
Burung kutilang di halaman belakang rumah yang terdapat pepohonan, mulai bersiul menandakan pagi telah datang. Semua orang terlihat begitu sibuk mempersiapkan tempat berlangsungnya pernikahan, yang akan diadakan di halaman rumah mewah itu. Sementara Nadira calon sang mempelai wanita masih saja terlelap di balik selimut. Malam yang dilewatinya begitu damai, setelah mengkonsumsi obat tidur yang diberikan Ibunya semalam.
Semalam sebelum meninggalkan kamar Nadira, Fara sempat memberikan obat tidur kepada Putri kesayangannya itu, biar dia bisa beristirahat. Karena sudah dua minggu berlalu, Nadira yang benar-benar terguncang dengan masalah yang menimpanya tidak bisa untuk tertidur di malam hari. Fara ingin anaknya terlihat segar dan cantik saat mengenakan pakaian pengantinnya.
Semua anggota keluarga Ryan dan Fara sangat bersukacita menanti datangnya hari itu. Hari di mana Nadira wanita cantik bertubuh seksi, yang baru saja dikhianati oleh kekasih juga sahabatnya menjadi Ratu sehari. Tapi tidak untuk Nadira yang belum tahu seperti apa sosok pria yang akan menjadi pendamping hidupnya di hari-hari kemudian. Dia malah hanya terdiam di balik selimut, setelah terbangun karena mendengar suara orang-orang di halaman juga di dalam rumah.
Pernikahan dadakan itu dirancang semeriah mungkin dengan bantuan beberapa pihak. Rian dan Fara ingin membuat pesta pernikahan mega pada Putri satu-satunya mereka. Apalagi pernikahan itu juga ingin mereka perlihatkan pada semua orang, setelah beredarnya rumor tentang batalnya perjodohan Nadira dan Rangga.
Halaman rumah kediaman Rian dan Fara sudah disulap bagaikan sebuah taman kerajaan, oleh beberapa orang yang bertugas di bagian dekorasi. Pengeluaran untuk anggaran pernikahan Nadira bukanlah jumlah yang sedikit. Namun itu bukanlah satu masalah besar untuk Rian dan Fara. Karena Daniel sebagai orang tua sang mempelai pria siap menanggung semuanya.
Setelah mengecek semua persiapan bersama beberapa anggota keluarga yang lain, Rian dan Fara langsung melangkah menuju kamar Putri mereka yang berada di lantai atas. Mereka ingin menghabiskan waktu sesaat dengan Nadira sebelum melepaskannya kepada orang lain. Sebenarnya Rian dan Fara pun belum siap hidup terpisah dengan Nadira, sosok periang yang selalu membawa kedamaian, kadang kericuhan karena sering bertengkar dengan Adiknya Fais.
"Sayang.. Apa kamu sudah bangun?? Ibu dan Ayah mau bicara." Fara bersuara setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Nadira.
"Sudah Bu.." Jawab Nadira yang langsung duduk diatas tempat tidur, sembari melepaskan selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya.
"Nak,, kamu kenapa belum mandi? Sebentar lagi perias akan datang untuk mendandani kamu." Tanya Fara sambil mengusap-usap kepala Putrinya.
"Bu,, apa Ibu yakin akan menikahkan ku? Aku Putri Ibu satu-satunya. Siapa lagi yang akan menemani Ibu saat Ayah tidak berada di rumah?" Pertanyaan Nadira yang membuat dada Fara seketika teras sesak. Namun dia tetap berusaha menguatkan hatinya, karena tidak ingin membuat Nadira semakin sedih menghadapi pernikahan mendadak itu.
"Ibu akan bahagia bila kamu mau dinikahi Arsen. Semua orang tua apalagi seorang Ibu, akan merasa kesepian saat anak-anaknya pergi meninggalkan rumah. Tapi setiap orang tua akan merasa tenang, saat melepaskan anak gadisnya pada pria yang tepat. Ibu dan Ayah juga Fais akan sering-sering mengunjungi kamu di Jerman. Jarak tidak menjadi penghalang untuk kita." Jawab Fara berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Iya Nak. Ayah janji akan berangkat ke Jerman bersama Ibu dan Adikmu kapanpun kamu minta. Percayalah,, kalau pernikahan ini adalah yang terbaik untuk kita semua." Sambung Rian dengan tatapan penuh kasih.
