
Fara yang tidak terlalu mengambil pusing dengan perkataan suaminya, segera membersihkan bekas piring makan di atas meja dan membawanya ke tempat cucian piring. Dan di saat dia hendak mencucinya, Riyan yang sudah berada di belakangnya, langsung menggendongnya dan melangkah menuju pintu keluar. Fara yang begitu kaget dengan tindakan Riyan, melotot menatap wajah tampan suaminya itu sambil bertanya.
"Mas... Apa yang kamu lakukan? Aku tu mau membersihkan piring bekas makan kamu." Tanya Shelina yang sudah melingkarkan tangan di leher Riyan.
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Jawab Riyan dengan tatapan lurus ke depan.
"Memangnya apa yang kamu tunggu?" Tanya Fara berpura-pura bodoh karena ingin menggoda suaminya.
"Menunggu untuk di jatah. Sudah cukup aku menahan diri." Jawab Riyan.
Melihat raut wajah yang dia rindukan sejak beberapa hari ini, Fara tak kuasa untuk menolak keinginan yang sudah tidak bisa di tahan oleh suaminya. Dia sendiri sudah sangat mendambakan sentuhan hangat laki-laki yang sangat dia cintai itu. Sampainya di kamar Riyan yang sudah mulai menciumi Fara yang masih berada di dalam gendongannya, semakin berhasrat mengikuti gejolak batin yang begitu menuntut.
Di pagi buta yang selalu menciptakan suasana dingin, terasa panas oleh sepasang suami istri yang sudah terbakar hasrat masing-masing. Desahan yang terdengar begitu jelas di telinga Riyan. Dia semakin berpacu kencang, mendengar jeritan manja yang keluar dari mulut Fara. Keperkasaan Riyan selalu membuat Fara kalah dalam pertempuran. Namun dia tetap pasrah di dalam penjara dekapan Riyan.
Siulan burung yang terdengar indah menyambut fajar di ufuk timur, terlihat indah seperti suasana hati kedua sejoli yang masih berpelukan di balik selimut di atas ranjang. Tatapan mata Riyan juga kecupan yang mendarat di kening Fara, menunjukkan betapa besar cinta juga kasih sayangnya. Riyan terlihat semakin bersemangat dan ceria setelah keinginan batinnya telah terpenuhi.
Dengan senyum yang terukir di wajahnya, Riyan menggendong Fara menuju kamar mandi dengan keadaan tanpa sehelai benangpun. Di bawah guyuran air, Riyan membersihkan tubuh indah Fara dengan penuh kelembutan. Namun hal itu malah membuat Fara tiba-tiba merasa bingung karena tidak biasanya dia di perlakukan seperti itu.
"Mas,, aku bisa mandi sendiri." Ujar Fara yang merasa aneh dengan tingkah laku suaminya.
"Biar aku saja yang melakukannya." Jawab Riyan tanpa menatap Fara.
"Tapi kenapa kamu seperti ini? Kamu ko aneh banget Mas." Tanya Fara yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di lakukan suaminya.
"Apa kamu tidak suka kalau aku seperti ini? Lagian ini hal yang wajar untuk sepasang suami istri seperti kita." Tanya balik Riyan.
__ADS_1
"Bukannya begitu Mas. Aku senang banget di perlakukan seperti ini oleh kamu. Tapi ini kan tidak biasanya." Jawab Fara tanpa melepaskan tatapannya dari Riyan.
"Sudah sana pakai handuk dan segera bersiap-siap! Karena pagi ini kita harus bertemu seseorang." Seru Riyan dan langsung membelakangi Fara.
Fara yang sudah berada di luar, hanya berdiri di depan lemari seperti patung dengan tampang yang masih terlihat kebingungan. Fara yang tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti tadi dari suami kakunya itu, benar-benar tidak mengerti apa yang membuat Riyan seperti itu.
Sambil memilih pakaian yang akan dia kenakan, Fara pun mulai bertanya-tanya sendirian.
"Apa sebenarnya yang terjadi sama Mas Riyan? Sikapnya benar-benar aneh. Apa mungkin dia seperti ini karena memenangkan tender?"
"Mengapa kamu belum juga bersiap-siap? Kamu ngga mau pergi sama aku?" Suara Riyan yang membuat Fara seketika kaget.
"Astaga Mas... Kamu tu buat aku kaget saja.." Gerutu Fara sambil melangkah menuju tempat tidur dengan membawa pakaian yang akan dia kenakan.
