
"Terus apa yang kamu lakukan tadi, kenapa kamu selalu munculkan amarah kamu seperti itu. Sudah aku bilang berapa kali aku itu gak suka. Dan kamu selalu mengulanginya dan terus mengulanginya berkali-kali. Apa kamu gak mikirin keadaanku, gimana saat melihat kamu seperti itu. Dan aku sudah bilang berkali-kali padamu jika ada masalah cerita pada istrimu jangan di pendam sendiri dan menjadi amarah yang menumpuk. Aku gak mau kamu melampiaskan semuanya padaku nanti. Seperti kejadian waktu kita pertama bertemu. "Ucap Manda menjelaskan pada Aron, yang duduk di sampingnya.
Aron memegang ke dua bahu Manda. "Baiklah aku akan cerita padamu, tapi bukan sekarang syang, nunggu waktu yang tepat untuk cerita." jelas Aron.
"Kapan waktu yang tepat, berkali-kali kamu juga gitu, dan sampai sekarang tetap saja gak cerita padaku." Jawab Manda.
"Manda tolong ngertiin aku sejenak, aku akan cerita tapi gak sekarang"ucap Aron menjelaskan dari hati ke hati. Ia menyandarkan kepalanya ke dada Manda seakan memohon padanya untuk perngertian darinya.
Bukannya ia tidak mau cerita dengannya, sebenarnya dia ingin sekali cerita, tapi belum siap. Aron takut jika Manda tak mau menerima kenyataan itu dan marah dengannya. Apalagi dia juga belum tahu apa maksud pembunuhan itu, Manajernya sudah memberikan data padanya tapi dia belum sempat melihatnya. Karena lebih memilih untuk berdua dengan Manda lebih dulu, dari pada membuka kenyataan yang entar menyakitkan hatinya.
Aron meneteskan air matanya, Memegang ke dua bahu Manda dengan kepala bersandar di dadanya sebuah hal yang tak pernah Aron lakukan pada siapapun, bahkan dia berani memohon pada Manda tanpa rasa malu maupun canggung dari hatinya. Ia sangat takut kehilangan Manda lagi, dan babynya saat ini.
Manda terdiam, ia tak bisa mengucapkan kata-kata apa lagi. Melihat Aron memohon seperti itu rasanya tak tega. Bahkan dia terlihat meneteskan air matanya, dengan ke dua tangan mencengkram erat bahunya. Seakan berat menerima kenyataan itu.
"Syang.."sapa Manda memegang ke dua tangan Aron. "Angkatlah kepalamu, jangan menunduk seperti itu. Aku gak mau kamu seperti ini. Baiklah aku akan menunggu kamu sampai kamu mau cerita semuanya padaku. Dan aku harap saat cerita semuanya kamu harus menceritkan detailnya"gumam Manda.
Aron mendongakkan kepalanya menatap Manda. "Makasih atas oengertianmu"gumam Aron. Ia memegang ke dua pipi Manda.
"Aku gak mau, kehilangan wanita yang aku syangi ke dua kalinya. Aku mau kamu tetap bersamaku selamanya. Apapun yang terjadi nanti. Dan baik buruknya aku di masa lalu, itu hanyalah masa lalu. Dan sekarang aku sudah berubah. Dan lebih mementingkan kebahagiaan istri aku"Ucap Aron.
Manda terdiam mendengar jika dia pernah kehilangan orang yang ia sayangi. "Apa kamu pernah kehilangan seseorang"tanya Manda.
"Iya, dulu waktu aku masih menginjak bangku SMA, saat itu hal yang paling buruk dalam kehidupanku. Aku merasa terpuruk kedua orang yang aku syangi meninggal di waktu yang sama dan tempat yang berbeda. Hal yang paling menyedihkan dalam hidupku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi waktu itu. Hanya Vino yang dulu masih kecil. Aku harus membesarkan dia, merawat dia di sambil sekolah. Bahkan aku harus kerja keras untuk semuanya. Aku pernah trauma dan kurun waktu 6 balan baru bisa pulih karena perawatan dokter yang setiap bulannya aku terima. Namun bukan pulih seutuhnya. Terkadang penyakit itu muncul dan seakan mencabik-cabik hatiku. Aku tidak mau Vino jadi sasaran amrahku. karena dulu ia masih kecil belum tahu apa-apa. Jadi aku dulu menitipkan Vino pada Jack dan orang tuanya."Cerita Aron dengan duduk agak membungkuk, ke dua tangan menutupi kedua matanya. seakan ia tak bisa membendung air matanya lagi.