"Iya Ayah,, aku akan menjalani pernikahan ini demi Ayah, Ibu, dan keluarga besar. Aku sendiri tak tahu seperti apa nanti saat aku hidup jauh dari kalian. Tapi aku percaya kalau kebahagiaan seorang anak tergantung ridho kedua orang tuanya." Ujar Nadira yang langsung disambut pelukan hangat Ibunya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama air mata pun langsung menetes membasahi wajah Fara. Tetapi Rian yang menyadari akan hal itu, segera memberi isyarat untuk Fara tetap tegar demi Nadira. Dan Fara pun menghapus air matanya sebelum melepaskan pelukannya.
"Kamu langsung mandi ya! Ibu dan Ayah mau ke Bandara menjemput kedatangan Arsen dan Om Daniel. Sebentar lagi mereka sudah tiba. Nanti Oma dan Tante Almira yang menemani kamu saat di rias." Ucap Fara sembari mengecup kening Putrinya.
"Iya Bu." Jawab Nadira dan langsung beranjak menuju kamar mandi, sambil berusaha menahan kesedihannya.
Tanpa diketahui kedua orang tuanya, ternyata Nadira mengetahui kesedihan Ibunya karena setetes air mata Ibunya, jatuh mengenai pundaknya saat berpelukan tadi. Hatinya benar-benar hancur di kala itu. Namun dia pun tetap berusaha kuat demi membahagiakan kedua orang tuanya. Di balik sikapnya yang kekanak-kanakan, Nadira adalah anak yang sangat patut dan berbakti pada kedua orang tuanya.
"Sayang,, kamu harus bisa melepaskan Nadira. Aku tahu ini bukan hal yang muda. Tapi bukan kita saja yang mengalami hal ini. Seperti Ibumu saat melepaskanmu padaku setelah kita menikah dulu. Dia pun merasakan apa yang kamu rasakan." Rian berkata-kata mencoba meyakinkan Istrinya setelah mereka meninggalkan kamar Nadira.
"Iya Mas. Aku hanya kasihan sama Putri kita. Karena dia belum bisa melakukan kewajiban seorang wanita. Seperti memasak, mencuci piring, bahkan untuk mengurus diri pun dia belum bisa sendiri tanpa bantuan ku." Tutur Fara dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Kamu nggak perlu khawatir. Nadira itu terlahir dari seorang wanita luar biasa yang dulunya juga tidak bisa melakukan apapun sendiri. Aku yakin, seiring berjalannya waktu dia bisa melakukan semuanya seperti kamu." Rian berujar sambil tersenyum menatap Istrinya yang selalu terlihat cantik.
Setelah berada di lantai bawah, Rian dan Fara segera menghampiri anggota keluarga mereka, yang sedang berkumpul di ruang tamu. Dan tiba-tiba ponsel Rian pun berdering tanda ada panggilan masuk. Rupanya itu telepon dari Daniel orang yang sedang mereka tunggu. Tanpa berlama-lama Rian segera menjawab panggilan telepon Daniel.
("Iya Pak Rian. Kita baru saja tiba.") Jawab Daniel dengan nada suara yang terdengar sangat bersemangat.
("Aku, Istriku juga Om aku langsung kesana sekarang.") Ujar Rian yang tidak kalah bersemangat.
("Om siapa? Apakah Om Anda yang datang dari Malaysia?") Tanya Daniel yang belum terlalu mengetahui seluk-beluk keluarga calon besannya.
("Om sekaligus Ayah mertuaku, Pak Faris Permana. Dia adalah saudara sepupu Ibuku. Aku dan Istriku kebetulan punya hubungan saudara.") Jelas Rian yang membuat Daniel semakin kagum dengan keluarga mereka.
("Luar biasa. Keluarga Anda sangat bersatu dalam segala hal. Bahkan dalam hubungan pernikahan. Kalian memang sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Aku semakin yakin untuk mempersatukan Putra Putri kita.") Ucap Daniel yang membuat Rian dan anggota keluarganya yang turut mendengar semakin bahagia.
