
Selesai dari rumah Manda. Vino mengikuti Kesha pergi ke
rumahnya diam-diam. Ia memang sengaja mengikuti dia. Vino tidak mau jika Kesha
tahu dia mengikutinya, bisa marah besar nanti. Kesha sekarang juga lebih keras
kepala dari biasanya, ia lebih suka menjauh dari Vino, memendam perasaanya
dengan Vino dari pada harus mengungkapkanya.
Langkah Kesha terhenti, ia terdiam sejenak. Memutar matanya,
dengan penuh was-was.
“sepertinya ada yang mengikutiku” gumam Kesha memegang
dagunya. Menoleh ke belakang cepat, beberapa detik. Lalu kembali menatap ke
depan.
Gak ada siapa-siapa di belakang, ataiu tadi aku hanya
halusinasi. Huff.... mungkin hanya perasaan aku saja. Pikir Kesha.
Ia segera masuk ke dalam rumahnya dengan langkah semakin
cepat, memberi tahu keluarganya jika Manda sudah lahiran. Dan anak mereka
laki-laki semuanya.
---
Di balik tembok depan rumah Kesha, Vino bersembunyi,
mengusap dadanya. Menarik napasnya lega, Kesha tidak melihatnya tadi.
“Untung saja gak ketahuan. Lebih baik aku masuk ke kamar
Kesha langsung dari samping” ucap Vino, ia segera masuk ke halaman rumah Kesha
dan menuju ke samping rumahnya.
Dengan langkah sangat hati-hati, ia berjalan mengendap-endap
menempelkan punggungnya di tembok rumah bernuansa putih itu.
“Vino melihat balkon kamar Kesha, segera naik ke atas
menggunakan tangga yang kebetulan berada di dekat pohon besar depannya. “Kebetulan
sekali ada tangga menyandar di pohon” gumam Vino dengan raut wajah bahagianya. “Memang
Tuhan, bekehandak jika aku mendekati Kesha. Tuhan berpihak pafdaku Kesha, dan
kamu gak akan bisa pergi dariku lagi” lanjutnya penuh percaya diri, ia bergegas
manaiki anak tangga menuju ke balkon kamar Kesha.
Pintu kamar Kesha terbuka, ia mencoba untuk masuk ke dalam.
Duduk di ranjangnya sambil menunggu Kesha balik ke kamarnya. Ia mencoba melihat
seisi ruangan kamar Kesha. Banyak buku novel koleksi Kesha, dan berbagai buku
lainya.
“Sejak kapan dia suka baca buku novel ya? Kenapa aku gak
pernah tahu sebelumnya?” gumam Vino, menarik bibirnya dengan otak mencoba untuk
berpikir keras.
“Kamar yang nyaman” gumam Vino, mengambil bantal di ranjang,
memeluknya erat. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, merentangkan ke
dua tanganya, dengan pandangan menatap ke atap langit kamar Kesha.
Ckleeekkk...
Suara pintu terbuka , sontak membuat Vino seketika duduk
kembali, dan menatap ke sumber suara.
Aaaaaa... Kenapa kamu di sini?” Kesah menutupu tubuhnya yang
hanya terbalut dengan handuk.
Vino beranjak berdiri, menutup mulut Kesha. “ jangan
berteriak, nanti mama kamu datang” gumam Vino.
Kesha mentap tajam ke arah Vino, melepaskan tangan vino di
mulutnya.
“Lebih baik aku teriak,, Biar mama aku ngusir kamu dari
sini!!” ancam Kesha.
“Eh.. Jangan-jangan, kalau kamu teriak lebih baik aku paksa
kamu sekalian. Biar nanti mama dan papa kamu datang dia melihat kita berduaan
di dalam kamar. Dan besok kita langsung menikah” ucap Vino menggoda. Ia
__ADS_1
berjalan mendekati Kesha, membuiat gadis itu sontak melangkahkan kakinya mundur
ke belakang, dengan wajah nampak sangat was-was.
“Sebenarnya apa mau kamu? Apa kamu gak bosan jika
terus-terusan mengikutiku. Aku sudah bilang aku gak mau meni...” Vino menarik
kepala Kesha, mengecupnya, membuat mulut Kesha terdiam seketika. Gadis itu
terus meronta, memukul punggung Vino. Vino tetap pada penderiannya, ia gak mau
melepaskan wanita miliknya itu.
Merasa sudah puas, Vino melepaskan kecupannya, dan.
Plaakkk..
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Vino. “ Dasar gila!!”
ucap kesal Kesha. Mengusap bibirnya dengan punggung tanganya berkali-kali.
“Iya, aku memang udah gila karenamu. Meskipun kamu
menamparku seribu kalipun. Aku gak akan menyerah untuk mendapatkan kamu lagi.
Kamu itu milikku dan hanya milikku Kesha” ucap Vino, kembali duduk di ranjang
Kesha.
“Pergi dari sini!!” ucap Kesha memelankan suaranya.
“Aku gak akan pergi dari sini” ucap tegas Vino.
“Aku bilang, pergi dari sini”
“Enggak!!”
“PERGI!!” Kesha semakin meninggikan suaranya satu oktaf.
“hehe.. jangan marah, aku hanya ingin main di sini, kenapa
wajah kamu serius begitu?” ucap Vino, dengan senyum tipisnya.
Kesha menarik napasnya, mencoba mengatur napasnya yang masih
ngos-ngosan.
“Aku mau pakai baju, kamu pergi dari sini” ucap Kesha.
“Kenapa harus pergi” Vino beranjak berdiri , melangkah
mendekati Kesha dan berbisik.
