
Hari itu begitu cerah, secerah wajah orang-orang yang berada di dalam sebuah gedung yang di hiasi dengan begitu sempurna, sedang menantikan hadirnya Fara sebagai calon mempelai wanita. Tapi tidak untuk Riyan yang sudah berada di tempat pelaksanaan ijab kabul, bersama seorang penghulu juga beberapa orang saksi, yang akan menjadi saksi pernikahan mereka.
Riyan yang terlihat begitu tampan dengan pakaian yang memang di rancang untuk hari bahagia itu, hanya terdiam dengan tampang khasnya, sambil menatap ke arah yang juga di tatap semua orang di dalam ruangan itu. Dan tidak berapa lama, munculah Fara bersama Aleta juga Almira, yang menggandeng kedua lengannya menuju tempat yang sudah di siapkan, tepat di samping laki-laki pujaan hatinya.
Fara terlihat bagaikan ratu di hari itu. Dia begitu cantik dengan balutan kebaya modern yang berwarna sama dengan pakaian yang di kenakan Riyan. Dengan langkah yang anggun, Fara melangkah sambil tersenyum manis penuh kebahagiaan, yang terukir di wajah cantiknya. Semua yang melihat penampilan Fara saat itu, seketika saling berbisik memuji kecantikannya.
"Woooo,, cantik bangat putrinya Pak Faris." Bisik salah seorang tamu wanita pada tamu yang lainnya.
__ADS_1
"Ya iyalah. Orang tuanya saja cantik juga ganteng, bagaimana anaknya ngga cantik?" Balas tamu yang lain.
Sedangkan Riyan yang sekejap menatap calon istrinya, langsung tertunduk dengan tampang yang terlihat begitu aneh. Di balik sikapnya yang diam, ternyata Riyan sangat mengagumi kecantikan calon istrinya itu. Dan karena tidak ingin di ketahui oleh Fara, dia langsung memilih untuk menundukkan kepalanya sambil berkata-kata di dalam hatinya, mengagumi kecantikan wanita yang akan dia nikahi itu.
"Ternyata dia bisa cantik seperti itu? Tapi aku sangat tidak menyukai sikapnya yang centil. Karena bisa saja dia bersikap centil seperti itu bukan terhadapku saja."
Kecerdasan yang di miliki oleh Riyan, ternyata tidak membuatnya menjadi bijak di saat menilai seseorang yang baru dia kenal seperti Fara calon istrinya. Melihat sikap Fara yang begitu centil terhadapnya, menimbulkan pemikiran buruk di dalam pikiran Riyan. Dia beranggapan kalau Fara memang selalu bersikap seperti itu untuk semua laki-laki yang dia dekati.
__ADS_1
Melihat ekspresi Riyan yang sudah seperti patung, Faris sebagai seorang laki-laki langsung mengerti dan memilih untuk menegur putrinya, yang sudah menempel seperti prangko di lengan calon suaminya.
"Fara,, kalau kamu seperti itu, bagaimana Riyan mau berkonsentrasi dalam ijab kabul?" Ujar Faris yang membuat orang-orang langsung tertawa karena merasa lucu dengan tingkah Fara, yang dengan segera melepaskan lengan calon suaminya, sambil tersenyum menatap wajah laki-laki dingin itu yang sudah memerah saking malunya.
"Bisa kita mulai sekarang?" Tanya penghulu kepada Riyan yang sedang membenarkan posisi duduknya.
"Bisa Pak." Jawab Riyan.
__ADS_1
Dan tanpa menunggu lama, acara ijab kabul pun langsung di mulai. Dengan suara yang terdengar begitu jelas, Riyan mengucapkan kabul tanpa ada rasa gugup sama sekali. Dan setelah mendengar kata sah dari beberapa orang yang menjadi saksi pernikahan, semua yang ada di situ langsung tersenyum bahagia sambil mengucapkan syukur.
Seluruh anggota keluarga Permana terlihat begitu bahagia menyaksikan pernikahan anak-anak mereka, yang berjalan dengan begitu lancar. Tapi yang lebih berbahagia di hari itu adalah Fara yang sudah berstatus sebagai istri, dari Riyan laki-laki pertama yang sudah mencuri hatinya dalam waktu sekejap.