
Selama perjalanan di udara Albert tidak berhenti terus
memandang wajah cantik Vina di sampingnya. Ia bahkan, terus membelai lembut
rambut panjang sepunggung milik Vina, yang terurai.
Albert bergumam pelan dalam hatinya.
Vin, aku janji padamu,
aku akan seallu ada buat kamu. Dan mulai sekarang kita akan tinggal bersama di
sini. Sampai kelak nanti kamu mau menikah denganku. Ijinkan aku untuk selalu
membahagiakanmu.
“Emmm... Jangan pergi.” Ngigau Vina, meraih tangan Albert di
kepalanya, lalu memeluknya sangat erat.
“Vina, Vina. Kamu masih saja bisa nginggau padahal kamu tidur pulas.” Ucap Albert, tersenyum mengusap pipi gadis di depanya itu,
mengecup lembut kening Vina.
“Aku gak akan pernah pergi lagi, tidak akan Vina. Aku akan selalu di sampingmu.” Lanjut Albert, mengembangkan bibirnya, membentu senyuman manis khas miliknya.
``````
Hampir 19 jam pesawat mendarat dengan sempurna di bandara Paris, ‘Charles de Gaulle’.
Vina yang sudah bangun lebih dulu. Ia melirik sekilas ke
arah Albert, yang begitu santainya masih tidur pulas di tempatnya.
“Albert bangun, kita sudah sampai. Apa kamu gak mau turun,” Vina, menggoyang-goyangkan tubuh Albert, seakan tubuhnya lunglai tanpa tulang. Albert masih saja tetap diam, dan pastinya tidur masih nyenyak.
“Turun sekarang gak,” bentak Vina, semakin meninggikan suaranya, dengan tangan mencubit sekuatnya hidung mancung milik Albert.
Albert seketika terlonjak dari kursinya, “iya. Ada apa, apa ada penjahat, mana penjahatnya?”
Vian menepuk dahinya, sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Kita
sudah sampai Albert... Bukan ada penjahat, kamu mengerti!!” Vina mencoba
memelankan suaranya, mengartur rasa kesal pada dirinya.
Albert menghela napasnya lemas, ia meraih tangan Vina,
menariknya keluar dari tempat ia berdiri.
“Albert berhenti!! Kamu mau bawa aku kemana?” tanya Vina
kesal. Melebarklan kelopak matanya.
“Keluar dari sini, memangnya kamu gak mau turun.”
Vina hanya diam, menatap ke dua mata Abert di depannya.
“Ya, mau tapi aku mau jalan sendiri.” Ucap Vina, mendorong bahu
Albert agar menyingkir darinya.
“Eh, kamu mau kemana?” Albert memegang lengan Vina, mendekatkan
tubuhnya. Dan berbisik padanya. “Jangan pergi dariku, aku sudah bilang padamu. Kamu
gak boleh pergi dariku, harus selalu ada di sisiku.”
Vina memutar matanya malas, ia berdengus kesal, menggerakkan
tubuhnya, menoleh ke belakang. Dengan tatapan dari sudut matanya yang tajam.
Vina, menjulurkan tekunjuk tangannya ke wajah Albert. Dengan
bibir menguntup kesal. “Apa kamu bilang. Aku gak bilang kamu boleh selalu di
__ADS_1
sisiku. Aku mau pulang dan temui ke dua orang tua ku sekarang, jadi lebih baik
kamu juga pulang sekarang. Dan ingat kesepakatan kita tadi hanya teman, Albert.”
Jawab Vina, menarik salah satu alisnya, dan sudut bibir kiri sedikit tertarik
sinis.
Ia berusaha melepaskan cengkraman Albert yang semakin erat
di lengannya, membuat ia meringis menahan sakit. “Lepaskan tangan kamu. Sakit tahu!!” rengek Vina.
“Aku gak perduli, jika kamu mau tetap bersamaku. Maka aku
akan lepaskan tangan kamu,” ucap Albert dengan ke dua alis tertarik ke atas
bersamaan.
Vina berdecak kesal, ia memandang Albert lekat, bahkan ke
dua mata mereka saling tertuju. Tiba-tiab terfikir dalam benaknya, sebuah ide
gila, yang tiba-tiba muncul di otaknya. Vina dengan yakin akan melakukannya,
untuk mengalihkan pikiran Albert. Ya, meskipun dia tahu ini sanat gila baginya.
Tuhan.. semoga saja
dengan gini dia mau melepaskanku. Dan aku bisa lari darinya. Smeoha bershasil.
