
Aron masih terlihat berdiam diri di kamar Manda menunggu dia keluar dari kamar mandi. Dia merasa sudah menunggu terlalu lama. Bahkan dia menghilangkan rasa boringnya dengan menatap pemandangan pagi di atas balkon kamar Manda. Melihat indahnya pantai di depannya di iringi dengan desiran angin sepoi sepoi. Yang membuat rambunya berterbangan. Namun Aron tak perdulikan itu. Dia memejamkan matanya sejanak merasakan angin masuk ke dalam tubuhnya membuat fikirannya menjadi tenang. Di iringi dengan desiran ombak pantai.
Hampir 20 menit lamanya Aron menunggu namun tak kunjung Manda keluar dari kamar mandi. Dia sudah nampak tak sabar menunggu terlalu lama "Kenapa dia lama sekali??"
Aron membuka mata perlahan membalikkan badannya beranjak pergi dengan langkah sangat cepat menuju ke kamar Mandi.
" brak...brak..brak..." ketukan sangat keras seakan membuat pintu mau roboh. Namun Manda tetap tak keluar juga dengan penuh amarah Aron mendobrak pintu manda melihat manda berdiam diri di kaca menatap deretan bekas ciuman Aron semalam. Manda mencoba menutupi bekas ciuman yang terlihat membiru dengan bedak pelembab miliknya.
" apa yang kamu lakukan??" Tanya Aron dengan tatapan tajam berjalan perlahan mendekati Manda.
Manda hanya terdiam dengan santainya ia melanjutkan kegiatanya tak menggubris Aron di belakangnya. Aron nampak sangat kesal di buatnya dia menarik pundak Manda menoleh ke belakang agar dia bisa menatap jelas wajah Manda. Dia mencengkram erat rahang Manda menariknya ke atas membuat Manda meringis kesakitan. " lepaskan aku Om??" Ucap Manda memukul berkali kali tangan Aron.
"Kamu udah berkali kali membuatku kesal, sekarang kamu cepat keluar dan buwatkan aku makanan" Aron melepaskan tangan nya. Menarik tangan Manda melemparkan tubuhnya keluar dari kamar Mandi hingga tubuh mungil manda tersungkur ke lantai.
"Tidak ada yang boleh menentangku di sini, termasuk gadis kecil seperti kamu.. ingat itu!!" Ucap Aron. Yang mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar Manda.
"Aku tunggu kamu di bawah" Manda hanya terdiam tak menggubris Aron. ia menatap tajam Aron yang sudah mulai berjalan menjauh darinya.
"Ibu kenapa aku harus terjerumus dalam penjara ini aku bagaikan binatang yang terus di siksa di sini.. aku tak sanggup lagi ibu... tolong kuatkan aku menghadapi semua ini??" Manda mendongakkan kepalanya dengan mata mulai berkaca kaca. Namun Dia mencoba untuk tetap tegar mencoba berdiri kembali meraih tas sekolah yang sudah dia siapkan di atas ranjang. Dan berjalan keluar dari kamarnya yang terlihat sudah terbuka, lalu menutupnya kembali. Dia terus berjalan turun tanpa rasa beban sama sekali di banaknya. Manda benar-benar mencoba untuk tetap senyum dalam semua masalah yang di hadapinya saat ini.
Dia mengusap air mata dengan punggung tanganya yang tiba-tiba menetes di pipinya. Kini ia berjalan turun dari tangga menuju ke dapur meski Manda tak bisa masak sama sekali dia ingin mencobanya agar hati Aron bisa luluh tak menyiksanya lagi.
__ADS_1
Dengan langkah yang sangat berat, dia tetap menyeret kakinya berjalan menuju ke dapur. Terdengar suara hentakan sepatu yang terdengar jelas di telinganya.Nampak Vino berlari turun dari tangga tiba-tiba memeluk Manda dari belakang membuat Manda terkejut di buatnya.
"Calon Kakak iparku sudah siap sekolah sekarang" Pungkas Vino tepat di telinga kiri Manda.
" Vino apa yang kamu lakukan?? Lepaskan aku ??" Manda mencoba melepaskan tangan Vino yang merengkuh pinggangnya sangat erat.
"Baiklah, oya nanti berangkat denganku ya. Lagian kita satu sekolahan dan satu kelas juga" Vino tersenyum mencubit pipi Manda yang terlihat memerah bahkan seperti kepiting rebus. Dia berlari mengedipkan mata menggoda Manda. Seolah manda dihujani bunga yang berjatuhan. Benar benar membuat dia tak bisa lagi bernafas melihat Vino tersenyum lembut padanya.
