
"Syang!! Kamu belum selesai mandinya?" tanya Vino, yang masih duduk di ranjangnya, ia merasa sudah bosan menunggu Vina.
”Aku sudah selesai mandi, ayo pergi,” ucap Kesha, membuka pintu kamar mandi, berjalan menghampiri Vino.
“Ya, sudah ayo.” Vino berjalan lebih dulu. Memegang tangan Kesha, menariknya pergi.
“Tunggu!!” Kesha memegang tangan Vino.
“Ada apa, syang?” tanya Vino, menoleh, mengusap pipi Kesha manja. "Apa ada yang kamu inginkan?" tanya Vino.
“Gendong,” ucap manja Kesha, merengek seperti anak kecil.
“Sudah cepat naik,” Vino, sedikit membungkkan badanya.
Dan Kesha, segera melompat, naik ke punggung belakang Vino, melingkarkan tangannya ke dua tangannya, di leher Vino.
"Udah, jalan syang!! Jangan ngeluh kalau aku berat ya!" canda Kesha, memegang ke dua pipi Vino.
“Memangnya kamu beberapa hari ini banyak makan ya?”
"Heheh.. sedikit berlebihan."
"Sudah jalan, nanti Manda keburu nuggu kita kelamaan.”
Vino segera menggendong Kesha, berjalan menuju rumah Aron.
“Kalian kenapa lama, sekali?” tanya Manda, yang sudah sangat sibuk ke empat anaknya rewel semua, gak bisa di ajak kompromi.
“Tadi aku mandi, Vino tunggu aku.” jawab Kesha, ia beranjak membantu Manda untuk mengurus anaknya, sembari melihat orang yang memasang dekorasi untuk pernikahanya besok.
“Kamu, sudah siapkan semuanya Vino ” tanya Aron.
Vino yang paham dengan maksud Aron, segera menjawab dengan kedipan mata, memberi kode jika semua sudah beres.
“Oya, kalian semua duduklah dulu, ada yang ingin aku bicarakan pada kalian.” Ucap Aron, yang mulai duduk di sofa, di samping Manda yang masih mengurus Brandon dan Axcel.
“Memangnya, kita mau bahas apa?” tanya Vino, yang duduk di depan Aron dan Manda, ia segera menarik tangan Kesha, yang masih berdiri membelakangi dirinya.
“Aku sudah membelikan tiket bulan madu kalian, aku ingin kalian pergi ke Paris. Untuk bulan madu, dan setelah selesai bulan madu. Pulanglah ke London. Kalian bisa tnggal di rumah kita dulu." Ucap Aron, membuat Kesha dan Vino terkejut. Ia tidak menyangka jika kakaknya mengijinkannya ke sana lagi.
“Rumah itu, belum kakak jual? Dan kenapa Fany tidak mengambilnya juga?” tanya Vino heran.
__ADS_1
“Rumah itu masih milik kita, dan rumah itu sudah menjadi milik kamu dan Kesha sekarang” jelas Aron
“Iya, kalian bisa tinggal di sana. Setelah Duke dan Lia dewasa kita akan tinggal di sana lagi.” Sambung Manda.
“Tapi aku masih kuliah, dan kurang satu semester lagi, dan juga Kesha sama, dia juga masih kuliah.” Ucap Vino.
“Kamu ke sana setelah wisuda, dan kalian urus semua hotel, restoran dan apartemen di sana. Selama anak aku masih kecil, aku serahkan semuanya di tangan kamu.” Ucap Aron, menjelaskan.
“Baiklah, tapi aku harus jauh dari orang tua aku sekarang?” tanya Kesha.
“Jangan Khawatir, kita yang akan urus orang tua kamu, selama kita masih ada di sini. Kalau kamu mau bawa ke duia orang tua kamu juga tidak masalah. Rumah itu cukup untuk tidur 10 orang.” Jawab Aron.
“Baiklah, tapi aku sementara akan belajar di perusahaan kamu, kak,” ucap Vino.
“Iya, silahkan, perusahaan aku selalu terbuka untuk kamu.”
“Dan kamu, syangku Kesha!! Jangan marah, jika waktu awal kita nikah nanti, aku akan sibuk bekerja, itu juga untuk masa depan kamu dan calon anak kita nantinya.” Ucap Vino, pada Kesha, yang berada dalam dekapannya sekarang.
“Aku tidak masalah, asal tidak melirik wanita lain.” Gumam Kesha.
“Tenang saja, aku akan selalu setia pada mantan kekasih aku ini, yang besok akan resmi menikah denganku.” Vino, semakin merengkuh erat Kesha. "Aku akan selalu jaga mata, jaga hati, hanya untuk kamu," lanjutnya.
Selesai kuliah, ia baru berencana untuk membuat baby. Dirinya dan Kesha juga sudah sepakat untuk menunda kehamilan lebih dulu.
``````
Berbeda dengan Vina dan Albert.
Mereka pergi menuju ke rumah Vina, di sambut dengan baik di rumah baru wanitanya itu.
