Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 77. Penyesalan Riyan.


__ADS_3

Tubuh yang rapuh itu hanya terbaring di atas tempat tidur di balut selimut, menangis tanpa berhenti sejak semalam memikirkan kata-kata juga perlakuan Riyan, yang sangat menyakitkan hati juga fisiknya. Dia menangis bukan karena merasa semuanya tidak layak. Dia menangis hanya karena merasa hancur oleh kebenaran, siapa dia sebenarnya bagi laki-laki dingin yang sangat dia cintai itu.


Fara merasa begitu terhina dengan anggapan Riyan, yang membuatnya merasa seperti wanita yang tidak punya harga diri sedikitpun. Sambil menggenggam erat ujung selimut yang menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun, Fara berkata-kata di dalam hatinya dengan berderai air mata.


"Aku sangat membencimu. Kamu tega memperlakukanku seperti wanita hina yang tidak memiliki harga diri sedikitpun.


Fara yang sudah terlanjur sakit dalam luka tanpa sayatan, tidak dapat menahan rasa pedih yang telah di berikan oleh laki-laki yang sangat dia cintai itu. Dia hanya bisa meneteskan air matanya dan mengeluarkan keluh kesahnya dalam kebisuan. Sedangkan Riyan yang masih berada di dalam kamar mandi, terlihat begitu terpuruk di depan cermin besar. Setelah menyadari kesalahan besar yang telah dia lakukan dengan sangat kejam, terhadap istrinya hanya karena kemarahan atas cemburu yang tak beralasan.


"Apa yang sudah aku lakukan? Aku telah menyakitinya dengan begitu kejam. Suami macam apa aku ini?" Riyan berkata-kata sendirian di dalam kamar mandi menyesali perbuatannya yang sudah menyakiti Fara.


Tanpa menunggu lama, Riyan yang terlihat penuh rasa bersalah, langsung membersihkan noda darah yang sudah mengering di bagian bawahnya. Dan setelah itu dia segera bergegas keluar dari dalam kamar mandi, melangkah menuju tempat tidur menghampiri Fara.


Setelah berada di samping tempat tidur, Riyan semakin tidak berdaya melihat keadaan Fara, yang terlihat begitu menyedihkan karena kerakusannya semalam. Dia menatap punggung istrinya yang di penuhi tanda merah sambil menggerutui dirinya sendiri di dalam hatinya.


"Aku memang laki-laki yang sangat brengsek. Aku telah menyakiti dia di malam pertama kita. Dia pasti sangat membenciku."


Rasa bersalah yang begitu besar di dalam benaknya, membuat Riyan sampai tidak berani untuk bersuara di belakang Fara. Dia hanya terdiam dan berusaha merai pundak Fara untuk berbalik menghadapnya.



Menyadari keberadaan Riyan di belakangnya, membuat Fara semakin terluka. Dan di saat ujung jari Riyan baru menyentuh pundaknya, dengan cepat dia langsung menepisnya dengan teriakan yang terdengar memenuhi ruang kamar itu.


"Pergi kamu dari sini brengsek... Kamu jahat... Aku tidak ingin melihatmu.." Suara Fara yang terdengar sangat keras dan bergetar karena menangis sejak semalam.

__ADS_1


"Fara,, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu." Ujar Riyan tanpa berani menyentuh Fara yang masih tetap membelakanginya, dengan suara tangisan yang membuat Riyan semakin menyesali perbuatannya.


"Aku tidak mau dengar apapun yang keluar dari mulutmu. Kamu itu laki-laki yang tidak punya hati. Kamu anggap apa aku ini?" Ujar Fara sambil terus menangis.


"Kamu itu istriku." Jawab Riyan sambil terus menatap punggung istrinya, yang masih terus berbaring membelakanginya.


"Aku memang istrimu. Tapi kamu memperlakukan aku seperti wanita penghibur untuk memuaskan nafsumu. Pergi kamu dari sini.. Pergi... Hiks,,,hiks,,,hiks."


Tanpa berkata apa-apa, Riyan langsung pergi melangkah keluar dari kamar meninggalkan Fara yang masih terus menangis. Riyan sangat menyesali perbuatannya semalam. Namun semua rasa penyesalannya sudah tak ada artinya. Karena semua yang dia lakukan benar-benar melukai hati wanita cantiknya.


