
Kesempurnaan cinta Riyan dan Fara semakin terlihat jelas, setelah kecelakaan yang hampir saja membahayakan keselamatan Riyan. Rasa takut akan kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya, benar-benar terasa oleh Fara saat melihat keadaan Riyan, yang di penuhi lumuran darah di sekujur tubuhnya malam itu. Dia merasa seperti akan runtuh langit di atas sana dalam waktu sekejap. Hanya air mata dan doa yang bisa di panjatkan Fara, karena takut akan keselamatan suaminya. Tapi pagi itu dia terlihat begitu bahagia, dari pancaran senyum manis di wajahnya.
"Fara,, hari ini Ibu lihat kamu terlihat begitu bahagia. Apa ada kabar baik yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Melda di saat Fara memasuki dapur.
"Sayang,, apa kamu mau menyampaikan sesuatu?" Sambung Aleta dengan segera.
"Maksud Mama sama Ibu apa?" Tanya Fara dengan tampang kebingungan.
"Tadi kalau Ibu ngga salah, kamu senyum-senyum sendiri kan?" Tanya Melda yang membuat Fara langsung salah tingkah.
"Siapa yang senyum-senyum sendiri Bu?" Suara Riyan dari depan pintu dapur.
"Istri kamu,, dia terlihat begitu ceria hari ini. Jadi Ibu sama Mama Aleta berpikir, ada kabar bahagia yang ingin dia sampaikan." Jawab Melda sambil tersenyum menatap Riyan.
"Memangnya kabar bahagia apa sih?" Tanya Riyan sambil melangkah menuju meja makan.
"Ngga tahu. Mungkin saja kabar bahagia kalau sebentar lagi Ibu punya cucu." Jawab Melda yang membuat Fara langsung terdiam, tanpa ekspresi di depan Riyan.
"Fara,, apa benar kamu hamil sayang..?" Tanya Aleta penuh semangat.
"Hamil apaan Ma? Dia saja baru selesai datang bulan." Sambung Riyan yang membuat kedua Ibu yang ada di hadapan mereka, seketika saling menatap dengan tatapan kecewa.
"Sebenarnya apa saja yang kalian lakukan selama ini..? Pernikahan kalian kan sudah beberapa bulan berjalan, ko belum hamil juga?" Tanya Melda dengan tampang datarnya.
"Fara.. Apa kamu mengkonsumsi pil KB..?" Tanya Aleta dengan tatapan mencari tahu.
"Ti,, tidak pernah Ma." Jawab Fara sedikit gugup, yang membuat Riyan langsung menatapnya tajam.
"Baguslah kalau ngga pernah. Wanita muda seperti kamu, tidak boleh mengkonsumsi pil KB. Karena itu bisa menyulitkan kamu untuk punya anak." Ujar Aleta.
Kata-kata Aleta seketika membuat Fara jadi terdiam dengan ekspresi wajah yang terlihat aneh. Dan tanpa dia sadari, Riyan sedang memperhatikannya dengan ekspresi mencurigakan. Riyan yang sudah sangat mengenali sifat Fara, sedikit merasa curiga dengan gelagat istrinya saat di lontarkan pertanyaan dari Mama Aleta. Namun dia tidak ingin mempertanyakan semuanya di depan Mama mertua juga Ibunya. Karena itu akan menjadi sebuah masalah buat Fara, yang sudah mematung dengan ekspresi seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Tanpa berujar satu katapun, Riyan langsung melangkah pergi setelah meminum segelas susu. Namun belum sempat dia menghampiri pintu keluar, Melda yang selalu memperhatikan semua yang di lakukan putra semata wayangnya, segera bersuara.
"Yan,, kamu ngga makan?" Tanya Melda sambil menatap punggung Riyan.
"Nanti saja di kamar Ma. Aku mau berbaring sebentar. Kepala aku terasa sedikit pusing." Jawab Riyan tanpa berbalik menatap Ibunya.
"Nanti aku bawa saja sarapan kamu ke kamar ya Mas?" Sambung Fara dengan segera.
"Hmmmm." Jawab Riyan.
Tanpa menyadari sikap suaminya, Fara pun langsung bergegas mempersiapkan sarapan untuk dia bawa ke kamar tidur mereka. Beban pikiran atas perkataan Mamanya, telah membuatnya sama sekali tidak menyadari ekspresi, juga sikap suaminya yang tiba-tiba berubah. Selesai menyiapkan sarapan, Fara segera melangkah keluar dari dapur dengan tampang yang terlihat terbebani.