__ADS_1
Selesai berbicara dengan Daniel, Rian langsung berpamitan pada keluarganya, dan pergi bersama Fara juga Ayah mertuanya menuju Bandara. Hanya setengah jam perjalanan mereka pun tiba di Bandara. Setelah keluar dari mobil Fara dan Rian langsung tersenyum, saat melihat Arsen sedang berdiri bersama Daniel yang berada di kursi roda, dengan pengawalan beberapa orang pria berpakaian serba hitam. Sementara Faris Om sekaligus Ayah mertuanya hanya menunggu di dalam mobil.
"Arsen.." Panggil Rian sembari memeluk tubuh kekar pria tampan berwajah tegas di hadapannya.
"Aku bahagia bisa bertemu Om dan Tante lagi." Ujar Arsen dalam pelukan Rian.
"Kamu sudah dewasa. Ternyata kamu lebih gagah dilihat secara langsung dari pada yang ada di foto." Puji Fara saat dipeluk Arsen.
Pertemuan Arsen dengan kedua orang yang begitu berjasa dalam hidupnya terlihat sangat indah. Apalagi Rian dan Fara yang merasa tertolong dengan kehadiran Arsen, memperlakukan mereka dengan sangat istimewa. Begitu pula dengan Arsen yang sudah sekian lama merindukan mereka. Dia yang hampir tidak pernah tersenyum, tidak henti-hentinya mengembangkan senyum di wajahnya. Namun tidak berapa lama, dia berubah tegang saat mendengar perkataan Rian.
"Arsen,, Om dan Tante sangat berterimakasih, karena kamu sudah mau datang untuk menikahi Putri Om. Kalau sampai kamu tidak datang, Om dan Tante tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi masalah ini." Kata-kata Rian yang membuat Arsen terpaku dengan tampang kaget bercampur bingung.
Arsen sudah tak tahu harus berkata apa mendengar ucapan Rian barusan. Tanpa berkata-kata dia langsung mengotak-atik layar ponselnya seperti sedang mengetik sesuatu. Apa yang dilakukannya sama sekali tidak diperhatikan oleh Rian dan Fara, yang sudah fokus berbicara dengan Pamannya. Daniel sepertinya sengaja memancing perhatian sepasang suami-istri itu saat melihat ekspresi keponakannya.
"Paman,, apa maksud ucapan Om Rian barusan?" Isi pesan yang baru saja dikirim Arsen pada Pamannya.
"Pak Rian,, kalian tunggu sebentar di sini ya! Aku mau minta Arsen temani aku ke toilet." Ucap Daniel yang langsung di iyakan oleh Rian dan Fara.
Arsen yang ingin mengetahui semuanya langsung mendorong kursi roda pamannya menuju arah toilet di Bandara. Belum sampai ke toilet, Daniel sudah membelokkan kursi rodanya menghadap Arsen, dan mulai menjelaskan semuanya sebelum Arsen sempat bertanya. Dan setelah beberapa menit mereka berbicara, Arsen kembali mendorong kursi roda Pamannya menghampiri kedua calon mertuanya tanpa berucap satu katapun.
"Arsen,, Om dan Tante sudah membawa pakaian pengantin untukmu. Pernikahan kalian akan dilaksanakan pukul sembilan pagi ini. Jadi kamu harus bersiap-siap dulu sebelum datang ke rumah Om. Sekali lagi terimakasih karena kamu sudah bersedia menikahi Putri Om." Ujar Rian dan Arsen hanya mengangguk tanpa suara, dengan senyuman yang terlihat sangat dipaksakan.
"Pak Rian,, aku dan Arsen mau singgah sebentar di apartemen yang sudah disiapkan orang suruhan ku. Arsen harus bersiap-siap di sana. Jadi ada baiknya kalau Pak Rian dan Ibu Fara duluan pulang. Nanti kita segera menyusul setelah Arsen selesai bersiap-siap." Ujar Daniel.
"Baiklah Pak. Memang lebih baik kita pulang duluan, biar bisa menyambut kedatangan Tuan dan Arsen di rumah." Jawab Rian penuh semangat.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun langsung berpisah di depan Bandara. Arsen dan Pamannya berangkat menuju apartemen yang sudah di persiapkan, untuk tempat tinggal mereka selama berada di Indonesia. Sementara Rian sudah melajukan mobil menuju rumahnya, bersama Fara juga Ayah mertuanya.