
Aron berdiam diri bersandar di ranjangnya dengan tatapan kosong. Hingga berjam jam ia masih tetap sama tak berkutik sama sekali dari tempatnya. Bahkan untuk berdiri pun rasanya sangat berat.
" Manda Maaf" pungkas Aron dengan wajah nampak lesu.
" jika kamu mau balas semua perbuatanku silahkan aku akan menunggumu" gumam Aron melanjutkan ucapanya.
Aron mencoba berdiri meski badanya masih sempoyongan. Ia membantingkan Badanya ke ranjang empuk di sampingnya.
Ia memejamkan matanya sejenak mencoba menenangkan fikiran yang semakin membuat ia tambah gila dan frustasi. Hanya minuman yang menemaninya saat ini di kala ia benar benar menyesal dan sendiri.
" Aron??"
Suara yang terdengar sangar familiar di telinga Aron.
" Sindy!! Apa itu benar kamu" Pungkas Aron. Matanya tak bisa terbuka lebar hanya bayangan samar samar ia melihat senyum Sindy yang terlihat jelas di pandangnya.seolah dia membelai lembut rambutnya membuat ia semakin tertidur lelap.
" kamu harus relakan aku pergi. Lupakan aku, dan bukalah hatimu untuk wanita lain.agar aku bisa tenang di alam sana. Aku hanya berpesan padamu jagalah Manda jangan sakiti dia. Orang tuanya udah kamu bunuh. Maka dekatilah dia berilah kasih sayang dengannya. Nanti dialah yang akan menjagamu dan menyangimu. Dan suatu saat kamu akan sadar jika dia sangat berarti bagimu" Pungkas bayangan Sindy yang tiba tiba menghilang begitu saja.
Tak lama suara ketuk pintu terdengar jelas namun Aron tak sanggup lagi tuk berdiri tubuhnya terasa sangat lemas. Matanya susah untuk terbuka lebar.
" kRekkk.." merasa tak ada jawaban dari Aron. Jack segera membuka pintu kamarnya.
" Aron.." Pungkas Jack berlari mendekati Aron.
Hanya sebuah senyuman untuk menyapa kedatangan Jack di depannya.
" J..a..ck!!" Ucap Aron terpatah patah.
" Apa yang terjadi, kenapa kamu minum sebanyak itu" pungkas Jack mencoba memapah Aron untuk berdiri. Tubuhnya sudah tak berdaya lagi Jack segera membawanya keluar dari rumah menuju ke rumah sakit terdekat di sana. Kondisi Aron terlihat sangat mengkhawatirkan. Bahkan tangan dan kakinya banya bekas luka akibat pecahan botol yang ia minum. Sekujur tubunya terlihag sangat pucat.
Sudah 2 hari sejak Manda terbaring tak sadarkan diri karena ulahnya. Aron terus minum dan mengurung diri di dalam kamar.
Meski terkadang ia mengintip di balik pintu untuk sekedar ingin tahu keadaan Manda.
Jack tak pikir panjang ia segera melarikan Aron ke rumah sakit. Karena kondisinya sudah semakin lemah tak sadarkan diri. Ia membawa Aron ke UGD.
#Manda POV
__ADS_1
Kesha mengantar Manda masuk ke dalam kamar miliknya.perlahan ia membuka pintu kamarnya Vino dan Manda sontak terkejut melihat ada beberapa paus berada dalam kamar.
Pasti kalian bisa bayangin sendiri gimana ekspresi Vino saat terkejut membuat Kesha tertawa kecil.
" apa kamu gila Sha. Kenapa taruh ikan Hiu di dalam kamar" Pungkas Vino mengernyit takut bersembunyi di balik tembok.
" paus apa Hiu" Pungkas Kesha mencoba memberi pertanyaan pada Vino.
" terserahlah mau paus atau hiu lumba lumba kek. Tapi ini di kamar Sha apa gak berbahaya bagi Manda" Ucap Vino nampak sangat serius.
Kesha menarik tangan Vino melempar tubuhnya masuk ke dalam. " Kalau benar ikan Hiu lihat kamu di makan gak" Pungkas Kesha dengan senyum tipis.
Vino memberanikan diri meski agak takut ia mencoba memegang lantai tersebut yang ternyata hanya lantai 3 dimensi. Namun terlihat seperti nyata membuat ia bergidik ketakutan.
Vino menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Tersenyum tipis ke arah Kesha.
" gimana??" Tanya kesha mengangkat alisnya ke atas.
Manda melihat mereka tersenyum kecil. Hubungan mereka sangat harmonis dan sama sama lucu. Membuat ia tak berhenti tersenyum meski ia tak bisa tertawa lepas setidaknya ia bisa senyum untuk menghilangkan masalah sejenak.
