
Di malam yang begitu larut, Riyan belum bisa juga untuk tidur. Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan Fara dan laki-laki itu selalu mengganggu pikirannya. Entah apa yang dia rasakan, namun pemikiran itu begitu meresahkan hatinya. Begitupun dengan Fara yang sudah terlanjur mencintai Riyan. Karena tidak bisa tertidur, akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman menghirup udara malam. Kekesalannya terhadap Riyan, membuatnya ingin mengakhiri pernikahan mereka, yang akan di langsungkan dua hari lagi. Tetapi hati kecilnya ngga rela harus kehilangan cinta pertamanya.
Riyan yang begitu terganggu dengan pemikirannya, memilih untuk keluar dari kamar. Dan di saat mau menuruni tangga, dia berpapasan dengan Fara yang sedang menaiki tangga. Fara yang melihat Riyan langsung membuang muka, dengan tampang yang terlihat marah sambil melangkah meninggalkan Riyan, yang sedang menatapnya dengan tatapan begitu dingin.
Fara melangkah menuju kamarnya dengan harapan Riyan si beruang kutub itu akan mengejarnya. Namun harapan Fara selalu menambah sakit di dalam hatinya. Jangankan untuk mengejar, menegur saja tidak Riyan lakukan. Dia malah menuruni tangga tanpa memperdulikan Fara yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya, dengan tatapan penuh kekesalan ke arah tangga.
Riyan terlihat santai menuruni tangga menuju dapur. Namun di dalam pikirannya masih terus memikirkan laki-laki yang tadi bersama Fara. Dia sendiri bingung dengan dirinya yang seketika di kuasai oleh bayangan laki-laki itu. Tanpa dia sadari, kekesalan mulai timbul di dalam hatinya, karena bayangan yang tidak kunjung menghilang dari ingatannya.
Eekspresi Riyan mulai terlihat aneh, di saat dia kembali teringat dengan kata-kata yang di ucapkan oleh laki-laki itu, kalau dia adalah orang yang selalu ada di saat Fara butuh. Sambil menuangkan air ke dalam gelas, Riyan pun mulai bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Siapa sebenarnya laki-laki itu? Sampai dia selalu ada di saat Fara butuhkan. Apakah dia kekasih Fara? Bukannya kata Fara, dia belum pernah pacaran."
__ADS_1
Riyan mulai kacau dengan perasaannya sendiri. Kekesalan yang begitu terlihat dari raut wajahnya, sangat menunjukan ada rasa yang berbeda di dalam hatinya. Tapi keegoisan yang begitu besar, membuat laki-laki dingin itu sama sekali tidak menyadari apa yang sedang dia rasakan. Selesai meminum air yang dia tuangkan, Riyan langsung menarik nafas panjang sambil berkata-kata sendirian.
"Hmmm... Dasar wanita pembohong!" Ujar Riyan yang masih berada di depan meja makan, tanpa menyadari keberadaan Fara di belakangnya.
"Siapa wanita yang kamu bilang pembohong..?" Tanya Fara dengan nada yang lumayan tinggi.
"Kamu yang pembohong." Jawab Riyan dan segera melangkah keluar dari dapur.
"Apa-apaan kamu? Minggir..! Aku mau masuk." Riyan berkata sambil mendorong Fara untuk bergeser dari pintu kamarnya.
"Aku ngga mau. Karena aku butuh penjelasan darimu." Ujar Fara tanpa bergeser dari depan pintu kamar Riyan yang masih tertutup.
__ADS_1
"Penjelasan apa yang kamu inginkan?" Tanya Riyan dengan tatapan yang sangat tajam ke arah Fara.
"Penjelasan tentang perkataan mu tadi kalau aku ini wanita pembohong." Jawab Fara.
"Itu bukan hal yang penting buat aku. Awas sana! Aku mau masuk." Ujar Riyan sambil memalingkan pandangannya, karena dia sudah mulai kesal dengan tingkah Fara yang keras kepala.
"Pokoknya aku ngga akan pergi sampai kamu mau menjelaskannya." Tegas Fara yang membuat Riyan semakin kesal.
"Jadi kamu ngga mau pergi? Ya sudah kalau gitu. Tapi jangan kamu salahkan aku apabila aku berbuat nekad." Ujar Riyan dengan tatapan yang sangat tajam tepat di kedua bola mata indah milik Fara.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan padaku di rumahku sendiri?" Tanya Fara dengan tatapan yang terlihat mengejek.
__ADS_1
Tanpa berkata-kata, Riyan langsung menutup mulut Fara dan mendorongnya masuk ke dalam kamar yang dia tempati. Fara yang terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Riyan, segera berusaha untuk melawan, tapi tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Riyan yang begitu kuat.