Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 174. Kepolosan Yang Memalukan.


__ADS_3

Sampainya di depan sebuah rumah yang begitu asing bagi Fara, Riyan langsung keluar dari mobil setelah mobilnya terparkir. Dengan buru-buru Fara pun keluar menghampiri Riyan sambil bertanya.


"Mas... Mas ini rumah siapa?" Tanya Fara sambil menatap rumah sederhana di depannya.


"Ini rumah Hilda. Pacar teman aku yang sudah meninggal satu tahun yang lalu." Jawab Riyan sambil menarik tangan Fara melangkah menuju pintu rumah tersebut.


"Kita ke sini buat apa Mas? Teman kamu kan udah ngga ada." Fara yang belum tahu profesi Hilda kembali bertanya.


"Dia Itu Dr kandungan. Aku ingin dia memeriksa kandungan mu." Riyan menjawab dengan begitu santainya.


"Tok...tok...tok..."


"Siapa..?" Terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah.


"Tok...tok...tok..." Riyan terus mengetuk pintu tanpa bersuara.


"Eeeeh,, Riyan... Ternyata kamu..? Sudah lama banget kamu ngga datang ke tempatku." Wanita pemilik rumah itu terlihat begitu kaget bercampur bahagia, melihat kedatangan Riyan.


"Hil,, kenalkan ini istriku." Ujar Riyan memperkenalkan Fara yang hanya terdiam di sampingnya sejak tadi.


"Kamu sudah menikah? Ko aku ngga di kabarin sih Yan?" Tanya Hilda dengan tampang cemberutnya.


"Ngga ada yang sempat aku undang. Soalnya acara pernikahan aku di adakan di Indonesia." Jawab Riyan sambil tersenyum ramah.


"Ya sudah ngga apa-apa. Mending masuk dulu!" Riyan dan Fara pun langsung masuk mengikuti Hilda yang sudah duluan melangkah.


Sampainya di ruang tamu, Hilda kembali mempersilahkan Riyan juga Fara untuk duduk. Sedangkan dia segera berlalu menuju dapur.


"Mas,, dia tinggal sendirian di rumah ini?" Bisik Fara tepat di samping telinga Riyan.

__ADS_1


"Mana aku tahu? Dulu kalau ngga salah, dia tu tinggal bersama Om dan Tantenya." Jawab Riyan.


Di saat mereka berdua sedang mengobrol tentang Hilda, tiba-tiba Hilda muncul dengan membawa dua gelas minuman.


"Mending kalian minum dulu!" Ujar Hilda setelah meletakan minuman yang dia bawa ke atas meja.


"Istri kamu cantik banget Yan. Di mana kalian bertemu?" Hilda memuji kecantikan Fara yang hanya tersenyum menanggapinya.


"Dia ini adik sepupu aku. Kita berdua sudah di jodohkan sejak kecil. Karena itu memang tradisi dalam keluarga kita." Jelas Riyan yang membuat Hilda semakin melebarkan senyumnya menatap Fara.


"Terus kamu ada perlu apa datang ke sini Yan?" Tanya Hilda.


"Aku mau meminta kamu melihat kandungan dia. Aku ingin segera punya anak." Jawab Riyan tanpa ada pertimbangan.


"Sudah berapa lama kalian menikah? Kalau baru menikah, itu hal yang wajar apabila belum juga hamil. Mungkin waktu kalian yang jarang." Ujar Hilda mencoba menjelaskan.


"Jarang apanya Mba?" Tanya Fara yang sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraan Hilda.


Sebenarnya Riyan juga tidak begitu mengerti apa yang di bicaranya Hilda. Namun dia enggan untuk bertanya. Tapi setelah mendengar penjelasan Hilda, Riyan seketika serba salah dan memilih untuk memalingkan wajahnya, dari kedua wanita yang sedang duduk bersamanya.


"Perasaan ngga jarang-jarang banget ko Mba. Malah sering kita lakuin itu." Jawaban polos Fara yang membuat mata Riyan seketika terbuka lebar saking kagetnya.


"Oooo begitu? Berarti Mbanya mungkin mengkonsumsi pil KB?" Tanya Hilda sambil berusaha menahan tawa, karena melihat ekspresi Riyan yang menurutnya sangat lucu.


