
Mentari telah menghilang di ufuk barat, berganti hari senjata yang begitu kelabu bagaikan suasana hati seorang wanita, karena dikhianati oleh kekasih juga sahabatnya sendiri. Wanita itu tidak lain adalah Nadira Putri Rian dan Fara. Putusnya tali perjodohan Nadira dan seorang laki-laki bernama Rangga, benar-benar mencoreng nama baik keluarga Nadira.
Nadira Putri Rian..
Semua orang di luar sana mulai bergunjing tentang Nadira, yang akhirnya batal dinikahi oleh Rangga setelah sekian lama menjalani perjodohan atas keinginan orang tua mereka. Sebagai korban pengkhianatan, Nadira sangat terluka dibicarakan banyak orang.
Sejak kecil Nadira ternyata sudah dijodohkan dengan Rangga Putra dari salah seorang sahabat Ibunya yang bernama Manda. Perjodohan itu berjalan begitu mulus karena Nadira dan Rangga pun saling mencintai. Namun seiring berjalannya waktu, tanpa sepengetahuan Nadira ternyata Rangga punya kekasih lain, dan wanita itu adalah salah satu sahabat baik Nadira.
Nadira sungguh tak menyangka Rangga yang selama ini dikenalnya sangat baik adalah seorang bajingan. Begitupun dengan sahabatnya yang bernama Tari, dengan begitu tega mengkhianati persahabatan mereka hanya karena seorang lelaki. Kedua orang tua Rangga yang menginginkan Nadira untuk menjadi pendamping hidup Putra mereka, berusaha untuk memperbaiki semuanya. Tetapi semua sudah terlanjur. Tari sahabat Nadira telah mengandung anak dari Rangga.
Tanpa berpikir panjang, Rian dan Fara langsung memutuskan perjodohan yang mereka sepakati beberapa tahun lalu, setelah mengetahui kalau Rangga calon Suami Putri mereka, sudah menghamili seorang wanita yaitu Tari sahabat baik Nadira. Dan Nadira yang begitu hancur hanya bisa terdiam mendengar keputusan kedua orang tuanya. Dia sendiri tak punya alasan untuk mempertahankan perjodohan itu, walaupun dia masih sangat mencintai Rangga.
Nadira yang dikenal sebagai sosok yang periang, seketika berubah murung seperti orang yang kehilangan harapan hidup. Dia selalu menangis meratapi perjalanan cintanya yang berakhir begitu menyakitkan. Setiap hari dia mengurung diri didalam kamar, dan hanya akan keluar apabila merasa lapar.
Apa yang terjadi dengan Nadira membuat Rian dan Fara sebagai orang tua benar-benar merasa khawatir. Apalagi dia adalah satu-satunya anak gadis yang mereka miliki. Mereka juga memiliki satu orang Putra yakni adik Nadira yang bernama Fais. Usia Fais baru memasuki 15 tahun. Dia berbeda usia tiga tahun dengan Nadira Kakaknya.
__ADS_1
Sejak anak kedua mereka lahir, Rian dan Fara langsung memutuskan untuk menetap di Indonesia setelah beberapa tahun tinggal di Malaysia. Hidup dalam keluarga yang berada, membuat Nadira tumbuh menjadi wanita yang sangat manja dan begitu lemah. Karena itulah sehingga dia tak punya daya untuk menghadapi situasi sulit yang sedang terjadi. Hampir setiap hari selama dua minggu berlalu dilalui Nadira dengan air mata. Dia hanya bisa menangis karena tak sanggup menerima pengkhianatan sahabat juga kekasihnya.
Selesai makan malam, Rian dan Fara langsung mengajak Nadira untuk mengobrol di ruang keluarga sebelum dia meninggalkan meja makan. Sebenarnya Nadira ingin menolak karena dia sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tuanya. Namun karena di sana juga ada kedua orang tua Ibunya, akhirnya dia pun menurut dengan penuh keterpaksaan.
"Sayang,, kamu harus melupakan Rangga! Dia bukan laki-laki yang pantas untuk kamu cintai. Apalagi sampai membuatmu terpuruk seperti ini." Seru Aletta Ibunya Fara yang tidak lain adalah Omanya Nadira.
"Kamu akan memiliki suami yang lebih segala-galanya dari Rangga. Dan Oma pastikan kamu akan bahagia hidup bersamanya." Lanjut wanita paruh baya itu berusaha meyakinkan cucunya, yang hanya terdiam di sampingnya duduk dengan kepala tertunduk.
"Besok Arsen dan Om Daniel sudah tiba di sini. Mereka datang menggunakan jet pribadi. Mereka bukan orang sembarangan sayang." Sambung Fara dengan harapan bisa mengembalikan semangat Putrinya untuk menjalani masa depannya.