__ADS_1
Cerita yang sangat berat untuk di ceritakan, kini dengan terpaksa ia menceritakan pada Manda. Tak ada yang tahu semua masalah hidupnya hanya Jack dan Vino, dan itupun Vino juga baru saja ia ceritakan saat ia sudah tubuh dewasa. Agar dia tahu kondisinya dan tidak cari gara-gara padanya.
Dan Vino selalu menurut, hingga sampai saat ini ia selalu pengertian dengan Aron tak pernah membantah apa yang di katakan Aron padanya.
Manda hanya diam tak menyangka kehidupan Aron sama dengannya. dia kehilangan ke dua orang tuanya. Dan dia juga pernah merasakan itu. Merasakan oenderitaan harus terganggu mentalnya.
"Apa itu orang tuamu?" Tanya Manda.
"Iya, dia orang tuaku dan kekasihku. kekasihku meninggal bunuh diri gara-gara kebodohanku. Dan ibu aku yang paling aku sayangi juga di bunuh karena perampokan. Dan waktu itu yang buwat aku kecewa. Polisi tidak menemukan siapa yang membunuh mamaku. Dan saat aku sudah mulai pulih, aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri siapa pembunuh mamaku"lanjut Aron dengan mata kini terlihat penuh dengan dendam yang membara.
Manda tahu gimana rasanya kehilangan orang yang ia sayangi. Dan apalagi meninggalnya karena di bunuh. Dan hal itu yang membuatnya juga sama pernah menderita. Sama pernah neraskaan dendam yang tak ada habisnya, hingga menyiksa diri sendiri karena dendam. Manda memeluk erat tubuh Aron , membiarkan dia meluapkan kesedihannya dalam dekapannya.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, Aku sangat paham gimana rasanya menderita di tinggal oleh orang tua. Di saat kita masih butuh kasih sayang dari mereka."Gumam Manda mengusap lembut punggung Aron.
Disisi lain di balik kamar Angela.
"Tok..tok.."
Ketukan penuh keraguan itu tak sabar menunggu Kesha segera membukannya.
"Siapa Manda atau Angela?"Teriak kesha dari dalam kamar. Ia masih menunggu Manda untuk bicara sesuatu.
"Aku Angela buka dulu"teriak Angela. ia tak mengizinkan Vino untuk bicara dulu. Dia tahu jika Vino mengaku maka Kesha tak akan mau membuka pintunya.
__ADS_1
"Kamu cepat bicara dengan dia saat dia sudah buka pintunya. Aku akan pergi dulu aku gak mau nanti terjadi salah paham lagi di antara hubungan kalian. bye"ucap Angela beranjak pergi dari hadapan Vino.
"Tunggu, makasih sudah jadi teman curhatku. Maafk kan aku harus melibatkanmu dlaam masalah ini"ucap Vino pada Angela.
Angela menoleh dan tersenyum tipis, ia segera melangkahkan kakinya pergi sebelum Kesha membuka pintunya.
"Eh.. Angela.. Aku.."Kesha membuka pintunya, menatap Vino tepat berada didepannya. Ia langsung menutup mulutnya tak jadi untuk berbicara.
"Mana Angela?" Tanya Kesha kesal.
"Gak ada, hanya aku yang ada di sini"ucap Vino.
belum sempat bertanya Kesha langsung terburu-buru menutup pintunya, namun dengan sigap Vino memasukan kakinya ke dalam agar Kesha tak jadi menutupnya.
"Aww... kakiku sakit Sha"gumam Vino, sebanarnya memang dia sengaja melakukan itu. Agar Kesha perhatian dengannya.
Kesha mendengar Vino teriak kesakitan, segera membuka pintunya kembali, "Kamu gak apa-apa?" tanya Kesha.
Vino tahu jika hati Kesha suka kasihan dengan orang, melihat orang merintih kesakitan ia tak tega mendengarnya. Jadi Vino memanfaatkan hal itu untuk bisa dekat dengan Kesha.
"Gak apa-apa gimana sakit kakiku. Kamu yutup pintunya tadi juga keras lagi"Ucap Vino beralasan. Meski memang kakinya agak sakit sekarang, mungkin juga sudah mulai bengkak.
"Ya, sudah kamu masuk dulu. Aku akan kompres kaki kamu"ucap Kesha meski hantinya masih merasa kesal. Ia tidak tega melihat Vino kesakitan.
__ADS_1
Kesha berlari mengambil air hangat untuk kompres kaki Vino yang kejepit pintu. Meski tak di sengaja olehnya.
"Kamu duduklah, ku kompres dulu"ucap Kesha segera duduk jongkok. Merendam handuk kecil ke air hangat dan mengompres pelan kaki yang kini sudah terlihat membengkak.