
Selesai rapat Riyan langsung berjabat tangan dengan para klien bisnisnya termasuk Amora. Begitupun dengan Fara selaku istri juga penanggung jawab rapat hari itu. Saat berhadapan dengan Amora, Fara segera menjulurkan tangan sambil berujar.
"Apa kita bisa berkenalan? Sekali lagi nama saya Fara Permana." Ujar Fara dengan begitu percaya diri.
"Saya Amora." Ujar Amora dengan tatapan yang menunjukkan rasa tidak sukanya.
"Saya yakin, Suami juga anak-anak anda sangat bangga memiliki istri juga Ibu seorang wanita karir." Pujian Fara dengan senyum manis terukir di wajah cantiknya.
"Pastinya. Sebab Suami saya hanya seorang mandor di perusahaan tempat saya bekerja." Amora membanggakan diri.
"Luar biasa. Tidak semua wanita bisa seperti anda." Fara tidak henti-hentinya memuji wanita di hadapannya.
"Tapi saya tidak suka menjadi wanita bebas saat sudah berumah tangga. Walaupun itu dalam hal pekerjaan. Karena kata Oma saya, wanita itu tempatnya di rumah. Sebab di luar rumah itu ada banyak sekali godaan." Tutur Fara yang membuat Amora langsung mematung tanpa ekspresi.
"Saya setuju Bu Fara. Saya suka dengan wanita yang memiliki prinsip seperti anda dan Oma anda. Bagaimana menurut anda Pak Riyan?" Sambung salah seorang klien bisnis Riyan yang berasal dari Italia.
"Saya dan Istri saya ini berasal dari satu keluarga. Kita berdua saudara sepupu. Jadi kita memang memegang prinsip itu." Jawab Riyan sambil merangkul pinggul Fara.
"Oh,, berarti anda dan Ibu Fara ini saudara sepupu?" Tanya klien bisnis Riyan yang lainnya.
"Iya. Walaupun tidak menjadi Suami Istri, kita tetap punya hubungan saudara. Ibu saya adalah Adik sepupu dari Papa mertua saya." Jelas Riyan yang membuat beberapa orang di sampingnya tersenyum lebar.
"Terus bagaimana sampai kalian berdua bisa menikah?"
__ADS_1
"Kita di jodohkan sejak masih kecil. Dalam keluarga Permana, perjodohan sudah di jadikan sebuah tradisi. Semua anggota keluarga Permana menikah karena di jodohkan." Jelas Riyan.
"Tapi bagaimana kalian bisa melewati semua itu? Sebab saya lihat kalian bahagia walaupun menikah atas dasar perjodohan."
"Cinta tidak dapat menjamin sebuah kebahagiaan. Tapi kasih sayang sudah pasti membuat kedua orang akan saling menjaga. Dan cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu." Jawab Riyan dengan kata-kata yang terdengar sangat bijak.
"Apalagi wanita dalam keluarga Permana, selalu menjunjung tinggi harga diri. Jadi tidak ada alasan seorang pria untuk tidak mencintai mereka." Tambah Riyan.
Sikap Riyan yang sejak tadi terlihat dingin, seketika berubah dengan keberadaan Istrinya. Dia terlihat begitu mengagumi wanita cantik di sampingnya. Melihat semua itu, Amora yang masih terdiam di hadapan Fara dan Riyan semakin mematung menahan malu. Dia begitu tersindir dengan ucapan juga sikap sepasang Suami Istri di hadapannya itu.
"Ya sudah,, kalau begitu sampai berjumpa lagi. Saya mau ke ruangan kerja membawa Istri saya untuk beristirahat sebentar. Soalnya dia kan lagi mengandung. Jadi tidak bisa terlalu kecapean." Ujar Riyan dan langsung melangkah pergi bersama Fara.
Sebagai seorang wanita, Fara benar-benar bahagia mendapat pujian dari Suaminya. Apalagi Riyan bukanlah tipe pria yang romantis.
"Mas,, hari ini aku benar-benar bahagia." Ujar Fara setelah berada di dalam ruang kerja Riyan.
"Baguslah kalau kamu bahagia. Aku ingin kamu selalu bahagia setiap harinya."
"Tapi kamu tahu nggak alasan aku sangat bahagia hari ini?" Tanya Fara sambil menatap wajah tampan Riyan.
"Karena berhasil melakukan semuanya." Jawab Riyan singkat.
"Semuanya itu apa saja?" Tanya Fara yang merasa tidak puas dengan jawaban Suaminya.
__ADS_1
"Kamu berhasil menggantikan sekretaris aku dalam rapat, juga berhasil mempermalukan Amora di depan banyak orang." Jawab Riyan.
"Satu lagi Mas.. Kamu tahu nggak sih?"
"Iya,, aku tahu. Kamu senang karena aku memujimu." Jawab Riyan.
"Aku cinta kamu Mas. Kamu harus janji untuk selalu menjadi Suami yang terbaik untuk aku. Setiap ada orang yang mau mendekati kamu, harus kasih tahu aku seperti tadi." Ujar Fara dan langsung mengecup bibir Riyan serentak.
Apa yang di lakukan Fara seketika memancing reaksi Riyan. Dengan segera Riyan yang seketika menegang langsung melancarkan serangannya, tanpa ada celah untuk mengambil nafas. Dalam sekejap situasi pun semakin memanas, saat Fara juga ikut mengimbangi permainan gila Suaminya.
"Mas,, ini di kantor. Kamu jangan gila." Ujar Fara di samping telinga Riyan, saat sebelah tangan Riyan sudah menyusup ke sasaran inti.
"Aku tahu." Jawab Riyan sambil bergegas duduk di kursi kerjanya.
Tampang Riyan yang sudah sangat menegang tiba-tiba terlihat lesu, karena apa yang dia inginkan tidak terpenuhi mengingat situasi yang tidak memungkinkan. Sedangkan Fara yang sedang berdiri di sampingnya, tiba-tiba terlihat aneh saat melirik ke arah pintu.
'Siapa yang mengintip? Itu kan warna baju Amora.' Batin Fara.
"Mas,, coba kamu lihat dadaku. Tidak seperti punya wanita pada umumnya." Ujar Fara yang sudah mengeluarkan sebelah gunung kembarnya.
'Kamu akan lihat apa yang ingin kamu lihat' Batin Fara sambil tersenyum sinis.
Melihat benda kenyal yang sudah terpampang nyata di hadapannya, naluri Riyan seketika meronta ingin mendapatkan sesuatu yang lebih. Tanpa berpikir dua kali, Riyan segera menempelkan wajahnya dan mulai bereaksi seperti seorang bayi yang lagi kehausan.
__ADS_1