Hatinya seolah di aduk aduk dengan perasaan senang yang menggebu-gebu. Dia bahkan seperti patung yang berdiri kaku di tempatnya dengan tatapan terus memandang Vino yang melangkah mendekati kakaknya.
"Perasaan apa ini yang terjadi padaku?? batin Manda memegang dadanya yang seakan sesak untuk bernafas lega.
Perasaan senang yang ada di hatinya seakan hilang. Berubah jadi perasaan yang menyebalkan buwatnya. Dia menghentakan kakinya , berdecak kesal mengerutkan bibirnya, lalu malangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Bukan langsung memasak ia hanya terdiam melihat bahan bahan yang sudah di siapkan para pelayan untuknya. Dan sebuah menu makanan yang setiap hari di makan oleh Aron. " masakan Apa ini aku gak paham" gumam manda ia melemparkan jadwal makananannya. Kini fikirannya semakin pusing di buatnya. Ia tak bisa masak sama sekali di tambah suruh buwat menu makanan yang aneh aneh bahkan pakai bahasa inggris yang tidak Manda ketahui.
Manda tidak mengenal masakan barat sama sekali. Dia hanya tahu masakan desa yang selalu ia makan tapi dia tidak juga bisa masak meskipun selalu memakannya setiap hari. Manda terdiam seketika mengingat masakan ibunya.
" Ibu aku kangen masakan ibu!! " Ucap Manda mencoba mengolak alik sayuran yang entah mau di apakan itu semua. Manda terus berdecak kesal sesekali memandang jam tangan merah yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukan jam 06.45.
"AHh... pasti aku telat lagi sekarang" gerutu Manda yang mulai menarik salah satu sayur memotongnya asal hingga bentuk besar besar di masukan ke dalam panci yang sudah di isi air. " ini apa lagi yang harus aku masukan ke dalam" Ucap Manda yang mulai mencampur semua sayuran yang ia potong dan segala bumbu dia masukan jadi satu entah apa jadinya ini masakan amburadul deh pokoknya.
__ADS_1
" Kenapa kamu lama sekali??" Teriak Aron yang nampak tak sabar menunggu masakan Manda dan apa lagi Vino dia terlihat duduk santai memegang ponselnya dengan senyum senyum sendiri entah dengan siapa dia chatting membuat ia merasa sangat berbunga bunga.
"Udah kah kak sabar sebentar mungkin dia masaknya sangat menghayati" Ucap Vino yang masih fokus pada ponselnya.
Tak lama Manda keluar membawa semangkuk sup asal asalan buwatan Manda. Ya bagaimana tidak manda mencampur semua sayuran jadi satu apalagi dia memotong besar besar jadi terlihat penuh di wadah.
Vino nampak terdiam ia memang tidak tertarik untuk makan. Dia hanya menunggu Manda untuk berangkat bersama.
Aron melihat masakan manda membuat nafsu makanya hilang seketika. Saup berubah kuah jadi hitam pekat.
" Masakan apa ini??"
" Brak..." ia melempar wadahnya hingga masakan manda berceceran kemana mana.
manda hanya terdiam tak bisa berkutik apa apa tubuhnya gemetar seketika melihat kemarahan Aron di depannya. Dan Vino hanya terdiam menatap kakaknya. Dia yang fokus dengan ponselnya terkejut mendengar teriakan kakaknya yang menggelegar di ruangan.
Vino sekilas melihat Manda yang hanya menundukan kepalanya. Dengan ke dua tangan memegang ujung rok pendeknya sangat erat.
"Vino kamu berangakat saja duluan" kata Aron nampak sangat marah.
Tanpa banyak bertanya ia juga merasa takut dengan kakaknya. Dia segera meraih tasnya di meja. Berjalan dengan langkah terburu buru menuju pintu. Sesekali dia menoleh ke belakang melihat manda yang menatapnya dengan wajah lesu dan muram. Seakan dia berharap Vino menolongnya. Dan Seakan matanya sudah mulai berkaca kaca membuat Vino gak tega melihatnya. Namun dia tidak berani menentang kakaknya. Dengan terpaksa Vino berangkat lebih dulu meninggalkan Manda sendiri.
__ADS_1