"Bu,, aku tidak mengharapkan harta dari laki-laki manapun. Harta Ayah sudah lebih dari cukup untuk aku nikmati. Lagian aku belum tahu laki-laki seperti apa yang akan menjadi suamiku. Apa semua ini tidak terlalu cepat?" Nadira berkata-kata dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ayah,, tapi aku belum siap untuk menikah setelah apa yang terjadi padaku." Nadira tetap berusaha menolak pernikahan yang telah direncanakan keluarganya.
"Sayang,, sebenarnya kita juga tidak ingin memaksamu menikah secepat ini, setelah apa yang terjadi padamu. Tapi hanya dengan kamu menikah, kita bisa bertatap muka dengan orang-orang di luar sana. Keluarga kita sangat malu dengan gagalnya perjodohan kamu. Dan kamu juga harus menunjukkan pada Rangga dan sahabatmu itu, kalau kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik." Akhirnya Fara mengutarakan alasan mereka ingin menikahkan Nadira dan Arsen secepatnya.
"Nadira,, seorang pria yang mampu meraih kesuksesan seperti Arsen adalah pria yang memiliki prinsip dalam hidupnya. Dan pria seperti itu akan selalu berpikir panjang saat ingin melakukan sesuatu. Karena dia tidak akan mencoreng nama baiknya dengan apapun yang menurutnya salah. Bukan seperti laki-laki keparat itu. Belum punya apa-apa sudah banyak tingkah." Kata-kata Opa Nadira terdengar mengandung kebencian.
__ADS_1
Mendengar penuturan satu persatu dari keempat orang yang berada di sekelilingnya, Nadira pun tak berdaya untuk membantah ataupun menolak, pernikahan mendadak antara dia dengan laki-laki yang tak pernah dia jumpai walau di dalam tidur. Dia akhirnya mengangguk tanda setuju tanpa bersuara.
Sebagai seseorang yang terlahir dalam keluarga terpandang seperti Nadira, nama baik dan martabat keluarga adalah yang utama. Walaupun dengan sifatnya yang begitu manja, ceroboh, tidak dewasa, dan memiliki wawasan di bawah rata-rata, tapi Nadira tetaplah seorang anak yang dibesarkan dengan berbagai aturan dalam keluarga besarnya. Dia tahu betul apa yang dirasakan juga dialami keluarganya, dengan kabar yang telah beredar di luar sana tentang hubungan dia dan Rangga.
"Mulai malam ini kamu harus menjadi Nadira yang Oma kenal. Nadira yang periang, centil, dan pastinya tidak hanya terdiam seperti saat ini." Ucap Aletta Omanya Nadira yang masih terlihat cantik walau usianya tak lagi muda.
"Iya Oma." Jawab Nadira dengan senyuman yang terlihat sangat dipaksakan.
Setelah Oma Opanya pulang, Nadira langsung beranjak naik ke lantai atas menuju kamarnya. Sambil melangkah dia terus memikirkan pernikahan yang dirasakan bagaikan mimpi. Seketika timbul rasa penasaran dalam benaknya terhadap Arsen pria yang akan menikahinya.
Sesampainya di dalam kamar, Nadira langsung membuka laptopnya dan mulai mencari tahu tentang sosok Arsen, melalui beberapa sosial media yang dimilikinya. Namun tak ada satupun orang dalam pencariannya, yang memiliki kesamaan dengan Arsen calon Suaminya. Dan tanpa disadarinya, ternyata Ibunya sudah berdiri tepat di belakangnya, sambil tersenyum melihat nama yang tertera di layar laptopnya.
"Sayang,, kamu ingin tahu tentang calon suami kamu?" Pertanyaan Fara yang membuat Nadira langsung kaget dan sangat malu, karena Ibunya mengetahui apa yang sedang dia lakukan.
"Ibu,, bikin kaget saja." Ucap Nadira sembari menutupi laptopnya.
"Kalau kamu mau tahu bagaimana rupanya, Ibu akan memperlihatkan fotonya yang dikirim Om Daniel kemarin. Kamu tidak bisa menemukan data pribadinya melalui pencarian itu. Karena dia bukanlah orang biasa. Data pribadinya sangat dijaga." Ucap Fara yang membuat Putrinya terdiam dengan tampang kebingungan.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu sudah mulai memikirkan Arsen. Itu berarti kamu sudah bisa bangkit dari keterpurukanmu." Lanjut Fara sambil mengusap-usap kepala Nadira dengan senyum bahagia.
Melihat kebahagiaan yang terukir jelas di wajah Ibunya, Nadira pun berusaha untuk tersenyum walau dadanya masih terasa sesak, karena belum bisa menghapus semua tentang Rangga. Dia sendiri tak bisa membayangkan hidup bersama seorang pria asing, di masa yang akan datang. Yang dia tahu, semua itu dia lakukan hanya untuk menjaga nama dan martabat keluarganya.