
Sampai di sebuah Apartemen milik Albert, ia bergegas turun menarik tangan Vina keluar dengannya.
“Kenapa kita di sini?” tanya Vina, dengan pandangan mata berkeliling menatap sekitarnya.
“Bukanya aku sudah bilang padamu, kita akan tinggal di sini berdua,” ucap Albert.
Vina mengerutkan keningnya, menatap tidak percaya dengan ucapan Albert yang tadinya ia kira hanya sebatas bercanda. Dan ternyata dia
serius dengan ucapanya.
“Jadi kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan?” tanya Vina, memastikan.
“Iya, aku serius, emangnya tampang aku gak serius.” Ucap Albert, “Aku mau kamu selalu bersama denganku. Jangan pernah jauh dariku, kalau kamu kuliah atau melakukan hal apapun, dan pergi
kemanapun, aku aka selalu antar jemput kamu.” Jelas Albert.
“Tapi...”
“jangan bicara lagi, jangan menolak apa yang aku inginkan.” potong Albert cepat, tak memberi celah untuk Vina menolak apa yang sudah jadi
keinginannya. Ia menutup mulut Vina dengan telunjuk tangannya.
“Pak, bawa koper aku dan gadis ini masuk ke dalam. Dan tinggalkan mobil aku di sini. Kamu bisa pulang naik taksi.” Ucap Albert, mengeluarkan
lembaran uang dan memeberikan pada sopirnya.
“Iya, tuan.”
“Itu uang untuk kamu naik taksi.” Lanjut Devid.
Devid segera memegang tangan Vina semakin erat menariknya masuk ke dalam, berjalan lebih dulu tanpa menunggu sopir yang masih mengeluarkan
barang-barangnya. Albert tidak mau melepaskan tangan gadis itu. Jika sampai
terlepas, pastinya akan lari jika tidak ia pegang erat. Mereka berjalan masuk ke dalam sebuah apartemen mewah di pusat kota. Dengan pamandangan yang indah di
atasnya, bisa melihat langsung menara Eiffel.
“Albert, bagaimana dengan orang tua aku, mereka pasti akan khawatir dengan keadaan ku nantinya.” Ucap Vina, yang mulai teringat tentang ke
dua orang tuanya, yang pasti sekarang sudah berada di rumah barunya.
“Besok aku akan antarkan kamu ke rumah kamu, dan kamu bisa bilang pada mereka jika kamu tinggal di sebuah apartemen sendiri. Jangan bilang
bersamaku.” Ucap Albert, melirik ke arah Vina.
“Kenapa gak boleh bilang jika bersama kamu,”
“Emangnya, kamu mau jika mereka tahu, dan kita langsung di nikahkan. Bukanya kamu sendiri yang ingin tahu lebih dalam tentang aku. Dan sekarang
__ADS_1
kesempatan kamu.” Jelas Albert.
Vina terdiam, memutar otaknya untuk menimang-nimang kembali apa yang di katakan Albert. Apa ia harus menerima tawaranya, atau ia harus
pergi nantinya.
Benar juga yang di katakan oleh Albert, tapi mana mugkin aku tinggal berdua dengannya di apartemen ini. Aku merasa sangat ragu, apalagi saat mengingat kejadian malam itu, aku merasa sangat malu pada diriku sendiri.
“Bagaimana, kamu mau gak?” tanya Albert, melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift yang kebetulan sudah terbuka di depannya.
“Jangan lama-lama mikirnya,” lanjutnya.
Albert menatap ke arah Vina, yang dari tadi hanya diam dan menunduk di sampingnya.
Pria itu, menarik tangan Vina, memojokan tubuhnya ke lift, dengan tangan kanan memegang dagunya, mendongakkan kepalanya agar menatap matanya.
Ke dua mata mereka saling tertuju, Vina hanya diam, menatap mata Albert di depannya. Tatapan mereka semakin dalam, membuat Albert
mendekatkan wajahnya semakin dekat. Membuat Vina seketika memejamkan matanya,
seakan sudah tahu apa maksud Albert.
Dan bibir pria itu, mendarat sempurna di bibir mungil Vina, ia mengecup lembut bibir Vina penuh dengan perasaan, semakin dalam, tanpa ada
penolakan sama sekali dari Vina, dan ia semakin menikmati kecupan lembut, Albert.
Mereka saling membalas, dengan ke dua tangan Vina melingkar di leher Albert. Tak kalah Albert menggerakkan tanganya berkeliaran menjelajahi
Albert, membuat ia berdesah lirih.