"Aku ngga konsumsi obat ko Mba." Jawab Fara sedikit gugup karena di tatap oleh Riyan dengan tatapan serius.


"Kalau selesai melakukan itu, apa mba langsung bangun?" Tanya Hilda.


"Iya Mba,, aku tu langsung membersihkan bagian bawahku di dalam kamar mandi. Soalnya aku tu ngga nyaman banget." Jawab Fara apa adanya.

__ADS_1


"Itulah kesalahannya. Kalau ingin punya anak, kita sebagai wanita jangan langsung bangun selesai berhubungan dengan suami. Kalau ngga semua cairannya kembali keluar. Terkecuali kita ngga menginginkan anak." Jelas Hilda yang membuat Fara langsung menatap Riyan tanpa bersuara.


Melihat sikap juga tatapan Riyan terhadap wanita cantik di depannya, Hilda yang sudah sangat kenal dengan laki-laki kaku itu sangat yakin, kalau Riyan memang sangat mencintai adik sepupunya yang telah menjadi istrinya itu.


"Nanti aku berikan vitamin biar kandungan kamu semakin subur. Tapi ngomong-ngomong kita belum sempat berkenalan. Nama saya Hilda." Ujar Hilda sambil menjulurkan tangannya ke arah Fara.


"Nama aku Fara Mba. Makasih untuk semua sarannya ya Mba." Sambut Fara dengan sangat sopan.


"Sama-sama cantik. Nanti kalau ada waktu, kalian bisa datang ke RS tempat aku bekerja. Biar aku lihat kandungan kamu." Ujar Hilda.


"Besok aku akan membawanya ke sana. Aku minta alamatnya." Sambung Riyan dengan segera.


Melihat semangat Riyan menanggapi perkataan Hilda, Fara langsung kaget dan menatap suaminya penuh keheranan. Karena Fara tahu bagaimana kesibukan suaminya besok hari. Sedangkan Hilda yang melihat reaksi Riyan, hanya tersenyum tanpa bisa berkata-kata.


"Mas,, besok kamu punya waktu? Jadwal kamu kan padat banget." Tanya Fara sambil menatap serius ke arah Riyan.


"Sesibuk dan sepadat apapun jadwalku, aku akan tetap mengutamakan hal ini." Jawab Riyan tanpa ragu.


"Kalau ngga aku pergi sendiri saja. Kan bisa di antar sama Pak supir." Fara yang tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya, memilih untuk pergi di antar supir pribadi mereka.


"Apa kamu yakin bisa pergi sendiri? Aku ngga mau sampai terjadi apa-apa." Tanya Riyan dengan segera dengan tampang serius.


Melihat ekspresi wajah suaminya yang sangat menghawatirkan dirinya, kecentilan Fara langsung keluar tanpa melihat situasi dan kondisi yang ada. Sambil tersenyum, Fara pun mulai memeluk lengan Riyan, kemudian mengeluarkan kata-kata yang berhasil membuat Riyan salah tingkah di depan Hilda.


"Astaga Mas,, aku tahu kamu sangat mencintaiku. Tapi jangan terlalu seperti itu! Kamu ngga usah khawatir. Aku akan selalu menjaga diriku demi kamu." Fara berkata-kata tanpa melepaskan pandangannya dari wajah tampan suaminya, yang seketika kaku tanpa ada ekspresi.


"Apa-apaan sih kamu? Kecentilan itu lihat-lihat tempat!" Ujar Riyan dan langsung memalingkan wajahnya.


Sedangkan Hilda yang melihat semua itu, hanya tersenyum tanpa bisa berkomentar. Apalagi saat melihat wajah Riyan yang seketika berubah merah, karena menahan malu atas sikap centil juga kepolosan istrinya.

__ADS_1


Fara yang masih begitu polos, selalu jujur dalam berbicara. Tapi dia sama sekali tidak menyadari kesalahan dari kepolosannya itu. Dia tidak pernah tahu betapa malunya Riyan, saat dia membicarakan hal-hal pribadi mereka dengan spontan seperti tadi. Tapi Riyan juga tidak pernah melarangnya, atau memaksanya untuk merubah semua kebiasaan buruknya itu.


__ADS_2