Tepat pukul 8:30 Riyan dan Fara meninggalkan apartemen, menuju ke sebuah tempat yang Fara sendiri belum tahu keberadaannya. Fara yang duduk di samping Riyan, semakin kebingungan melihat suaminya yang begitu berubah. Riyan yang tidak suka mendengarkan musik di saat mengemudi, malah memutar sebuah lagu dengan volume kencang.
"Mas,, Mas,, Mas..." Teriak Fara kencang karena Riyan sama sekali tidak mendengarnya.
"Ada apa..?" Tanya Riyan tidak kalah kencang, karena pengaruh musik yang dia putar.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu Mas? Apa yang membuatmu bahagia dan bersemangat seperti ini?" Tanya Fara dengan tatapan mencari tahu.
"Nanti kamu juga akan tahu apa yang membuatku jadi seperti ini." Jawaban Riyan yang membuat Fara jadi kesal karena di buat semakin penasaran.
Tidak lama mobil Riyan pun masuk ke pekarangan RS besar yang ada di tengah-tengah kota. Dengan tampang kebingungan, Fara yang baru keluar dari dalam mobil, langsung menghampiri Riyan dan menanyakan maksud kedatangan mereka ke tempat itu.
__ADS_1
"Mas,, mengapa kita ke RS? Apa yang mau kita lakukan di sini?" Tanya Fara sambil melingkarkan tangannya di lengan Riyan.
"Jangan banyak bertanya! Ayo kita masuk biar kamu bisa tahu tujuan kita datang ke tempat ini." Jawab Riyan dan segera melangkah masuk ke dalam RS besar itu.
Riyan melangkah bersama Fara menuju sebuah ruang Dr. Fara yang belum tahu maksud kedatangan mereka, hanya menatap ke sana kemari dengan raut wajah yang masih tetap sama. Kebingungan Fara semakin bertambah saat berdiri di depan pintu sebuah ruangan khusus kandungan.
"Siang Pak Bos.." Ujar seorang laki-laki yang berada di dalam ruangan itu, dengan menggunakan bahasa Inggris, setelah Riyan dan Fara memasuki ruangannya.
"Hay Bro. Saya sudah tidak sabar ingin bertemu kamu." Jawab Riyan sambil menyalami tangan laki-laki di depannya.
"Saya juga berpikir seperti itu. Saya tahu kalau Pak Riyan sudah tidak sabar ingin mengetahui lebih jelas kabar baik itu." Ujar laki-laki itu.
"Ini istri saya Bro. Namanya Fara Permana." Riyan memperkenalkan Fara yang hanya terdiam di sampingnya kepada Dr itu.
"Hay Nona. Nama saya Viko. Saya sudah kenal baik dengan suami Nona sejak dia pertama datang ke Amerika." Viko memperkenalkan diri.
"Saya Fara. Senang berkenalan dengan anda." Balas Fara dengan begitu sopan.
Fara benar-benar bingung dengan situasi saat itu. Dia tidak tahu apa yang membuat suaminya bela-belain datang menemui Dr itu di balik kesibukannya yang begitu padat. Dan dia sangat yakin, ada hal penting yang ingin mereka bicarakan, bukan hanya sekedar basa-basi sebagai seorang teman.
"Maaf Pak Dok,, sebenarnya ini ada apa ya,,? Soalnya saya tidak di beritahu tujuan datang ke sini." Tanya Fara yang sudah tidak sabar ingin tahu tujuan Riyan membawanya menemui Dr Viko.
"Dengan senang hati akan saya jelaskan. Tapi lebih baik Nona Fara tanyakan langsung kepada Pak Riyan. Mungkin dia ingin menjadikan kabar baik ini sebagai kejutan." Jawab Dr Viko yang membuat Fara langsung berbalik menatap Riyan, yang juga sedang menatapnya dengan senyum menghiasi wajah kakunya.
#Sekali lagi jangan lupa mampir ke channel YouTube aku ya teman-teman. Aku janji akan aplod gila-gilaan kalau kalian sudah hadir di channel aku. Aku termasuk penulis yang beruntung di aplikasi Mangatoon. Karya pertama yang aku buat langsung membludak dengan pembaca yang tidak terhingga. Karya aku yang pertama langsung masuk deretan terpopuler tahun 2020. Sampai aku di tawarin cetak dari perusahaan lain melewati pesan di WA, namun aku masih terus menolaknya. Aku ingin membagikan pengalaman aku menjadi seorang penulis receh yang mendapatkan hasil luar biasa di Mangatoon. Dan itu akan aku bagikan di channel YouTube aku, kalau subscribe, like, juga komentar sudah bertambah banyak..
__ADS_1