Sebuah hal yang tidak terduga bagi Vina, ia mengira jika keluarganya akan menolak kehadiran Albert, tapi saat dia datang sambutan hangat di terimanya, dan angsung mempersilahkan masuk, dan di jamu dengan sangat hangatnya. Duduk di ruang tamu, sambil berbinang basa-basi, membicarkan segala hal, bisnis dan lain-lain. Vina yang tidak terlalu paham dengan pembicaraan mereka hanya diam, dan menjadi pendengar setianya saja.
Apa orang tua aku tahu, kalau dia adalah anak pemilik perusahaan nomor satu di kota ini? Dan reaksi papa, juga berbeda, dia yang dulu tidak pernah mengijinkan dekat dengan laki-laki, sekarang dia menyambut baik laki-laki itu.
“Vina, kenapa kamu diam saja? Apa kamu jadi menikah besok? Jika memang jadi, papa dan mama kana berangkat lebih pagi, untuk melihat putri cantik papa ini, akan segera menikah.” Ucap papa Kesha.
“Iya, pa.” Ucap Kesha, mencoba tersenyum.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita jika kamu akan menikah dengan dia?” tanya Papanya
“Memangnya kenapa, Pa?” tanya Vina, bingung.
__ADS_1
“Papa tahu dia, dia orang yang pernah datang ke rumah mencari kamu, dan setalah aku selidiki, dia adalah anak nomor satu di kota ini. Yang sekarang sudah membantu perusahaan baru papa syang,” jelas papa Vina.
Seketika Vina menoleh ke ara Albert, “Alu tidak tahu tentang itu, bukanya kamu sendiri dulu yang marah dengan aku. Kalau soal kerja sama aku tiak tahu itu, itu bukan usursan aku.” Ucap Albert, seakan paham dengan tatapan tajam Vina yang mengarah padanya.
Selesai bernegosiasi soal pernikahan, dan mereka sudah sepakat semuanya. Keluarga Vina menyerahakan semuanya pada Albert, dan sesuai keinginan mereka semua.
Karena ikatan kerja sama antar perusahaan yang sangat kebetulan itu, membuat papa Vina semakin bersemangat menikahkan anaknya segera, aga kerja sama itu bisa bertahan lama untuk perusahaannya nant. Dan bisa berkembang pesat di tangan Albert nantinya.
Pulang dari keluarga Vina, Albert dan Vina langsung pulang kembali ke rumah besar milik keluarga Albert. Mereka yang sudah di jamu dengan masakan enak dari tangan mamanya sendiri. Serasa tidak nafsu untuk makan lagi di luar.
Tak banyak bicara, mereka semua yang sudah sangat cepek, beranjak tidur di kamarnya masing-masing.
``````
Keesokan harinya..
Pagi hari ini sangat cerah, di temani oenasanyamatahari pagi, sebuah ja ni pernikahan akan di ucapkan.
Kini jarum jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi, suara burung-burung mengiringin alunan musik biola penghantar langkah kaki pengantin. Deretan bunga, dari para teman di hamburkan pada pasnagan pengantin baru.
Pernikahan akan segera di mulai, dan kebetulan hari pernikahan Vino dan Kesha sama dengan, pernikahan Albert dan Vina, di tempat yang berbeda dan negara yang berbeda. Dan jam yang berbeda pula. Albert akan melangsungkan perniakahn di jam sebelas siang.
Dan pernikahan Vino dengan Kesha sudah di laksanakan. Vino juga sudah memutuskan untuk tinggal jauh dari ke kakaknya dan ke dua orang tuanya, saat kuliahnya selesai nantinya,kurang satu semester lagi, setelah itu ia ingin mandiri bersama dengan Kesha. Mengurus anak perusahaan Aron yang lama.
Dan sedangkan Albert, dia memutuskan untuk tinggal di rumahnya sementara, dan bekerja di perusahaan papanya. Karena Vina sudah memutuskan untuk tinggal di sana, ia tidak bisa menolaknya, asalkan dia betah tinggal di sana, ia sudah senang.
```````
Tepat jam sembilan pagi, Kesha dan Vino mengucapkan janji pernikahan mereka di depan semua orang, tamu undangan dari temannya, dan Kesha serta rekan bisnis kakanya.
Ikrar janji sudah terucap dari bibir mereka berdua, Vino langsung mengecup bibir Kesha, untuk saling mencintai selamanya.
Vino memegang tangan Kesha, memakaikan cincin di jemari manisnya, lalu mengecup tangan Kesha. Lalu menyingkapkan selambu yang menutupi wajah Kesha.
“Kesha, I Love you!!” ucap Vino, dan langsung mengecup bibir Kesha, di sambut dengan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan.
“Vino, makasih, hari ini kamu membuktikan jika kamu tulus padaku. Tapi aku ingin tidak hanya hari ini, tapi selamanya, jangan pernah menyakitiku.” Ucap Kesha, dan. Cup!
Kecupan manja di pipi Vino, membuat Vino tersenyum tipis.
Vino segera, memegang tangan Vina, berjalan menuju ke tamu undangan, untuk berbincang sebentar, setelah itu ia akan pergi untuk bulan madu.
__ADS_1