Vina menarik napasnya dalam-dalam, memejamkan matanya
beberapa detik. Mencoba mengeluarkan keberaniannya. Meletakkan telapak
tanganhya di belakang telinga Albert.
Vina menjijitkan ke dua kakinya, menarik kepala pria
mendekat ke arahnya, mengecup lembut bibir Albert beberpa detik. Lalu melepaskan
Sebuah kecupan tak terduga membuat Albert seketika
melepaskan tangan Vina, perlahan. Detak jantunganya berdegup lembih cepat dari
biasanya, dengan wajah nampak sangat kosong memegang bibirnya.
Bagi Albert ini pertama kali ia mau saja di kecup wanita
lebih dulu. Ya, meskipun dia terkenal sangat paly boy dulu, tapi setidaknya dia
masih punya harga diri. Dan pilih-pilih wanita, yang akan ia kencani.
Ohh., Tuhan.. aku
melakukan hal gila, baru pertama kali dalam hidup aku, mecium laki-laki lebih
dulu. Dan sepertinya Albert terbuai dalam suasana itu. Lebih baik sekarang aku
harus pergi, sebelum dia sadar.
Vina membalikkan badanya dan segera berlari. Namun tak
berapa lama Albert sadar dari lamunanya dan mencegah Vina keluar dari pitu
keluar. Dengan berdiri tegap di depannya. Dengan kedua tangan terlentang,
mencegahnya pergi.
“Mnggir!!” ucap Vina, berjalan ke kiri, ke kanan selalu di
ikuti oleh Alert. Membuat ia semakin jengkel, menggeram kesal.
“Kamu mau pergi kemana?” ucap Albert, dengan senyum
menyungging di bibirnya. Dan ke dua tangan di lipat ke atas dadanya.
__ADS_1
Vina berdecak kesal. “Albert, kita baru berteman. Sekarang kamu
mau aku bersama kamu.”
“Gak perdulim kita teman lama atau baru saja. Aku mau kamu
tinggal dengan aku. Biar aku bisa seallau menjaga kamu 24 jam.”
Seketika Vina mengerutkan kenianya dengan mata mengernyit,
tap percaya dengan apa yang aia dengarkan. “Apa katamu? Apa kamu sudah gila,
kita belum menikah, kamu suda ajak aku di rumah kamu begitu, atau di apartemen
kamu.” Ucap Vina. “Dasar gila!!” memutar matanya melas, dengan kepala
menggelang pelan.
“Aku sudah gila karena mu,” ucap Albert mengoda, berjalan
semakin mendekati Vina.
Vina semakin berdengus kesal. Melangkahkan kakinya perlahan,
dengan wajah nampak sangat was-was.
“Permisi, maaf apa kalian tidak mau turun dari sini,” ucap
salah satu pramugari membuat Vina dan Albert tersentak. Dan menatap ke sumber
suara kompak.
“Eh,, iya maaf, aku akan pergi sekarang.” Vina tmencoba
tersenyum ramah, dan segera berlari mendorong tubuh Albert ke belakang. Dan berlari
turun dar pesawat itu dengan seera,
Tapi Albeert tidak menyerah begitu saja, dia berlari engkiti
Vina, memegang tanganya, dan langsung menggendong tubuhnya, ala bridal style. Berjalan dengan langkah
cepat menuju keluar dari bandara. Albert tidak perduli banyak orang yang
menatapnya, baginya itu hal yang bagus untuk emnunjukan pada semua orang
tentang wanitanya sekarang.
“Albert, turun kan aku sekarang” ucap Vina, mencoba
memukul-mukul dada bidang Albert.
“Sudah diamlah, lagian aku juga gak akan pegang kamu. Jadi,
kamu tenang saja.”
“Alber aku malu, semua orang menatap kita.” Celoteh Vina,
yang tak berhenti berbicara dengan memainkan ke dua kakinya, agar Albert segera
melepaskannya.
“Aku tidak perduli dengan pandnagan mereka.” Albert semakin
mempercepat lakahnya.
“Lebihbaik, kamu sekarang kalungkan tangan kamu di leherku,
dan diamlah ujangan banyak bergerak. Atau kamu mau nantikamu jatuh, dan malah
lebih malu di lihat orang banyak di sini.”
Vina berdecak kesal. Menarik napasnya, uantuk mencoba
bersabat meghadapi Albert. Ia melingkarkan tanganya di leher Albert, dengan
__ADS_1
wajah ia sandarkan ke dada bidang milik pria yang mengangkatnya itu.