" Hehe.. ya udah sekarang Manda cepat masuk aman kok tenang saja" Ucap Vino menggantikan kesha mendorong kursi roda Manda.
Meskipun ada rasa jeles dalam hati kesha namun ia tetap yakin pada perasaannya.
" Baiklah, lagian kalian juga butuh waktu untuk berdua sejanak. Hampir satu tahun lebih bukan waktu yang lama untuk hubungan jarak jauh. Jadi gunakan waktu untuk berduaan. Aku juga ingin sendiri dulu di sini" Pungkas Manda bersandar di ranjangnya.
Kesha menatap ponsel di tangannya.
" Manda ini ponsel buwat kamu, aku punya lebih dari satu jadi jika kamu ada apa apa bisa hubungi aku ya" pungkas Kesha.
Vino hanya terdiam takjub pada Kesha dia sangat baik pada Manda ia mau dengan tulus merawat Manda dan sekarang ia memberikan ponselnya untuk Manda.
Manda hanya terdiam ia ingin menerima tapi ia takut merepotkan kesha. Dia sudah erlalu baik padanya mau merawatnya bagi Manda sudah cukup karena ia sudah tak punya keluarga lagi. Dia juga tidak mungkin pulang ke rumah kakaknya.
Kesha menarik tangan Manda meletakkan ponselnya di telapak tangan manda.
" udah ini terima, di sini udah ada nomor ponselku dan Vino kamu bisa hubungi kita" Ucap Kesha seolah ia tahu jika Manda takut untuk menerimanya tapi sehendaknya jika ia punya ponsel bisa menghubungi kesha dan Vino.
" Baiklah. Makasih" Ucap Manda dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
" Ya sudah kita pergi dulu ya..bye.." Kesha menarik tangan vino keluar namun pandangan Vino masih terarah pada Manda di belakangnya .
" Aku senang bisa melihat senyumu lagi" batin Vino terus memandang ke arah Manda.
Manda berdiam diri menatap ponselnya. Ia masih bingung gimana cara ia memakai ponsel itu ia tak begitu paham apalagi baru pertama kali ia mempunyai ponsel.
Manda menyalakan ponselnya. Menggeser geser menu di ponsel yang tak bergitu ia pahami.
Ia membalik balikan ponselnya melihat secara detail bentuk ponsel itu ada tombol lain atau tidak.
" ini gimana cara pakainya untuk telfon" gumam Manda. Mencoba perlahan membaca satu persatu menu di ponsel itu dan mulai membukanya.
" panggilan" Ucap manda mengejah abjad di ponsel barunya.
" Pasti ini buwat telfon kan?" Gumam Manda mencoba untuk telfon Kesha.
Tak lama kesha menerima panggilan dari Manda.
" haduh gimana nih matiinnya" Manda terlihat sangat gugup hingga tanganya gemetar membuat ponselnya seakan loncat loncat.
" hallo Manda"
" hallo Manda" ucap Kesha namun Manda terlihat masih sibuk sendiri dengan ponselnya.
" iya ... iya..." Jawab dia dengan nada gugupnyaa.
" Kamu kenapa Manda?? " Kesha nampak sangat khawatir.
" gak papa.. hanya gak bisa matiinnya"
Kesha menepuk jidadnya seketika " haduh Manda hari gini gak bisa pegang ponsel. Udah biar aku yang tutup telfonya. Nanti aku ajarin" Pungkas kesha mencoba menutup telfonya.
" akhirnya mati juga" Gumam Manda menghela nafasnya nampak lega.
Tiba tiba senyum di wajahnya pudar seketika. Ia teringat tentang Aron .entah kanapa ia sangat Khawatir padanya. Ingin menghubunginya namun kesha gak mungkin simpan nomor Aron di ponselnya.
Hatinya sekana di aduk aduk penuh rasa khawatir. "Apa dia baik baik saja" Gumam manda lirih.
" argggg.. ngapain juga aku perduliin dia. Sekarang aku harus lebih tegas lagi" Gumam Manda.
__ADS_1
" Kamu harus semangat Manda jangan lembek terpengaruh kelembutan dia lagi. Kali ini aku tidak akan pernah percaya lagi dengannya" Manda terus berdecak sebal mencoba memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Ia mengehela nafas sejenak untuk melupakan Fikirannya tentang iblis Aron itu. Ingin sekali ia tak mau berhubungan dengan Aron tapi saatnya nanti ia harus membalas semua dan rela gak rela masuk ke dalam dunia Aron lagi.