
Selesai membereskan semua sisa pesta pernikahan Vino dan Kesha. Manda berdiam diri di kamarnya, hari ini Duke dan Lia tidur dengan ke dua adiknya. Di kamarnya, dengan terpaksa Manda dan Aron nantinya harus lebih mengalah tidur di bawah.
Manda mulai membayangkan gimana pernikahan, yang sangat megah di hadiri tamu undangan. Pasti akan terasa sangat menyenangkan. Dan hari ini ia merasa iri dengan mereka berdua.
Manda melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamarnya, menatap sisa dekorasi pernikahan Vino yang masih tersisa.
Pernikahan mereka sangat beruntung. Aku belum pernah menikah seperti itu dengan Aron. Sampai kita punya anak juga masih tetap sama. Belum pernah bersanding berdua di tengah para tamu.
Manda tersenyum, membayangkan dirinya dengan Aron berada di tengah kerumunan para tamu.
"Andai waktu bisa berputar, mungkin aku tidak mau bertemu dengan Aron. Dengan cara paksaan. Aku ingin merasakan indahnya masa pacaran bersama degannya," ucap Manda.
"Syang!! Kamu di mana?" tanya Aron, di balik pintu kamarnya, ia mulai membuka pintu.
"Syang!! hari ini sangat melelahkan ya," ucap Aron, yang baru masuk ke dalam kamarnya, ia melangkahkan kaki mauk ke dalam kamar. Ia memutar matanya melihat sekelilingnya, hanya nampak anak-anak mereka yang sudah tertidur lelap. Pandangan mata Aron Tertuju ke balkon kamarnya. Ia tersenyum, melangkahkan kakinya,mendekati Manda. Memeluk tubuhnya dari belakang.
Manda memegang ke dua tangan Aron yang melingkar erat di perutnya. "Kalau memang lelah, sekarang istirahat, syang!!" ucap Manda.
"Aku gak mau, aku mau temanmu kamu dulu di sini syang!!" ucap Aron, semakin mempererat pelukannya.
"Jangan terlalu erat, aku gak bisa napas, syang!!" ucap Manda.
Aron menyandarkan dagunya di pundak Manda. "Kenapa kamu gak istirahat? Apa kamu gak kangen denganku?" tanya Aron, menatap ke arah di mana Manda memandang.
Manda menautkan ke dua alisnya heran, dengan pertanyaan aneh Aron.
"Bukanya setiap hari kita bertemu, kenapa kangen?"
"Yang aku maksud kangen belaian lembut, sentuhan tanganku." Aron, mengusap perut Manda semakin ke bawah. Membuat Manda sontak terkejut, dengan sentuhan tiba-tiba Aron.
"Syang!! Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Manda.
Aron hanya tersenyum, menyingkap gaun selutut yang di kenakan Manda.
"Syang, malu jika di lihat orang!!" ucap Manda, mencoba menarik roknya.
"Gak ada orang syang! Udah diamlah, nikmati saja. Bukanya kamu terus memandang dekorasi di depan, ya!!" gumam Aron, mengecup leher Manda.
"Emmm.. Syang!! Keluarkan tangan, kamu!" ucap Manda.
"Gak mau!!"
"Ya, sudah aku marah sekarang!" gumam Kesal Manda.
Aron menarik tangannya, dan kembali memeluk erat pinggang Manda. "Jangan terus menatap ke depan," bisik Aron.
__ADS_1
"Kenapa? Aku ingat pernikahan adik kamu, sangat bahagia syang!!" ucap Manda. Memegang ke dua tangan Aron, mengusapnya lembut.
"Kamu iri dengan pernikahan mereka?" tanya Aron.
Manda menarik sudut bibirnya tipis.
"Iya, mungkin aku orang yang tidak berun...."
Aron menutup mulut Manda. "Jangan terusakan, kamu sangat beruntung dari pada mereka. Bisa mendapatkan suami yang sangat tampan seperti aku" goda Aron, mencubit pipi Manda.
"Syang!!" Manda menoleh cepat, membuat ke dua mata mereka saling tertuju. Aron menyilakan helaian rambut Manda yang menutupi pandangan matanya. "Kamu cantik syang!! Aku beruntung mendapatkan kamu. Dan akulah orang yang paling bodoh, dulu pernah menyakitimu. menyakiti wanita yang benar-benar sangat tulus mencintai aku." ucap Aron lirih. Memegang pipi Manda, mengusapnya lembut.
Manda melingkarkan tangannya dileher Aron, dengan lengan menyandar di pundaknya. "Kamu itu ya!! Gemesin tahu gak!" ucap Manda membalas Aron, mencubit manja pipi suaminya itu.