Thinggg..
Pintu lift terbuka, membuat mereka menghentikan kemesraan mereka. Beranjak berdiri menatap ke depan, Dan mulai merapikan bajunya
masing-masing sebelum ada orang yang melihatnya.
“Albert!!” panggi seseroang yang sangat familiar di telinga Albert, seketika membuat ke dua matya mereka tertuju ke sumber suara. Seorang wanita
berdiri, melihat semua yang di lakukan Albert dengan Vinda di dalam lift yang perlahan terbuka itu.
“Aira?” ucap Albert terekejut melihat sosok yang pernah ia tinggalkan begitu saja dulu, tanpa penjelasan putus sama sekali darinya.
Vina, merapikan bajunya, dan mengusap bibirnya dengan punggung tanganya.
“Ternyata kamu sudah ada di sini.” Ucap Aira, dengan senyum manis menyungging di bibirnya. Seakan tidak perdulikan apa yang Albert lakukan dengan Vina.
“Dia siapa?” tanya Vina, menatap ke arah Albert dan Aira bergantian dengan tatapan bingung.
“Kenalkan, aku pacar Albert.” Ucap Aira, mengulurkan tanganya ke arah Vina.
__ADS_1
“Pacar?” tanya Vina memastikan, dengan ke dua mata mengeryit tak percaya.
“Iya, aku pacarnya,” jawab Aira penuh keramahan.
“Sudah, jangan hiraukan dia, lebih baik sekarang kita pergi.” potong Albert cepat, sebelum Aira berbicara banyak dengan Vina nantinya. Ia memegang tangan Vina, menariknya segera pergi meninggalkan Aira. Begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari wanita yang baru saja ia temui itu.
“Albert, kamu mau kemana lagi.” Teriak Aira yang tadinya ingin masuk ke dalam lift, seakan ia mengurungkan niatnya melihat dengan tatapan tajam ke arah Vina dan Albert.
“Kenapa kamu meninggalkanku tanpa penjelasan, jadi karena wanita itu. Baik, maka jangan salahkan aku jika aku kaan berbuat nekat
nantinya.” Decak kesal Aira, dengan sudut bibir tertarik sinis mentap kepergian
mereka yang sudah berjalan menjauh dari pandangan matanya.
```````
“Bentar!! apa yang dia katakan? Apa itu benar?” tanya Vina, menarik tanganya dari cengraman erat Albert.
“Kita masuk dulu ke dalam. Aku bisa jelaskan nanti.” Jawab Albert, dengan wajah yang mulai cemas.
Vina menggelang-gelnagkan kepalanya, tak percaya, baru saja ia bisa membuka hatinya lagi untuk Albert dan mencoba percaya dengannya. Memberi
kesempatakn ke dua untuk Albert agar ia bisa membuktikan jika cintanya tulus
denganya. Dan sekarang kenyataan baru terungkap. Membuat ia semakin kesal dengannya.
“Gak mau, aku gak mau masuk ke dalam. Aku mau pergi lebih dulu.” Ucap Vina, melangkah mundur, menghindari Albert.
Albert segera membuka pintunya, menarik tangan Vina kasar masuk ke dalam dan menutup rapat kembali pintunya, sambil menunggu sopirnya yang masih berjalan membawa barang-barangnya di belakang.
“Albert, aku mau pulang sekarang!!” ucap Vina tegas, membalikkan badanya, seakan berusaha membuka pintunya.
Albert menarik tangan Vina, memegang ke dua bahunya, membalikkan tubuhnya menatap ke arahnya. “Dengarkan penjelaskanku dulu.”
“Penjelasan apa lagi... semuanya sudah jelas, Albert.”
Albert memegang semakin erat ke dua bahu Vina.
“Kamu hanya mendengar kata-kata darinya dan langsung percaya. Padahal kamu baru bertemu dengannya.”
Vina menepis tangan Albert di bahunya.
“Karena dia wanita, dan gak mungkin dia bohong-kan jika pacaran dengan kamu. Lagian wajah kamu seakan cemas melihat dia berbicara seperti itu tadi.” Jawab Vina tidak mau kalah.
“Oke, aku akan jelaskan semuanya.”
Tok... Tok.. Tok..
“Tuan, koper Anda dan teman Anda ada di depan.” Ucap sopir di balik pintu.
__ADS_1
“Iya, kamu pergi saja. Aku akan segera mabil.” Jawab Albert