkhianati aku. Kalau kamu masih ingin melihat putramu." Ancam seorang laki-laki dari balik telpon.)
("Aku akan memberikan semua informasi kalau aku sudah mendapatkannya. Sekarang aku lagi kesulitan mencari tahu keberadaan mereka." Jawab Anton berbohong setelah menarik nafas dalam-dalam.)
("Besok aku akan berangkat membawa putramu juga wanita ini sejauh mungkin. Nanti kamu menyusul kalau kamu ingin melihat putramu." Ujar laki-laki di balik telpon, yang membuat Riyan hampir saja mengeluarkan suara.)
"Riyan,, kamu harus tahan emosi kamu! Kalau tidak, kita akan kesusahan mencari persembunyian orang itu. Karena dia berbeda dari beberapa orang jahat yang pernah Om hadapi. Dia terlalu misterius." Ujar Faris setelah meraih ponsel dari tangan Riyan, dan memutuskan sambungan telepon.
"Om,, dia akan membawa Fara.." Ujar Riyan dengan wajah memerah, juga mata yang mulai berkaca-kaca saking cemas bercampur emosi.
"Yan,, kita akan menemukan Fara. Jalan sudah mulai terbuka." Sambung Reza yang merasa kasihan melihat keadaan putranya.
"Di mana orang-orang itu berada?" Tanya Reza kepada Anton, yang hanya tertunduk di depan mereka.
"Om,, kalua aku tahu di mana mereka, sudah aku ke sana bersama polisi untuk mengambil putraku. Tapi dia sama sekali tidak mau memberitahukan tempat keberadaannya kepadaku." Jawab Anton.
__ADS_1
"Kita harus bergerak secepatnya sebelum terlambat." Ujar Faris.
"Om,, apa boleh aku ikut?" Tanya Anton dengan bercucuran air mata.
"Kamu memang harus pergi bersama kita. Karena kita juga belum bisa percaya dengan semua yang kamu katakan." Jawab Faris.
Selesai membuka ikatan Anton, Riyan langsung mengikat kembali kedua tangannya, dan melangkah mengikuti Faris dan Reza yang sudah duluan keluar dari ruangan itu.
Riyan dan rombongannya pergi mencari tempat penjahat yang menculik Fara tanpa ada petunjuk sebagai pengantar. Dalam keadaan seperti itu, Riyan tidak henti-hentinya berdoa di dalam hatinya, agar bisa menemukan Fara secepatnya. Air mata yang hampir tidak pernah menetes dari seorang Riyan, tiba-tiba membendung memenuhi kelopak matanya, saat bayangan jelita yang dia rindukan itu semakin menguasai pikirannya.
"Ya Tuhan,, di manapun istriku berada, tolong lindungi dia, juga janin yang ada di dalam kandungannya. Aku lebih memilih mati dari pada harus melihat dia tersiksa."
Dengan segenap hati, Riyan tidak henti-hentinya meminta perlindungan kepada Fara juga calon anak mereka.
Sedangkan Anton yang hanya terdiam dengan tangan terikat di samping Riyan, masih terus meneteskan air mata tanpa bisa berkata-kata.
Melihat keadaan Anton, Riyan langsung buru-buru menghapus air matanya dan membuang kembali pandangannya, ke arah jalan melewati kaca mobil yang terbuka. Di dalam benak Riyan dia begitu marah mengetahui pengkhianatan Anton sebagai seorang sahabat. Namun melihat kenyataan juga mendengar penjelasan Anton tadi, kemarahan juga kekecewaan Riyan sedikit demi sedikit berkurang dan mulai merasa kasihan dengan keadaan sahabatnya itu.
__ADS_1
Sedangkan Faris yang sejak tadi hanya fokus pada layar ponselnya, mulai resah karena belum juga menerima kabar dari beberapa orang suruhannya, yang dia tugaskan untuk melacak keberadaan putrinya. Sedangkan Reza yang semakin bingung dengan situasi yang sedang mereka hadapi, tidak henti-hentinya melirik Riyan putranya dari kaca spion yang ada di atas kepalanya. Sebagai sesama laki-laki, Reza tahu betul perasaan putranya saat itu.