Seketika Kesha menguntupkan bibirnya kesal, ia memainkan
rahangnya. “Tutup mulutmu, jangan bahas tentang itu lagi” jawab Kesha, menatap
tajam ke arah Vino.
“Baiklah, oya boleh aku baca-baca buku kamu?” tanya Vino,
mencoba mebgambil salah satu buku miliknya.
“terserah, tapi kamu pergi dulu” ucap Kesha, membalikkan
tubuh Vino, mendorongnya pergi menjauh.
“Aku gak mau pergi, aku akan tetap di sini. Bukannya kamu
bisa pakai baju di dalam kamar mandi kan” ucap Vino, menarik alisnya ke atas.
Kesha menarik napasnya dalam-dalam. Gimana bisa ia harus
menghadapi laki-laki seperti dia. Vino membalikkan badannya melemparkan
tubuhnya di atas ranjang Kesha.
“Kenapa kamu malah tidur di situ, Vino!!” Kesha menundukkan
badanya lemas.
“Udah sekarang kamu epat andi, apa kamu mau tetap seperti
itu?” tanya Vino. “Tapi kalau seperti itu terus, ya. Gak masalah juga, aku bisa
melihat pemandangan tubuh kamu” Vino tersenyum tipis dengan kedipan menggoda.
Kesha mengambil bantal di ranjang dan melemparnya ke arah
Vino. “Dasar otak mesum” ucap Kesha kesal.
“Siapa yang mesum, aku itu hanya biasa saja bilang seperti
itu. Tapi hanya dengan kamu, dan aku gak pernah seperti ini dengan wanita lain.
Bagi aku kamu yang paling aku perlakukan spesial”
“Udah gak usah banyak bicara, kalau kamu mau tidur di sini
nanti silahkan. Aku mau tidur di kamar sebelah. Dan ingat jangan ganggu aku
lagi, aku benar-benar sudah lelah, kamu terus mengikutiku” ucap Kesha kesal, ia
menghentakkan kakinya, membalikkan badan menuju ke lemari, ia segera memilih
__ADS_1
baju dan masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mentap Vino sama sekali. Yang dari
tadi terus menatapnya, dan bola matanya tidak pernah berhenti memandang
punggung Kesha yang mulai menjauh dari pandanganya.
Vini, duduk bersandar di ranjang, dengan kaki lurus ke
depan, membaca buku yang ia ambil dari rak buku milik Kesha.
Tak lama Kesha keluar dengan gaun yang biasa ia pakai dulu,
ia berjalan dengan langkah yang masih terlihat kesal, berjalan menuju ke
cermin.
“Kamu belum pergi juga?” tanya Kesha, memandang Vino di
balik bayangan cermin. “Gak mau, aku akan tetap ada sini, menemani kamu. Dan
kapanpun aku mau bisa pergi sendiri.”
“terserah kamu!! Lagian siapa juga yang mau di temani kamu. Aku
bisa tidur sendiri gak butuh teman tidur,” ucap kesha yang sudah tidak mau lagi
berdebat dengan Vino, lebih lama. Yang hanya akan membuat ia menguras tenaga
karena terus emosi saat berada di depannya.
Vino, beranjak berdiri. Mengambil sisir yang ada di samping
mejanya. Vino memegang rambut Kesha.
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Kesha, menoleh ke
belakang.
“Udah diam saja, aku gak akan memegang kamu sama sekali”
Vino mulai menyisir helaian-demi helaian rambut Kesha.
wanita itu hanya diam, ia tersenyum memandang Vino dari balik
cermin. Gimana bisa ia melupakan Vino jika Laki-laki itu terus perhatian
dengannya. Semakin hari malah semakin dekat.
“kamu mentapku ya?” tanya Vino memastikan, ia melirik di
balik vermin depannya.
Wajah cantik Kesha terlihat sangat jelas meski hanya sebuah
bayangan di cermin. Tapi hati dan cintanya bukanlah sebuah baynagn. Namun,
cinta dalam hatinya sangat nyata, hanya saja ia tidak mau mengungkapkan. Dan
mengunci rapat-rapat hatinya.
“Siapa juga yang menatap kamu,” ucap Kesha kesal.
“tadi kamu senyum-senyum sendiri, menatap aku!!” ucap Vino
menggoda, dengan jemari tangan sangat lihai menyisir rambut panjang Kesha,
penuh perasaan.
“Sha, aku boleh tanya? Tapi jangan marah ya,” ucap Vino.
“Tanya apa” Kesha membalikkan badanya, mengambil sisir di
tangan Vino.
“Apa kamu benar mau menikah?” tanya Vino.
“Emangnya kenapa?”
“aku hanya tanya!!”
“Entahlah, aku gak tahu akan jadi nikah atau enggak, aku
bingung dengan perasaan aku sendiri.”
Seketika Vino meloncat kegirangan.”Yeaayyy... Yeaayy..”
Kesha mengerutkan keningnya, dengan pandnagan mata sedikit
menyipit. Menatap aneh pada laki-laki di depanya itu.
“Dasar aneh!!” ucap Vina, tersenyum tipis, entah kenapa
hatinya kini semakin tertarik kembvali dengan Vino, ia sudah tidak bisa
mnegucapkan kata menolak, jika Vino mendekatinya.
Vino memegang ke dua tangan Kesha, dengan ke dua pandangan
mata saling tertuju
“Makasih, aku tahu kamu itu masih mencintai aku, perasaan kita
itu masih sama. Dan aku yakin, jika kita nantin akan segera menikah. Dan nyusul
kak Aron mempunyai anak kembar yang gemesin”
__ADS_1