"Aku juga sangat beruntung, mendapatkan suami seperti kamu. Rasanya aku ingin sekali setiap saat bersama dengan kamu syang, setiap detail, menit , jam dan hari. Aku tidak mau jauh dari kamu," ucap Manda. menarik tubuh Aron mendekat ke arahnya, membuat hambusan napas mereka saling berpacu.
Aron mententuh dagu Manda. "Lama-lama kemau semakin berani denganku?" Goda Aron, semakin kendekatkan pandangannya, hanya berjarak satu senti bibir mereka sudah saling menyatu.
"Bukanya kamu yang ajari aku semakin berani!!" ucap Manda, menatap ke bawah.
"Gimana kalau malam ini kita berduaan, syang!!" bisik Aron.
"Emmm... " Manda memutar bibirnya, menciba mempertimbangkan ucapan Aron. "Gimana, ya?"
"Syang, jangan berisik!! Nanti anak-anak bangun!!" ucap Manda.
Jemari tangan Aron mengusap lembut wajah Manda. Hingga perlahan mulai turun ke bawah, di bawah dagunya, membuat Manda menggeliat.
Aron mulai menarik selimut tebal yang kenutupi miliknya. "Syang, boleh, kan?" tanya Aron.
Manda hanya tersenyum, menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku akan bermain pelan, syang!!" ucap Aron, yang penuh semangat, melepaskan semua helaian kain yang menutupi tubuh Manda di balik selimut tebal, berwarna putih.
Mereka saling mencium, memeluk, mencengkram, menikmati permainan Aron yang sangat pelan, ia tidak mau membuat Manda kenapa-napa.
Mereka bergulat dalam selimut, berguling, bergatian posisi, Manda menutup mulutnya, agar anaknya tidak terganggu dengan aktifitasnya.
"Syang!! Jangan terlalu keras suaranya, nanti anak kita bangun!!" ucap Manda.
Aron langsung membuka selimutnya, menatap anaknya yang amsih tertidur lelap. "Semua sudah tidur, syang!! Jadi .
-----
Albert dan Vina Setelah selesai dengan pesta pernikahan yang sangat megah di sebuh gedung meilik keluarga Albert. Kini Vina dan Albert langsung menuju ke Roma untuk bulan madu, sebenarnya ia ingin ke Paris, tapi sang Istri Vina lebih memilik ke Roma untuk menikmati musim salju di sana, yang jarang sekali ada di sana. Dan Albert tak menolak ajakan istrinya, ia berencana untuk keliling 5 negara sekaligus bersama dengan Vina, sebelum Vina dan Albert kembali menjalani aktifitas barunya.
__ADS_1
Albert mengemudi mobil pribadanya, menuju ke rumah, mengambil beberapa pakaian untuk mereka kenakan.
"Albert, kita langsung berangkat sekarang?" tanya Vina.
"Iya, sayang."
"Lama gak?" tanya Vina, yang memang tidak pernah tahu perjalanan dari Paris ke Roma sama sekali.
"Kita naik pesawat, sekitar 15 jam. Atau kamu mau naik halicopte pribadi aku."
"Apa 15 jam?" tanya Vina melebarkan matanya, aku mau istirahat dulu di rumah aku cepek.
"Baiklah, besok saja kita berangkat. Lebih baik naik pesawat pribadi lebih aman," ucap Albert, memeluk tubuh Vina.
"Lagian gak ada kata bulan madu, kamu sudah bulan madu lebih dulu di Sydney dulu." ucap Vina, menatap wajah Albert yang sedang fokus nengemudi mobilnya.
"Kita akan menyewa hotel mewah di dekat pantai," ucap Alberta, mengusap pipi istrinya.
"Kamu serius?" tanya Vina.
"Kenapa tidak!!"
Albert segera mengambil ponselnya, dan mulai mencari nama asisten pribadinya dulu. Dan segera menghubunginya.
"Iya, Tuan!!"
"Siapkan hotel mewah di paris dekat pantai, aku ingin melihat pemandangan indah."
"Baik tuan!!"
"Dan siapkan semua sebagus mungkin. Kamu tahu maksud aku kan?" tanya Albert memastikan.
"Iya, tuan. Saya paham."
Albert tak membalas, ia memutuskan panggilan teleponnya. melemparkan ponselnya di paha Vina. Membuat gadi itu terkejut.
"Bawa ponselku!!" ucap Albert kembali fokus mengemudi lagi.
"Kamu tadi menghubungi siapa?"
"Kamu bisa buka ponselku, dan lihat sendiri. Aku gak mau jika kamu mebgira aku bohing nanti." gumam Albert.
Vina tersenyum menatap Albert.
Ternyata dia sangat percaya denganku, dia benar-benar jujur, dan tak mau menutupi semua yang ia lakukan. Bahkan aku di ijinkan memegang ponselnya.
__ADS_1