Sedangkan Fara hanya bisa menangis menahan sakit hatinya. Dia benar-benar kecewa dengan Riyan yang sudah tega menyakitinya di malam pertama mereka. Fara yang tidak berdaya karena merasa sakit di bagian bawahnya, hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa.



Di balik jendela kaca, Riyan berdiri di sana dengan tampang yang terlihat sangat rapuh, menyesali kebodohannya yang mudah terhasut oleh kata-kata orang lain tanpa mencari tahu kebenarannya. Setelah semuanya sudah terjadi, barulah dia menyadari kalau apa yang di katakan oleh Deni tidak semuanya benar. Karena dia sendiri telah membuktikan kalau istrinya belum pernah di sentuh oleh laki-laki lain.



Mengingat tangisan juga teriaksn Fara semalam, semakin menambah rasa bersalah di dalam hati Riyan. Tapi tidak lama, dia kembali merasa sedikit kesal mengingat istrinya pernah menjalin hubungan dengan Deni, walaupun tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Dengan tampang yang tidak bisa di artikan, dia pun mulai bertanya-tanya sendirian.


"Apakah mereka pernah ciuman? Orang yang berpacaran tidak mungkin tidak melakukan hal itu. Aku harus menanyakan semua itu kepada Fara.


Tanpa menunggu lama, Riyan dengan buru-buru kembali melangkah menuju kamar. Dia begitu ingin tahu tentang hubungan Fara bersama Deni di masa lalu. Tapi di saat dia baru memasuki pintu kamar, matanya langsung terbelalak saking kagetnya. Melihat Fara sudah terbaring di atas lantai dengan mata tertutup.

__ADS_1


"Astaga Fara..." Teriak Riyan memanggil nama Fara dan langsung berlari menghampirinya.


"Fara... Fara bangun Fara..!" Riyan mencoba untuk membangunkan Fara setelah membaringkannya di atas tempat tidur.


Riyan benar-benar panik melihat Fara yang sudah tidak sadarkan diri. Dia tidak tahu harus berbuat apa? Dan di saat dia sedang kebingungan mencari cara untuk membangunkan Fara. Ada suara teriakan seorang wanita yang sangat dia kenali, sedang memanggil-manggil namanya juga Fara.


"Riyan... Fara... Kalian di mana..?"


"Itu kan suara Mama,, tapi ngga mungkin Mama ada di sini." Riyan berkata-kata dengan tampang tidak percaya.


"Riyan... Kamu ini, orang tua panggil-panggil kamu ngga jawab." Suara Melda dari depan pintu yang membuat Riyan langsung terkejut. Dengan buru-buru Riyan langsung berlari dan berdiri menghalangi pintu sambil bertanya.


"Mama,, Papa,, ko kalian bisa ada di sini?" Tanya Riyan kebingungan.


"Papa kamu punya urusan di sini selama dua hari. Jadi Mama memilih ikut, karena ingin melihat kalian." Jawab Melda sambil berusaha menatap ke dalam kamar.


"Kamu kenapa sih Riyan..? Apa yang kamu sembunyikan di dalam..?" Tanya Melda karena merasa curiga dengan sikap Riyan yang terus menghalangi pandangannya.


"Tidak ada apa-apa ko Ma." Jawab Riyan serentak mencoba meyakinkan kedua orang tuanya. Namun tiba-tiba suara Fara pun terdengar, yang membuat mereka bertiga segera menatap ke arah tempat tidur dengan tatapan bingung. Terutama kedua orang tua Riyan.


"Tante... Hiks,,,hiks,,,hiks." Fara yang baru saja tersadar, memanggil Melda dengan di iringi suara tangisan.


"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" Tanya Melda dan buru-buru melangkah memasuki kamar bersama Reza suaminya.

__ADS_1


Riyan yang terlihat semakin panik dengan kedatangan orang tuanya di situasi seperti itu, hanya terdiam sambil mencari cara untuk menutupi apa yang sedang terjadi antara dia dan Fara. Karena kalau sampai itu di ketahui kedua orang tuanya, mereka akan benar-benar marah. Terutama Melda Ibunya.


__ADS_2