Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Duke di culik


__ADS_3

Aron dan Manda putar arah kembali ke kantornya, mereka khawatir dengan Duke juga yang di tinggal di kantor. Aron yang tadi yang sangat khawatir tidak kepikiran jika akan berbahaya jika meninggalkan Duke sendiri.


Manda berlari masuk ke dalam kantor Aron, menuju ke ruangan manajernya. "Di mana Duke?" tanya Manda.


"Mama..." Panggil Duke berlari, wajahnya terlihat ketakutan seakan sudah terjadi sesuatu dengannya.


Manda duduk tersungkur di lantai, memeluk anaknya. "Duke, kamu gak apa-apa?" tanya Manda, mengusap pipi Duke, dengan rasa cemas dan khawatir jadi satu.


"Ma, Lia ma" ucap Duke menangis.


"Apa kamu tahu tentang Lia" tanya Manda.


"Duke tadi melihat ada seorang lelaki yang menculik Lia, dia pergi, mendorong Duke saat mau mengikuti kemana Lia di bawa" ucap Duke, dengan suara polos dan lugunya.


"Baiklah, beri tahu mama ya, di mana lelaki itu membawa Lia pergi" ucap Manda bangkit dan menggendong anaknya. "Sekrang kamu jangan takut ya syang, da mama dan papa di sini."


Aron yang tadi berjalan di belakang manda ia perlahan masuk ke dalam ruangan Manajernya. "Pak, bu, Saya sudah periksa semuanya. Tidak ada yang mencurigakan dari tamu masuk dan karyawan yang keluar. Tapi saya belum periksa karyawan yang bekerja sebagai marketing, karena dia dari tadi gak ada di sini."ucap manajer Aron.


"Baiklah, syang sudah tahu"ucap Aron. "Manda sekarang ikut aku, ada yang ingin aku bicarakan padamu" ucap Aron, memegang tangan manda keluar dari ruangan manajer.


Mereka segera keluar membawa Duke dalam gendongan Manda.


"Ada apa?" tanya Manda.


"Aku menemukan sebuah ancaman di ruangan kerjaku" ucap Aron. "Sekarang aku lebih curiga dengan manajer kita, karena dia yang berada di sini dari tadi, dan kalau tidak ada yang mencurigakan. Gak mungkin ada orang yang berani masuk ke ruanganku, kecualai manajer. Bagian cleaning servis saat mau membersihkan tempatku gak aku ijinkan jika tidak ada aku. Dan ini sepertinya dia seenaknya bisa ke luar masuk ruanganku" ucap Aron, memberikan secarik surat itu pada Manda.


"Iya, masuk akal juga apa yang kamu bilang. Emang isi suratnya apa?" tanya Manda meraih surat itu, dan mulai membacanya. Bawa Lia pergi, jangan rawat dia kalau kamu tidak mau aku hancurkan perlahan.


"KURANG AJAR!" ucap Manda kesal. "Kalau manajer kamu, apa bubungan dia dengan Lia, bukannya dia punya anak kecil juga yang baru sakut kemarin?" tanya Manda.


"Entahlah aku juga tidak tahu, ini yang harus kita cari tahu."


"Apa kita lebih baik lapor polisis sekarang" ucap Manda.


"Iya, tapi kita hanya bisa lapor soal ancaman ini, dan kalau kehilangan apa bisa langsung di proses" ucap Aron.


"Kita lapor polisi dulu, soal Lia kita cari bersama, ambil di bantu polisi perlahan." ucap Manda. "Oya, sekarang aku pergi dulu, kamu di sini sebentar saja"


"Kamu mau kemana?" tanya Aron.


"Nanti aku kasih tahu" ucap Manda, berlari sambil kenggendong Duke menuju ke bagian receptionis.


"Permisi, aku mau tanya apa kamu melihat ada yang mencurigakan tadi masuk ke dalam kantor" tanya Manda.

__ADS_1


"Gak ada nyonya, gak ada tamu kecuali para client" ucap receptionis.


"Benar kata Aron" batin Manda. "Oya boleh gak jika aku bertanya lagi"ucap Manda.


"Iya boleh"


"tadi manajer keluar gak dari sini, terus ada hal yeng mencurigakan seperti seorang membawa anak." ucap Manda.


"Iya, tadi aku melihat manajer Nayla keluar dari kantor, katanya mau pergi beli makanan untuk anak angkat nyonya, tapi dia sendiri tadi"


"Makasih" ucap Manda yang langsung berlari menghampiri Aron. Ia tabu sekarang, gak.mungkin jika manajer itu melakukan rencananya sendiri, pasti ada orang lain di balik semuanya. Dan dia pura-pura keluar dari depan, dan senagaj lewat pintu brlakang dulu pastinya, batin Manda dalam hatinya.


"Kita pergi sekarang, masuk kembali dan bertanya ke manajer wanita itu" ucap Manda.


"Kita gak bisa langsung nuduh dia kalau bukan tanpa bukti" ucap Aron.


"Aku punya beberapa bukti, kita juga bisa lihat dari cctv perusahaan" ucap Manda.