"Sayang,, kamu kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Faris yang berpapasan dengan Fara, di saat dia hendak melangkah ke dapur bersama Reza.
"Aku,, aku ngga apa-apa ko Pa." Jawab Fara sambil tersenyum salah tingkah.
"Jangan bengong kalau mau menaiki tangga! Kalau kamu jatuh gimana?" Sambung Reza Om, sekaligus Ayah mertuanya.
"Iya Yah." Jawab Fara.
"Mas.. Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Fara dan buru-buru menghampiri Riyan.
"Ngga apa-apa. Aku hanya lagi memikirkan masalah pekerjaan." Jawab Riyan sambil berdiri dan melangkah menuju balkon kamar.
"Mas,, kamu tu belum pulih. Jadi sebaiknya kamu beristirahat dulu! Jangan terlalu memikirkan urusan apapun!" Ujar Fara sambil mendekati Riyan yang sedang membelakanginya.
"Aku tidak bisa terlalu lama beristirahat. Lagian aku sudah rasa lebih baik. Tapi aku akan beraktivitas setelah orang tua kita kembali ke Indonesia dan Malaysia." Jawab Riyan tanpa berbalik menatap Fara.
Sikap Riyan yang tiba-tiba berubah tidak di curigai sama Fara sedikitpun. Kepolosannya selalu membuat dia percaya dengan semua yang dia dengar. Apalagi dengan kondisi Riyan yang masih terlihat lemah, membuat Fara tidak ingin banyak bertanya.
__ADS_1
"Mas,, setelah ini kamu makan ya,,! Aku mau menemani Mama dan Ibu berbelanja untuk oleh-oleh mereka pulang besok." Ujar Fara.
"Hmmmm." Jawab Riyan singkat.
Setelah kepergian Fara dengan Aleta juga Melda, Riyan yang sudah selesai sarapan langsung memilih untuk menghubungi asistennya. Dia ingin menanyakan apa saja pekerjaan yang harus dia tangani selama dia tidak masuk kerja.
("Halo Sem,, kamu di kantor?" Tanya Riyan setelah telponnya tersambung.)
("Iya Pak. Ada apa Pak?" Tanya Semi.)
("Apa ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan?" Tanya Riyan.)
("Ada Pak. Dan ada satu informasi yang ingin akau sampaikan." Jawab Semi.)
("Apa itu?" Tanya Riyan.)
("Aku sudah mendapatkan kariyawan di bagian keuangan yang seperti Bapak mau. Dia sangat ahli di bidang itu." Ujar Semi.)
("Ya sudah kalau gitu. Mungkin besok baru aku bisa ke kantor." Ujar Riyan dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)
Fara yang sedang menemani kedua Ibunya di sebuah pusat perbelanjaan di Amerika, terlihat begitu bersemangat memilih apa yang di cari Aleta juga Melda, untuk di jadikan oleh-oleh. Dan tidak sengaja, tiba-tiba dia menabrak seorang wanita yang sedang berjalan bersama seorang laki-laki berpakaian serba hitam.
"Aaaw..." Suara teriakan wanita yang di tabrak sama Fara.
"Maaf ya.. Saya ngga sengaja." Ujar Fara sambil menyentuh punggung wanita itu. Dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Apa-apaan sih..? Kalau jalan tu pakai mata." Ketus wanita itu sambil menepis tangan Fara dengan sangat kasar.
"Heeee... Mau kamu apa..? Siapa kamu sampai tidak mau menerima permintaan maaf Putri saya..?" Sambung Melda yang langsung kesal, karena sikap tidak sopan wanita yang ada tepat di hadapan Fara.
"Sudah Bu! Memang aku yang salah." Ujar Fara berusaha menenangkan Melda.
__ADS_1
"Ayo kita pergi..! Buat apa juga kamu harus minta maaf sama orang seperti itu?" Ketus Melda sambil menarik tangan Fara juga Aleta, yang hanya tersenyum melihat tingkah Melda.
Itulah sifat asli yang di miliki Melda. Dia tidak pernah bisa diam melihat orang-orang yang sangat dia sayangi di sakiti atau di kasari orang lain. Dan karena sudah mengenali sifat saudara iparnya, sehingga Aleta hanya tenang sambil menatap Melda yang sudah bereaksi dengan apa yang baru saja terjadi.