"Kenapa aku gak kepikran itu tadi" ucap Manda.


"Udah sekarang aku periksa di cctv, dan kamu di sini saja sama Duke ya" ucap Aron, berlari menuju ke ruang cctv, ia mencoba cek setiap gerka-gerik para karyawannya saat jam meeting. Dan benar apa yang di bilang Manda. "Ini dia bawa Lia lewat pintu belakang" gumam Aron.


"Kamu buka cctv di jalan belakang kantor" ucap Aron.


"Semoga Lia baik-baik saja" guman Aron.


Ke khawatiran Aron terhenti saat ada telepon. Di tatapnya ponselnya, ada telepon dari Manda. Ia segera mengangkatnya.


"Syang cepat kamu kemari" Teriak Manda dengan nada tergesa-gesa.


"Ada apa?" tanya Aron.


"Udah cepat datang, di luar kantor sekarang " teriak Manda mematikan telfonnya seketika.


"Kamu kenapa? kelihatanya bingung gitu?" tanya Al, yang kebetulan mau ke kantor Aron.


"Al, kebetulan kamu lewat, tolong aku dulu cepat tolong ikuti dia" ucap Manda khawatir, Manda belum mematikan teleponnya hingga Aron mendengar semua apa yang di bicarakan.


"Siapa yang berani membuat keluarga kecilku terganggu" gumam Aron kesal, menggengam tangannya erat. Ia segera berlari menuju ke luar kantin menghampiri Manda.


"Ada apa? Di mana Duke?" tanya Aron, yang melihat tak ada Duke di dekapan Manda.


"Duke di bawa, naik mobil, tadi ada teman aku yang membantuku menhikuti dia. Sekarang kita cepat pergi dan ikuti dia" ucap Manda dengan tetesan air mata khawatir membasahi pipinya.

__ADS_1


Aron menarik tangan Manda segera masuk ke mobil, ia langsung mengemudi dengan kecepatan tinggi. "kamu hafal plat mobilnya?" tanya Aron, yang semakin mempercepat laju mobilnya.


"Itu di depan"


"Baiklah, kamu pegangan yang erat, aku akan memotong jalannya langsung. Tapi di depan sudah ada teman kamu" ucap Aron.


"Sepertinya dia sudah bisa menghentikan mobil itu" ucap Manda, menatap teman lelakinya itu.


Shiiiittt.. ijakan rem Aron membuat Manda terpental, namun Manda tak masalah, ia segera turun berlari menghampiri Duke di tangan penculik.


"Lepaskan dia" teriak Manda.


"Aku akan lepaskan dia, asalkan kamu kembalikan Lia anak aku" ucap lelaki yang mendekap tubuh kecil Duke.


Aron yang berjalan dari belakang, ia sangat hati-hati mencoba membebaskan Lia, yang tetlihat dalam mobil. Di ikat dengan tali, dengan mulut tertutup.


"Syang, ini papa" ucap Aron segera melepaskan semua talinya dan penutup mulut anaknya itu.


"Papa!" ucap Lia, memeluk Aron erat. Tubuhnya gemetar hebat, Aron segera membawa masuk ke dalam mobilnya. Dengan segera membebaskan Duke dari sandera lelaki kejam itu.


"Tolong lepaskan dia" ucap Manda yang tak hentinya terus menangis.


"Tolong lepaskan dia?" tanya Al, yang tadi bertemu Manda berteriak di depan kantornya.


Aron memberi kode pada Al, agar ia segera meraih anaknya. Dan soal penjahat itu akan jadi urusan dia. Al berjalan perlahan, mencoba membujuk lelaki itu. "Aku akan bantu kamu mendapatkan anak kamu" ucap Al.


"Kamu bohong" ucap lelaki itu.


"Aku gak bohong" ucap Al, berjalan sangat hati-hati, meraih Duke dalam sandera dekapan lelaki itu. Dan...


"Buukkk." Aron menendang lelaki itu hingga tersungkur ke bawah.


"Siapa yang menyuruh kamu?" tanya Aron, duduk di atas punggung lelaki itu. Ia menarik tangannya ke belakang punggung.


"Aku gak di suruh" ucap lelaki itu.


"Jangan bohong, aku tahu kamu di suruh kan?" bentak Aron. "kalau kamu gak jujur, aku akan membuat kamu jauh lebih sakit dari ini. Atau kamu mau masuk penjara dan membusuk di penjara.


Manda segera meraih Duke di gendongan Al, ia memeluk anaknya utu erat. Tidak bisa di bayangkan jika dia kehilangan anaknya itu. "Apa manajer Nayla yang menyuruh kamu?" tanya Manda dengan nada kesalnya.


"Iya, dia dan satu wanita yang tidak aku kenal. Dari bahasanya sepertinya bukan orang sini. Dia berbicada dengan bahasa Italia" ucap lelaki itu, yang terus meringis menahan sakit.


Tak lama polisi datang, dan segera nenangkap lelaki itu. Sesuai perintah Aron. "Dan tangkap juga manajerku" ucap Aron pada polisi.

__ADS_1


__ADS_2